Semasa Suharto menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Indonesia, hampir tidak pernah ada hari tanpa kemunculan wajah Harmoko di layar televisi, terutama siaran TVRI. Ia pernah benar-benar mencapai kejayaan karier dengan menjadi Ketua Umum Golkar, Menteri Penerangan, Ketua DPR dan Ketua MPR. Di tengah puncak kariernya, nama Harmoko sempat menjadi guyonan masyarakat Indonesia yang menjadikannya sebagai akronim dari HARi-hari oMOng KOsong.

Harmoko pada peringatan ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia tahun 1989

Guyonan tersebut bukanlah candaan tanpa dasar, namun sebenarnya merupakan bentuk sindiran bagi Harmoko yang dikenal sangat patuh terhadap Suharto. Saat menjabat sebagai Menteri Penerangan, ia mencetuskan Kelompencapir atau Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa yang merupakan siaran “cerdas cermat” petani dan nelayan di TVRI. Acara tersebut konon mendatangkan petani dan nelayan berprestasi dari berbagai daerah untuk diuji pengetahuannya tentang cara bercocok tanam yang baik, pengetahuan tentang pupuk, atau teknik yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.

Penayangan acara tersebut tentu saja merupakan bagian dari propaganda Orde Baru berkaitan dengan keberhasilan pemerintah untuk menjamin kesejahteraan petani dan nelayan, serta memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia secara umum. Kelompencapir digadang-gadangkan menjadi salah satu program yang berhasil mengantarkan Indonesia menyabet penghargaan swasembada beras dari FAO pada 1984.

Baca juga: Mengenal Orde Baru: Beras

Pameo sinis nama Harmoko juga dapat dibaca sebagai kejemuan masyarakat atas kemunculannya yang mendominasi di TVRI dan RRI. Selama menjabat sebagai Menteri Penerangan, Harmoko mengisi layar televisi selama berjam-jam setelah tayangan Dunia dalam Berita. Dalam tayangan konferensi pers yang berlangsung selama beberapa jam tersebut, Harmoko menjabarkan (baca: membual) tentang stabilitas harga, prestasi pemerintah di bidang ekonomi, sampai statistik tingkat ekspor dan impor. Ajaibnya, angka-angka yang disebutkan oleh Harmoko sama sekali tidak pernah menunjukkan penurunan, selalu surplus dan menggembirakan.

Harmoko memang memiliki kemampuan berkomunikasi di depan umum yang baik. Ia dikenal mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan tanpa kelihatan gegabah atau menyeramkan. Hal tersebut kemungkinan besar didukung oleh kariernya sebagai wartawan dan sempat menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia. Alhasil, ia dikenal sebagai salah satu corong Suharto dan Orde Baru yang bisa dibilang paling berhasil.

Pada tahun 1997, Harmoko diangkat sebagai ketua MPR yang kesepuluh. Perannya yang paling diingat selama menjadi ketua MPR adalah persetujuannya untuk mengangkat Suharto sebagai presiden untuk keenam kalinya pada Sidang Paripurna DPR/MPR 10 Maret 1998 yang dipimpinnya. Konon saat mengetuk palu untuk mengesahkan keputusan tersebut, gagang palu yang dipakai Harmoko terlepas dari gagangnya. Pada satu kesempatan, Harmoko mengiyakan bahwa peristiwa tersebut adalah firasat dari akhir karier Suharto.

Pasca runtuhnya Orde Baru, Harmoko lebih dikenal sebagai seorang “pengkhianat” karena perannya di penghujung karier Suharto sebagai presiden. Setelah mengangkat Suharto sebagai presiden, ia malah menjadi penentu keputusan pengunduran diri Suharto pada 21 Mei 1998. Di tengah kerusuhan massa yang berlangsung di sejumlah tempat di Indonesia dan kepungan demonstran di gedung DPR/MPR, pada 18 Mei 1998, Harmoko meminta di depan publik agar Suharto mundur dari jabatannya karena tidak ada lagi dukungan dari masyarakat. Wajahnya pun kemudian tidak lagi muncul di layar televisi dan pameo “hari-hari omong kosong” semakin jarang terdengar.

Baca juga: Benang Merah Mei 1993-1998-2019

Harmoko muncul kembali di hadapan publik saat menjenguk Suharto yang sempat dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, sebelum meninggal dunia pada 27 Januari 2006. Sebelumnya, Harmoko sudah sempat dibicarakan oleh masyarakat karena setelah Suharto dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, hanya ia orang terdekat mantan presiden tersebut yang belum datang menjenguk. Kemunculannya kemudian tentu saja menarik perhatian wartawan yang langsung menyerangnya dengan sejumlah pertanyaan, termasuk keberadaannya selama ini. Masih dengan gayanya yang tenang, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengelak bahwa ia telah sepenuhnya mundur dari dunia politik dan mengaku berada di “balik layar”.