Saat ini saya sedang menunggu terbitnya cetakan kedua Buku Harian Keluarga Kiri untuk meneruskan keinginan saya untuk berbagi cerita pengalaman yang dialami oleh keluarga kami yang dianggap kiri, terutama kakek yang pernah dibuang ke Pulau Buru, juga kehidupan yang dijalani oleh nenek, ibu dan saudari-saudarinya di Malang yang ditinggal oleh kepala keluarganya. Saya sempat menyampaikan di buku tersebut bahwa sebenarnya bukan hanya kakek yang pernah menjadi tapol Orde Baru, namun juga paman saya.

Pengalaman paman saya mungkin bisa dibilang lebih tragis walaupun lama penahanannya tidak selama kakek saya, karena saat ditangkap dia hanyalah seorang mahasiswa kedokteran hewan. Sebenarnya kalau tidak dicakup, dia akan menjadi lulusan kedokteran pertama di keluarga besar, namun memang nasib berkata lain. Sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya yang orang tuanya juga memiliki lahan sawah cukup luas di dekat kampus, seringkali saat membantu mengurus sawah ia berharap dalam hati agar tidak bertemu dengan kawan kuliahnya. Bagaimana pun ia masih seorang mahasiswa dengan ego dan idealisme mudanya, gengsi kalau ketahuan macul di sawah.

Pada tahun 1960an, dua kubu organisasi ekstra kampus yang paling digemari oleh mahasiswa adalah GMNI dan HMI. Paman memiliki ketertarikan di bidang politik dan menceburkan diri ke dalam organisasi GMNI, menjadikan Sukarno sebagai sosok bapak bangsa dan pergolakan perjuangan kelas bawah seperti buruh dan petani menjadi agenda diskusi. Tentu pada saat itu paman saya menjadi salah satu pemuda dalam keluarga yang membanggakan dengan menjadi seorang mahasiswa kedokteran pertama yang juga aktif di organisasi mahasiswa, namun pada saat yang sama juga masih mau turun ke sawah membantu orang tuanya.

Saat G30S pecah, ia tidak berada di Lubang Buaya atau Jakarta atau daerah sekitar lain. Ia masih menjalani kehidupannya sebagai seorang mahasiswa tanpa ada keinginan untuk melakukan kudeta atau pembunuhan atas siapapun. Namun tiba-tiba tuduhan itu datang kepadanya dan kawan-kawannya di organisasi tersebut. Seakan tidak ada angin tidak ada hujan, ia pun dikotakkan, beberapa hari setelah pamannya juga ditangkap (ibu paman saya adalah kakak perempuan dari kakek). Penjara Lowokwaru menjadi saksi bagaimana begitu banyak orang di Malang ditangkap atas suatu peristiwa yang terjadi di Jakarta, hampir 900 kilometer jauhnya, yang sejatinya tidak diketahui oleh orang-orang tersebut.

Menjadi mahasiswa kedokteran pertama di keluarga dan kemudian dipenjara atas sesuatu yang tidak dilakukan atau bahkan sempat dipikirkannya, tentu tidak mudah untuk menjadi paman saya. Ada mimpi-mimpi dan idealisme muda yang terhempas oleh dorongan tangan gempal para serdadu. Ada ketakutan yang menelisik jiwa seorang anak pemuda yang tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi dalam kehidupannya. Dalam diamnya kala itu ia mencoba melogika tuduhan yang disandarkan padanya dan anggota GMNI lain; bahwa mereka telah bekerjasama dengan PKI untuk melakukan kudeta atas pemerintahan Sukarno dengan membunuh beberapa tokoh jenderal penting di ibu kota negara. Tuduhan itu tidak masuk di akal. Logikanya, kenapa organisasi pemuda yang menganut Marhaenisme -ajaran yang dicetuskan Sukarno- harus berupaya untuk menjegal bapaknya sendiri? Dan PKI pun pada saat itu sudah punya basis kekuatan yang sangat besar untuk bisa masuk ke dalam pemerintahan, kenapa pula harus melakukan upaya kudeta yang berdarah-darah yang jelas-jelas akan menjatuhkan wibawanya?

Namun pertentangan logika itu terkubur dalam pikirannya, tidak sampai terucap oleh bibirnya, karena kehidupan di penjara begitu asing dan keras, tidak seperti bangku kuliah yang menjadikannya optimis. Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati. Namun nama baru siap menjadi judul dari raga yang belum lelah berjuang.

-bersambung ke Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orde Baru (bagian 2-tamat)