Sebenarnya sebelum Orde Baru melancarkan propaganda tentang hantu komunisme, sesuatu yang diwariskan sampai hari ini, hal tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan ideologis masyarakat Eropa di abad ke-19. Sebagaimana dituliskan oleh Marx dan Engels sebagai pembuka Manifesto Partai Komunis, “(a)da hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme.” Kemunculan kelompok-kelompok radikal dianggap oleh Marx dan Engels sebagai upaya untuk mengusir hantu tersebut.

Penciptaan hantu komunisme sebenarnya juga pernah terjadi di Amerika Serikat. Fenomena yang saat ini lebih dikenal dengan McCarthyism tersebut merupakan bukti bagaimana ketakutan masyarakat dibentuk oleh pemerintah dan komunisme dijadikan sebagai kambing hitam. Sejumlah individu dan kelompok ditangkap dengan tuduhan menyebarkan ajaran komunisme dan dianggap mengancam patriotisme terhadap negara.

Baca juga: McCarthyism a la Orde Baru

Sementara itu, komunisme dikonstruksikan sebagai hantu yang terus bergentayangan di Indonesia selama puluhan tahun. Sampai hari ini, buah pikiran tersebut digambarkan sebagai sebuah misi jahat untuk menjatuhkan kedaulatan bangsa dan negara. Selama rezim Orde Baru, kelompok militer terus menerus menarasikan hal tersebut demi kelanggengan militerisme dan kemenangan mereka mereka merebut kekuasaan. Lawan-lawan politik pun dengan mudah dijatuhkan dengan tuduhan sebagai antek komunis.

Di samping kekerasan fisik, verbal, dan seksual yang dialami oleh korban kejahatan kemanusiaan 65–66, Orde Baru telah melakukan kejahatan intelektual dengan mengonstruksikan paham dan orang-orang yang dianggap berhubungan dengan komunisme sebagai kejahatan. Sama halnya belum berujungnya upaya penyembuhan bangsa dari kekerasan kemanusiaan, imbas dari propaganda hantu komunis pun masih bertahan sampai sekarang.

Baca juga: Mengenal Orde Baru: Genosida

Sampai hari ini, masih banyak kasus penangkapan yang didasari dengan tuduhan penyebaran ajaran komunisme yang diatur dalam Tap MPRS No. 15 Tahun 1966. Perampasan buku-buku yang dianggap membahas komunisme pun masih sering dilakukan oleh militer. Tokoh-tokoh pensiunan tentara yang kini menduduki posisi strategis di pemerintahan seakan memiliki kewenangannya sendiri untuk menurunkan wacana kebencian terhadap suatu hal yang sudah hancur.

Bahkan di level yang lebih rendah, tudingan-tudingan negatif komunis yang dilontarkan masyarakat–baik di lingkungan sekitar maupun dunia media sosial–masih sering “dilumrahkan”. Dalam ceramah-ceramah agama dan pengajaran di bangku sekolah pun, komunisme dijadikan sebuah diskursus kontra agama yang perlu dijauhi. Belum lagi perkara “komunisme baru” yang bergentayangan di tengah glorifikasi sistem demokrasi.

Hantu komunisme terus menerus direproduksi oleh sejumlah pihak yang ingin melanggengkan zona nyaman dalam kontestasi narasi pro-komunisme dan anti-komunisme. Sebagai konsekuensinya, komunisme tidak lagi dipandang sebagai sebuah -isme yang dapat dipelajari atau dikritik dalam ranah akademis. Kejahatan intelektual pun terus terjadi sampai hari ini dengan mematikan nalar dan menghidupi rasa takut.