Hampir dua dekade sejak Suharto lengser dari kursi kepresidenannya, media seakan belum muak untuk menjadikan Keluarga Cendana sebagai subjek berita. Mulai dari kasus pidana yang membelit mereka, sampai yang sifatnya urusan pribadi seperti pernikahan dan perceraian. Memang harus diakui betapa kuatnya pengaruh keluarga besar Suharto itu, bahkan setelah mereka dianggap ‘tidak lagi memiliki kekuatan politik‘.

Mungkin tidak banyak yang tahu mengapa kerabat hubungan darah Suharto diberi nama ‘Keluarga Cendana’. Sebenarnya Cendana adalah nama jalan yang terkenal di kawasan perumahan elit di Menteng, Jakarta Pusat. Alkisah saat Suharto masih menjadi jenderal namun sudah mendapatkan kekuasaan yang luar biasa untuk pengendalian negara yang kemudian berbuntut menjadi kudeta pemerintahan Sukarno, ia bertempat tinggal di Jl. Haji Agus Salim. Namun setelah posisinya di panggung politik semakin pasti, ia pun pindah ke Jl. Cendana no. 8.

Tidak berlebihan rasanya jika kediaman Suharto dan keluarganya di sana disebut sebagai Istana Cendana. Karena setelah sang raja menempati jalan tersebut, para anak cucunya berbondong-bondong menggusuri penghuni jalan di sekitar area tersebut. Sehingga dalam waktu yang cenderung cepat pun daerah tersebut telah menjadi Kerajaan Cendana, yang tidak bisa dipisahkan dari kiprah konglomerasi Suharto sebagai seorang penguasa negara.

Suharto bersama istri dan keenam anaknya (Sumber: wikipedia)