Sebenarnya saya bukan seseorang yang terlalu tertarik untuk membahas isu hubungan kasih-kasihan ke dalam tulisan, karena menurut sudut pandang pribadi saya menikah pun bukanlah suatu tujuan hidup utama bagi saya. Bahkan teman-teman yang mengenal saya dengan cukup baik sudah tahu kalau saya bukan tipe orang yang suka menggalaukan urusan percintaan. Namun apa yang saya lihat sekarang ini adalah fenomena ‘perpecahan ideologi’ yang terjadi di kalangan kawan-kawan seusia tentang suatu bahasan yakni Pernikahan.

Dalam hemat saya, yang belum dilakukan beberapa kawan adalah melihat isu ini dari sudut pandang yang lebih luas. Kenapa saya bisa berkata demikian, adalah karena saya sudah melalukan sedikit penelitian dengan membaca artikel-artikel tentang pernikahan, dan komentar-komentar yang disampaikan atas tulisan tersebut. Kebanyakan melulu tentang tepat tidaknya pilihan ‘menikah’ + ‘muda’ atau menikah di usia muda di zaman seperti ini. Mereka boleh saja menggunakan kerangka sistem agama atau aturan negara dalam membahas kepantasan menikah, namun ada yang terlewatkan, yakni bahwa kita sebagai bagian dari generasi ini adalah penghuni lingkaran sosial dengan segala penilaian dan aturannya.

Pertama, perlu dicatat bahwa fenomena menikah muda bukanlah suatu hal yang baru. Orang tua saya berasal dari generasi di mana lingkungan sosial mereka menganggap perempuan tidak perlu bersekolah terlalu tinggi karena yang dibutuhkannya hanyalah kemampuan untuk masak, macak dan manak (memasak, berdandan, dan melahirkan anak), dan saya sudah hapal dengan alur cerita yang mereka ceritakan tentang bagaimana menjadi anak muda di era tersebut. Dalam hal ini, saya berpendapat perkembangan masyarakat informasi -yakni masyarakat kita saat ini- memainkan peran penting dalam bagaimana fenomena menikah muda bisa menjadi perhatian dan cacian. Jika dahulu curhatan mereka yang tidak ingin menikah muda hanya bisa dituliskan di sebuah buku harian -jika mereka cukup beruntung untuk memilikinya- yang tidak terbuka sampai mati dan terbuang sebagai sampah generasi tua, kita sekarang terbiasa membagi segala hal kepada publik sehingga dengan mudah pula api menyala dan merambat. Karena itulah kenapa pada awalnya saya tidak mau ingin banyak komentar dengan fenomena yang sebenarnya sama lawasnya dengan konsep patriarki.

Sekarang izinkan saya menjelaskan apa yang saya maksud dengan melihat isu ini dari kacamata yang lebih luas, yakni dari lingkaran sosial, bukan hanya berkutat pada cincin melingkar atau pasangan yang bercumbu. Pernikahan -seperti yang sering saya bahas tentang gender- adalah suatu konstruksi sosial. Sulit untuk melacak kapan pertama kali pernikahan dilakukan dan siapa yang melakukannya untuk pertama kali. Sampai di sini saya ingin mengingatkan kembali kepada pembaca bahwa saya tidak akan membahas tentang sejarah agama tertentu (terutama jika anda mulai ingin menjawab ‘Adam dan Hawa yang melakukannya pertama kali dengan saksi Tuhan’). Di saat yang sama, insting seksual merupakan salah satu aspek dari kebutuhan fisiologis yang dinyatakan oleh piramida kebutuhan manusia Marlow di samping kebutuhan akan makanan, air, dan tidur.

Seks, bukan pernikahan. Jika diartikan secara radikal, maka manusia tidak akan bisa hidup tanpa pemuasan seks -bisa dalam bentuk apapun seperti hubungan seks homo/heterogen, atau tunggal seperti masturbasi- namun masih bisa hidup tanpa menikah, karena seks adalah kebutuhan fisiologis manusia. Di sinilah kita harusnya bisa melihat Pernikahan sebagai suatu agen sosial yang mencoba mengendalikan atau membatasi insting seks manusia tersebut. Maka sekali lagi pernikahan adalah suatu konstruksi sosial.

Sekarang posisikan diri kita sebagai anggota dari masyarakat sosial yang memiliki insting seksual. Harusnya, secara substansial, kita sebagai manusia bisa memuaskan hasrat seksual kita dengan mudah seperti layaknya kita bernafas, makan, minum, atau buang air. Namun rupanya tidak semudah itu jika kita sudah berada dalam lingkungan sosial: kita harus menikah dulu sebelum melakukan hubungan seksual. Menikah secara agama, menikah secara hukum, atau menikah secara apapun, yang penting tidak bisa asal berhubungan badan.

Lalu apa yang bisa disimpulkan? Jika pembaca jeli melihat fenomena sosial ini, maka kita semua akan tersadar bahwa baik yang menikah muda ataupun menikah tua, atau bahkan mereka yang memiliki penilaian baik/buruk atas menikah muda atau menikah tua, secara fundamental adalah korban konstruksi sosial!

Dan perlu dipahami pula, terlepas dari apakah tujuan menikah itu, stigma sosial akan selalu mengikuti. Menikah muda dianggap tidak bijak, menikah tua dianggap terlalu idealis; belum lagi nilai-nilai seperti menjadi istri dan suami ideal jika memutuskan untuk menikah, dan juga dianggap tidak laku jika memutuskan untuk tidak menikah. Sampai pada hal ini, yang ingin saya tekankan adalah mengapa kita, para generasi berusia 20an sekarang harus terpecah secara ideologi hanya karena fenomena pernikahan? Keprihatinan akan hal tersebutlah yang akhirnya membuat saya berbicara tentang hal ini. Kita semua adalah korban, kenapa tidak membuat lingkungan masyarakat yang lebih menerima dan toleran?