Walaupun dengan semakin berkembangnya industrialisasi di Indonesia, rezim Orde Baru seringkali merasa risih dengan istilah ‘buruh’. Ada konotasi negatif yang disematkan pada beberapa kata dan frasa seperti buruh, massa buruh, atau organisasi buruh yakni komunisme, PKI, gerakan kiri; segala hal yang menjadi agenda rezim untuk diberangus sampai ke akar-akarnya. Sehingga bahkan semasa bercokolnya rezim tersebut, jarang sekali yang berani mengungkapkan kata-kata tersebut dengan lantang di depan umum.

Sejumlah buruh melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Provinsi DI Yogyakarta, Selasa (1/5/2012).
Sumber: tribunal1965.org

Tentu saja kuncinya ada pada Marx yang mendalami pemikirannya tentang dikotomi kaum buruh (proletar) dan kaum pemilik modal (borjuis). Ada antagonisme yang berlangsung dalam hubungan keduanya, karena dengan berdasarkan pada surplus ekonomi, pemilik modal memeras kemampuan dan kapasitas buruh untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya yang pada akhirnya pun tidak akan dinikmati oleh buruh itu sendiri. Dengan semakin banyaknya surplus yang diperoleh, kekayaan yang dipunyai pemilik modal akan semakin banyak dan bisa mereka gunakan untuk ekspansi kapitalnya. Sedangkan di sisi lain, buruh akan terus menerus dimiskinkan dan dieksploitasi, juga tersiksa namun tidak mendapatkan pembelaan bahkan atas harga dirinya sebagai seorang manusia yang punya hak dasar untuk mengembangkan kemampuan individual. Hal tersebutlah yang mewarnai pergerakan kelas antara proletar dan borjuis dalam kerangka berpikir Marx.

Di Eropa, dengan sejarah revolusi industri yang menggulingkan tradisi masyarakat feodal, buruh menjadi suatu golongan yang tertindas di bawah pemilik modal. Persatuan dan pergerakan buruh yang lahir sebagai upaya untuk melawan kesewenang-wenangan yang diwakili oleh partai komunis dan sosialis demokrat. Sedangkan di Indonesia yang notabene pernah menjadi basis partai komunis ketiga terbesar di dunia, para tokoh-tokoh sosialis dan komunis sempat berjaya di bawah komando Sukarno yang memang pro kiri. Namun keadaan politik berubah haluan menjadi anti komunis dan segala hal yang berkaitan sampai dikait-kaitkan pun turut dijadikan subjek propaganda semenjak rezim Orde Baru bangkit tak lama setelah peristiwa G30S.

Karena buruh memiliki kedekatan dengan komunis, Orde Baru memiliki istilah lain yang lebih ‘kanan’ untuk merujuk mereka yang bekerja di bawah kekuasaan pemilik modal, yakni ‘karyawan’. Padahal sejatinya buruh dan karyawan pun tidak ada bedanya, mereka masih merupakan bagian dari antagonisme kelas bawah dan atas yang berusaha melawan eksploitasi namun juga tidak mampu jika harus kehilangan sumber penghasilannya. Pergantian istilah itu digunakan semata-mata hanya untuk melanggengkan kekuasaan rezim Orde Baru yang memang mendukung penjajahan atas warga negaranya sendiri demi kepentingan dan kekayaan kelas atas.

Kita pasti ingat dengan cerita Marsinah, seorang buruh perempuan yang hilang lalu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa setelah melayangkan tuntutan kenaikan upah. Kejadian tersebut terjadi di masa pemerintahan Orde Baru, dan sampai sekarang bukanlah hal yang aneh jika mereka yang menjadi pimpinan dalam gerakan buruh dimusuhi atau mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari atasan mereka. Di samping itu, PHK atau pemecatan masih menjadi mimpi buruk yang bisa mengancam siapa pun yang bekerja di dalam cengkeraman pemilik modal.

Dalam kata lain, jika merunut dalam sejarah Indonesia, bagaimana rezim pemerintah melihat dan membela buruh, diawali dengan keberpihakan Sukarno pada kaum proletar lalu disusul dengan sifat antipati rezim Orde Baru terhadap buruh yang komunis sehingga melahirkan impunitas atas kekerasan dan penindasan yang diterima buruh, apa yang ada saat ini pun merupakan warisan dari rezim sebelum reformasi. Karyawan, buruh, atau apapun itu namanya, terutama yang bekerja di lapangan seringkali memang dipinggirkan dan tidak didengarkan. Walaupun istilah buruh sudah sering digunakan lagi dan tidak disangkutpautkan dengan komunisme, namun pemahaman masyarakat akan pentingnya perhatian terhadap hak mereka dalam hemat saya masih sering dibatasi, dan buruh masih saja menjadi pihak yang terintimidasi dalam drama antagonisme kelas.