Saya masih ingat saat pertama kali ibu saya memasak sayur genjer untuk kudapan makan siang, jenis tanaman sayur yang namanya tidak diperkenalkan saat di sekolah seperti bayam atau kangkung. Tanpa diminta, ada sebuah kisah yang keluar dari mulut ibu saya sambil tangannya sibuk mengolah sayur tersebut. Cerita tentang sebuah lagu berjudul Genjer-Genjer yang ia sendiri sudah tidak ingat liriknya, cuma bisa mendehamkan irama dan nadanya.

Rupanya generasi sebelum saya dan ibu saya adalah pecinta sayur genjer dan lagu Genjer-Genjer. Sebagai keluarga yang menggantungkan penghidupan dari hasil pertanian, tanaman genjer menjadi salah satu kudapan yang mudah didapatkan pada saat itu. Agaknya hal ini juga dirasakan oleh sebagian besar keluarga di daerah Jawa yang kebanyakan merupakan komuni agraria. Selain itu, rupanya keluarga kami juga penikmat lagu Genjer-Genjer yang berbahasa Osing dan merupakan gubahan seorang Putra Banyuwangi.

Ibu saya mulai menyebutkan nama-nama anggota keluarga kami yang ia harap bisa kukenal, yakni mereka yang menemukan satu bentuk kesenangan tersendiri dari lagu tersebut. Antara lain seorang perempuan yang sering menyanyikan lagu tersebut dengan diiringi musik yang dilantunkan oleh salah satu paman saya yang pada kemudian hari ikut menjadi sasaran penangkapan pasca tragedi 65.

Saya menangkap adanya aroma-aroma nostalgia yang rasanya tidak akan mungkin terulang lagi dari cerita Ibu saya. Hal tersebut disebabkan tidak lain karena adanya pengubahan pemaknaan dari lagu Genjer-Genjer yang terjadi pada rezim pemerintahan Orde Baru, periode di mana lagu tersebut dimaktubkan sebagai suatu hal yang haram untuk dinikmati dan dinyanyikan.

Menurut sejarahnya, lagu tersebut dibuat untuk merepresentasikan kehidupan masyarakat Jawa yang mengalami kesulitan pangan karena penjajahan Jepang. Pada awalnya genjer yang merupakan salah satu jenis gulma di persawahan digunakan sebagai makanan ternak, namun kemudian dijadikan kudapan manusia karena terjadi perampasan beras dan bahan makanan oleh serdadu Jepang. Pembuatan lagu tersebut pada hakikatnya tidak berbeda dengan penciptaan karya sastra atau seni yang terinspirasi dari realitas kehidupan masyarakat kecil.

Pada tahun 1962, lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara Lekra Banyuwangi di hadapan beberapa petinggi organisasi dan PKI, termasuk Nyoto yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua III. Nyoto berpendapat lagu yang merakyat ini akan segera terkenal secara nasional, tidak lagi hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat Osing atau Jawa Timur.

Ternyata ramalan Nyoto benar-benar terjadi. Satu tahun kemudian, lagu ini dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryadi dan diperdengarkan melalui stasiun radio RRI dan stasiun televisi TVRI Jakarta. Lagu ini pun kemudian dinikmati oleh masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu bentuk kesenian yang diagungkan oleh kelompok dan organisasi kiri pada saat itu.

Namun kecintaan masyarakat terhadap lagu itu tidak bisa berlangsung lama, dikarenakan propaganda anti komunis yang digembor-gemborkan oleh pemerintah Orde Baru. Lagu tersebut dituding dinyanyikan oleh anggota Gerwani sambil menyayat, mencongkel mata, dan memotong kemaluan para jenderal di Lubang Buaya. Tidak berhenti di situ, rezim Orde Baru sampai begitu niat untuk mengubah lirik lagu Genjer-Genjer menurut versi mereka. Saya akan lampirkan liriknya sebagai berikut.

Lirik lagu Genjer-Genjer oleh Muhammad Arif (dalam bahasa Indonesia)

Genjer-Genjer bertaburan di pematang / Emak si buyung datang mencabut genjer / Setelah mendapatkan satu tenong lalu berhenti / Genjer-Genjer sekarang dibawa pulang //

Genjer-Genjer pagi-pagi dibawa ke pasar / Ditata dalam Ikatan lalu digelar / Emak si jebeng beli genjer mendapat tambahan / Genjer-Genjer sekarang harus dimasak //

Genjer-Genjer dimasukkan ke dalam kuali panas / Setelah setengah matang diangkat untuk lauk / Nasi di piring dan sambel jeruk di atas cobek / Genjer-Genjer dimakan bersama nasi//

Lirik lagu Genjer-Genjer versi Orde Baru (dalam bahasa Indonesia) seperti tercantum pada koran Harian Kami:

Jenderal-jenderal di ibukota tersebar / Emak Gerwani datang untuk menculik para jenderal / Dapat satu truk, membelakangi yang menoleh ke kanan dan kiri //

Jenderal-jenderal sekarang sudah tertangkap / Jenderal-jenderal pada pagi hari di siksa / Dibariskan, diikat, dan dihajar//

Emak Gerwani datang semua untuk menghajar / Jenderal-jenderal maju lalu dibunuh//

Walaupun lirik lagu gubahan rezim Orde Baru itu menurut pengamatan saya tidak bisa mengungguli ketenaran dari Genjer-Genjer yang asli, namun tidak bisa dikatakan pemaknaan terhadap lagu itu masih sama setelah Suharto naik ke tampuk kekuasaan. Keberhasilan propaganda Orde Baru terlihat dari bagaimana lagu yang sebelumnya dianggap mampu menceritakan kembali perjuangan rakyat bertahan hidup di tengah penjajahan asing tiba-tiba dipercaya sebagai lagu yang laknat karena menjadi iringan pada tragedi Lubang Buaya. Banyak kalangan masyarakat yang kemudian terpengaruh oleh propaganda tersebut, walau tidak sedikit pula yang tidak mempercayainya begitu saja atau terus menerus mempertanyakannya.

Salah satunya adalah ibu saya yang pernah menjadi pendengar langsung dari versi asli lagu Genjer-Genjer yang dipentaskan oleh anggota keluarganya sendiri di kediaman kami, sebelum tragedi 65 dan sebelum penangkapan dan pemenjaraan massal menimpa keluarga kami. Ia masih terus bertanya bagaimana bisa produk kesenian yang ia anggap sebagai ‘lagu rakyat’ itu kemudian diafiliasikan dengan kejahatan komunisme, terutama Gerwani. Di tengah kesibukan logikanya yang terus menerus mempertanyakan hal tersebut, ia memperkenalkan pada saya seperti apa rasa sayur genjer itu.

Dan kemudian pun saya beranggapan perkenalan dengan sayur genjer itu lebih dari sekedar memenuhi keinginan ibu saya agar lidah saya tahu bagaimana rasa makanan tersebut. Namun juga menceritakan ulang satu potongan sejarah yang tidak dinarasikan melalui pelajaran di sekolah, tentang kepahitan yang terus menghantui golongan masyarakat yang dikalahkan, baik oleh penjajahan asing maupun penjajahan oleh bangsa sendiri.