Serumit narasi sejarah yang meliputi peristiwanya, istilah yang dibuat untuk merujuk peristiwa berdarah di September 1965 pun tidak bisa dibilang sederhana. Kita mungkin familiar dengan sejumlah istilah, seperti G30S/PKI, G30S, Gestok, dan juga Gestapu. Agaknya cukup penting untuk memahami sejumlah istilah tersebut, karena beberapa di antaranya diciptakan dengan kepentingan tertentu oleh pihak-pihak tertentu.

Setelah peristiwa di Lubang Buaya terjadi, Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta menyiarkan nama dari kejadian tersebut pada pagi 1 September 1965, tepatnya pukul 07.15 WIB, sebagai ‘Gerakan 30 September’. Istilah itu kemudian oleh media massa untuk memberitakan peristiwa tersebut, dan disingkat dengan G-30-S atau G30S.

Sementara itu, istilah Gestapu (akronim dari Gerakan September Tiga Puluh) baru muncul ke permukaan setelah TNI Angkatan Darat di bawah komando Suharto (saat itu bergelar Mayjen) turun tangan. Sukarno menunjuk Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat yang tugasnya termasuk “untuk dan atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Panglima Besar Revolusi agar mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi.”

Pencetus istilah Gestapu adalah Brigjen R. H. Sugandhi, kepala Penerangan Staf Angkatan Bersenjata dan pimpinan koran Angkatan Bersenjata, yang sempat memberikan briefing beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa G30S. dalam briefing tersebut ia mengatakan bahwa PKI sedang menghembuskan kabar tentang adanya Dewan Jenderal. Pembuatan istilah Gestapu tersebut tentu bukan hal yang tidak sengaja atau tanpa kepentingan.

Sebagai bagian dari angkatan bersenjata yang terhormat, tentu saja Brigjen R. H. Sugandhi berupaya menciptakan sebuah narasi yang menguatkan bahwa peristiwa pada 30 September 1965 didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Istilah Gestapu berhubungan dengan nama polisi rahasia resmi bentukan Partai Nazi Jerman, Geheime Staatspolizei, yang disingkat dengan Gestapo. Lalu apa tujuan sebenarnya penciptaan istilah Gestapu tersebut?

Selama Perang Dunia II, Gestapo memainkan peran penting dalam melakukan pembunuhan massal terhadap pemeluk agama Yahudi di Eropa. Bersamaan dengan Sturmabteilung (SA) dan Schutzstaffel (SS), Gestapo menjadi organisasi yang paling ditakuti pada saat itu. Para anggota Gestapo biasanya melakukan interogasi yang disertai dengan kekerasan terhadap orang-orang yang dipercayai beragama Yahudi. Dengan cara kekerasan tersebut mereka bisa mendapatkan informasi lebih banyak terkait orang-orang yang memeluk agama Yahudi.

Dan Brigjen R. H. Sugandhi merasa perlu memberikan bumbu terhadap istilah netral yang sebelumnya telah disiarkan oleh RRI Jakarta. Karena ia beranggapan kuat PKI berada di balik peristiwa G30S, ia menciptakan istilah Gestapu dan mengaitkan kejahatan anggota PKI dengan tindakan yang dilakukan oleh anggota Gestapo pada masa Perang Dunia II. Sementara itu, Nugroho Notosusanto sebagai sejarawan kawakan pada periode Orde Baru menggunakan istilah G30S/PKI dalam sejumlah karya-karyanya, termasuk Buku Putih. Tujuannya pun sama, yakni membentuk narasi yang menunjuk pada keterlibatan PKI dalam peristiwa berdarah tersebut.

Baca juga: Mereka yang Disayat-Sayat

Istilah Gestapu pada perkembangannya juga digunakan oleh sejumlah peneliti luar negeri yang membahas salah satu babak sejarah besar Indonesia tersebut. Beberapa di antaranya adalah Arnold C. Brackman (1969), Donald E. Weatherbee (1970), William Nicholas Bentivegna (1975). Bahkan beberapa buku yang diterbitkan pada periode sepuluh tahun terakhir juga masih menggunakan istilah tersebut (Victor M. Fic, 2005; Michael Leifer, 2013; Cheung-On Andrew Lo, 2017).

Pada awalnya sejumlah peneliti luar tersebut mungkin hanya ikut-ikut saja dalam memilih istilah Gestapu. Namun publikasi-publikasi lebih terbaru bisa dicurigai memang memiliki kecenderungan mendukung narasi militer tentang peristiwa 30 September 1965. Hal tersebut dikarenakan sudah begitu banyak penelitian dan publikasi yang berusaha menggunakan istilah yang lebih netral, seperti G30S atau Gerakan 30 September; mengingat kerumitan yang meliputi peristiwa tersebut.