Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciduk merujuk pada benda untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa atau bahan lain yang bertangkai. Kita pun mengenal benda yang dipakai setiap hari ini dengan istilah yang beragam menurut bahasa daerah. Bahkan pada Bahasa Jawa saja, ada lebih dari satu istilah, seperti cibuk dan siwur. Tetapi sejatinya artikel ini tidak akan membahas etimologi kata ciduk secara linguistik. Yang akan dibahas adalah penggunaan kata ‘ciduk’ yang sempat menjadi salah satu istilah hits semasa rezim Orde Baru.

Para tahanan politik yang diciduk di Tangerang pada Oktober 1965. sumber: rotfuchs.net

Penggunaan istilah tertentu memang biasanya memiliki unsur semiotik, salah satunya ‘ciduk’ di masa Orde Baru. Ciduk tidak lagi berarti mengambil air, namun menangkapi calon tahanan. Lebih spesifik lagi, tahanan tersebut adalah para komunis bengis yang akan di-Pancasila-kan oleh pemerintah. Logikanya, saat menggunakan ciduk untuk mengambil air, pasti jumlah air yang didapatkan banyak, dan agaknya dengan logika itulah mengapa istilah ‘ciduk’ dipopulerkan selama rezim Orde Baru yang otoritarianis. Karena selama operasi pembersihan Komunis, penangkapan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang dipilih oleh pemerintah dan militer tidak dilakukan secara perlahan dan sedikit demi sedikit, namun seperti menciduk air atau ikan di kolam.

Orang-orang yang dituduh memiliki kaitan dengan peristiwa G30S, tergabung dalam partai komunis atau organisasi lain yang berafiliasi, atau yang diberi jebakan tuduhan lain seakan tidak lebih dari ikan-ikan kecil dalam arus aliran air kekacauan kehidupan politik dan masyarakat pada saat itu. Mereka diciduk dan diberi perlakuan lanjutan yang dianggap sesuai dengan klasifikasi ‘kejahatan’ mereka. Pilihannya secara umum hanya ada dua, yakni dipenjara atau dieksekusi. Dipenjara berarti merasakan siksaan fisik dan psikologis sedangkan dieksekusi berarti tidak diberi kesempatan untuk membela diri barang satu kata pun. Keduanya sama-sama bukan suatu perilaku beradab yang pantas dilakukan negara kepada rakyatnya sendiri.

Bahkan beberapa dari mereka yang diberi kesempatan untuk bisa bertahan dari proses luar biasa dari tahap cidukan sampai pembebasan masih harus menjalani kehidupan yang tidak mengenakkan, karena dihiasi dengan diskriminasi dan stigmatisasi, juga pembatasan hak azasi manusia dan hak sebagai warga negara. Dan ketidakadilan sosial pun masih terasa sampai sekarang, walaupun pelepasan tahanan politik yang diciduk sudah terjadi pada akhir 1970an.

Sekarang, dengan berakhirnya rezim tirani itu, walaupun kasus pelanggaran HAM belum diselesaikan sepenuhnya sesuai harapan, namun paling tidak kita sudah bisa mendapatkan akses yang lebih luas pada buku-buku yang mengisahkan kehidupan masyarakat yang pernah menjadi korban cidukan pada masa-masa itu. Dari tulisan-tulisan itu kita bisa mengetahui apa yang coba disembunyikan oleh rezim Orde Baru. Dan istilah ciduk memang masih digunakan sampai sekarang, sering ditemui pada berita-berita kriminal untuk menyebut penangkapan pelaku kejahatan. Namun sepertinya konotasinya sudah tidak terlalu menyeramkan seperti dulu, karena dilakukan jelas berdasarkan pada tindakan pelanggaran dan ditangani berdasarkan hukum.