Selama ini kita telah hidup bersama fad namun tidak -atau mungkin- kurang mengenalnya. Di samping itu, saya belum menemukan terjemahan yang sepadan dari kata fad dalam bahasa Indonesia, sehingga saya akan membahasnya dengan menggunakan istilah aslinya dalam bahasa Inggris.

Fenomena fad bisa dianggap sebagai suatu bagian dari budaya karena berkaitan dengan perilaku kolektif (collective behavior) yang berkembang pada suatu generasi atau kelompok sosial. Impuls dari fad cenderung diikuti dengan sangat antusias oleh anggota generasi atau kelompok sosial tersebut dalam periode waktu yang cukup singkat. Contoh berikut akan lebih mudah menjelaskan apa itu fad.

Walaupun belum terlalu digemari di Indonesia, mainan fidget spinner telah menjadi fad di belahan dunia lain, terutama Amerika Serikat dengan menjadi mainan yang paling laku dijual di Amazon, sebuah situs perbelanjaan daring berbasis global. Mainan tersebut sebenarnya cukup sederhana namun berhasil menarik perhatian massa -terutama anak-anak- dengan waktu yang cukup cepat, didukung dengan semakin luasnya jaringan teknologi dan komunikasi dengan internet dan media sosialnya. Bahkan beberapa sekolah dilaporkan telah melarang siswanya membawa mainan tersebut atau memainkannya di dalam kelas, karena dianggap mengganggu proses belajar.

Atau contoh lain yang lebih mudah untuk ditemui adalah sepatu roda dan slime. Hampir semua keponakan saya yang berusia sekolah dasar ‘keranjingan’ bermain sepatu roda dan/atau slime, mereka merengek ke orang tua agar dibelikan mainan tersebut. Perlu dicatat bahwa mereka semua telah mendapatkan paparan teknologi yang cukup banyak, dalam artian ada dari mereka yang bahkan memiliki akun Youtube untuk mengunggah vlog mereka sendiri, dan mempunyai kemampuan dan kegemaran untuk mengakses media sosial tanpa diawasi orang tua. Dan saat ditanyai darimana mereka mengetahui tentang slime dan sepatu roda, mereka menjawab dengan nama situs-situs sosial media yang sedang populer saat ini seperti Instagram, Facebook dan Youtube.

Saya masih ingat keponakan-keponakan saya itu sampai ‘berbisnis’ slime antar sekolah, dengan menjadi produsen dari mainan tersebut dengan pelanggan yang berasal dari luar sekolah mereka, yakni pada sekitar akhir tahun 2016 sampai awal tahun 2017. Namun saat ini slime sudah tidak lagi memikat, digantikan dengan sepatu roda yang dimainkan hampir setiap sore, bahkan sampai membawa mereka ke perlombaan.

Perlu diingat bahwa tulisan ini tidak bertujuan untuk mengkritisi apakah slime, fidget spinner atau sepatu roda itu bermanfaat bagi para pelajar berusia muda (young learners), karena saya tidak punya cukup pengetahuan dalam bidang tersebut. Namun saya hanya ingin sekedarkan memperkenalkan fad yang benar-benar terjadi namun tidak dipahami dengan baik.

Kita perlu memahami bahwa semua objek yang sudah saya sebutkan di atas tidak bisa begitu saja menjadi bahan pembicaraan semua orang, -atau paling tidak orang-orang yang aktif dalam jaringan maya- karena pasti ada pendorong yang menyebabkan fenomena fad tersebut. Fad bisa meliputi banyak hal, seperti mainan, pakaian, gaya rambut, makanan, dan lain-lain. Antusiasme yang diberikan pada fad biasanya sangat tinggi namun singkat, karena fad secara mendasar berkaitan dengan keunikan, kebaruan, dan ketenaran; sehingga saat kebaruannya tidak lagi signifikan suatu fad akan kehilangan antusiasme dalam waktu yang cukup cepat. Pendorongnya adalah strategi pemasaran dan tuntutan sosial.

Strategi pemasaran berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan produsen  untuk mendistribusikan suatu komoditas sehingga mendapatkan untung sebesar-besarnya. Bentuknya bisa meliputi penggunaan selebritis dan media massa dalam promosi. Sedangkan tuntutan sosial berhubungan dengan suatu kebutuhan individu atau kelompok untuk mendapatkan pengakuan publik akan eksistensi dan kemapanan. Didukung dengan media sosial, tuntutan tersebut dirasakan semakin besar dan mempengaruhi banyak aspek.

Banyak penulis yang menggunakan istilah fad dan trend secara bebas, memukul rata definisinya, padahal terdapat tiga dasar pembeda antar keduanya yakni: sebab naiknya suatu objek, periode inkubasi, dan lingkup. Jika fad cenderung berhubungan dengan hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan dasar (antara lain seperti mainan, gaya rambut) dan dipengaruhi oleh keinginan emosional untuk mendapatkannya; trend biasanya didasarkan oleh pemenuhan kebutuhan fungsional. Kemudian proses inkubasi adalah periode yang dialami suatu objek untuk mendapatkan perhatian dari publik, fad cenderung sangat cepat dikenal namun juga cepat dilupakan, dan berlaku sebaliknya dengan trend. Lingkup juga menjadi kunci pembeda antara keduanya, karena biasanya fad hanya mempengaruhi satu golongan atau kelompok misalnya anak-anak, atau daerah tertentu, sedangkan trend menyentuh berbagai lapisan dan kelas masyarakat di lingkup ruang yang lebih luas. Contoh dari trend adalah tas tangan yang merupakan objek fungsional dan antusiasme yang diberikan untuk objek ini tidak naik dalam waktu yang sangat cepat dan juga tidak hilang sampai saat ini.

Menurut hemat saya, dalam dunia yang terjaring seperti sekarang ini, dengan internet dan media sosial, fad akan berganti dengan lebih cepat daripada sebelumnya. Hal tersebut disebabkan mudahnya penyebaran informasi, dan tuntutan akan status sosial yang semakin tinggi. Namun paling tidak dengan memahami fenomena fad, kita akan lebih bijak dalam menentukan pilihan.