Motto Bhinneka Tunggal Ika memang bukanlah ciptaan Suharto, namun bisa dirunut sejarahnya sampai ke peradaban kerajaan Nusantara. Bhinneka Tunggal Ika diambil dari sebuah puisi yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dalam kitab kumpulan puisi berjudul Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kekuasaan kerajaan Majapahit atau sekitar abad ke 14. Sutasoma merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis dengan metrum.

Sampul Buku Sutasoma keluaran Departemen P&K tahun 1993.
Sumber: wikipedia.com

Kutipan ini diambil pupuh 139 bait 5 dari kitab Sutasoma, yang secara lengkap tertulis sebagai berikut:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahannya menurut edisi teks kritis oleh Dr Soewito Santoso:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran

Makna dari motto tersebut yang diterima secara meluas adalah ‘berbeda-beda namun tetap satu jua’, untuk menggambarkan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara secara geografis merangkul begitu banyak daerah yang memiliki adat kebudayaan berbeda-beda atau beragam. Namun adanya selama rezim Orde Baru, cara pemerintah untuk memperlakukan masyarakatnya menunjukkan adanya pergeseran makna dari motto nasional tersebut. Artikel ini akan menunjukkan bagaimana perbedaan yang ada dalam lingkup masyarakat diperlakukan dengan cara yang sangat tidak bijaksana dan malah semena-mena.

Dimulai dengan upaya untuk menghancurkan paham yang dianggap tidak sesuai dengan keberlangsungan kekuasaannya, yakni sosialisme dan komunisme. Upaya pelarangan yang dilakukan dengan cara berdarah-darah jelas-jelas merupakan sebuah bukti bagaimana pemerintahan rezim tidak menerima adanya perbedaan paham politik di antara masyarakatnya. Pandangan politik diarahkan pada satu pintu, yakni partai yang menjadi kendaraan politik utama Orde Baru, Golongan Rakyat, serta partai-partai lain yang berafiliasi dengan si kuning tersebut.

Kemudian seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya tentang Beras, (baca Mengenal Orde Baru: Beras) Suharto juga berupaya menyeragamkan selera lidah dan perut serta adat tradisional masyarakat Indonesia dengan menjadikan beras sebagai standar kemapanan, kemodernan dan kepatuhan terhadap program negara. Program ini terbukti memiliki pengaruh negatif jangka panjang terhadap beberapa aspek seperti sosial, budaya, bahkan pangan.

Gaya kepemerintahan yang militeristik juga berimbas pada perlakuan rezim terhadap suku-suku etnis yang belum tersentuh modernisasi. Banyak dari mereka yang harus menerima pemaksaan karena mempertahankan tradisi yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi. Pemaksaan tersebut tentu saja berujung dengan jatuhnya korban karena strategi represif yang lebih sering dipakai oleh rezim untuk membuat rakyatnya mengikuti program pembangunannya yang masif. Di saat yang sama, upaya tersebut bukannya menjadikan masyarakat bersatu namun malah meruncingkan etnosentrisme dan berujung menjadi kegiatan separatis yang memecah belah masyarakat.

Dalam kata lain, walaupun rezim Orde Baru selalu menunjukkan diri mereka sebagai pemerintahan yang Pancasilais dan nasionalis, sebenarnya mereka ingin mengaburkan perbedaan yang ada pada identitas dan kebiasaan masyarakat. Semua harus memiliki kiblat politik sama, semua harus makan nasi, semua harus mau menjadi kota modern; alias semuanya harus menurut pada perintahnya. Rezim Orde Baru tidak lain melakukan politik pecah belah yang dilakukan pada rakyatnya sendiri alias divide et empera ala penjajah kompeni yang sudah lama diusir dari tanah negeri.

Pengaruh dari strategi politik tersebut, bahkan bisa dibilang semakin memburuk akhir-akhir ini, karena keinginan untuk menyeragamkan tersebut kini masih berlaku di ranah politik dan agama. Buktinya tindak kekerasan seakan dilumrahkan untuk mencapai apa yang dinamakan ‘kesatuan umat’ yang sejatinya mengkhianati motto Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri.