Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati.

Setelah keluar dari penjara, tidak berarti bahwa kehidupan paman saya kembali seindah dulu. Dengan matinya nama Matali, itu berarti ia tidak bisa meneruskan pendidikannya yang sudah sampai tingkat 3. Paling tidak jika dianggap namanya bersih, ia harus mendaftar lagi dan menjalani kuliah dari awal. Namun itu jika nama barunya bersih, karena jika melalui screening terbongkar bahwa di ‘kehidupan sebelumnya’ dia pernah menjadi seorang tahanan yang kemudian karena suatu keberuntungan bisa keluar dari penjara dengan dibunuh secara administratif, maka ia tidak akan pernah bisa mencoba lagi.

Walaupun sudah lepas, kebebasan itu tidak akan pernah kembali utuh bagi eks-tapol Orde Baru, karena memang agenda rezim pada saat itu tidak berhenti pada membunuh atau memenjarakan orang-orang yang dituduh anggota, berafiliasi, atau mendukung PKI, namun sampai pada pembatasan atau bahkan pencabutan hak-hak mendasar lain seperti pendidikan atau layanan umum.

Yang dilakukan paman saya kemudian adalah tetap menjaga dan membaca diktat-diktat kuliah yang sempat dibawanya ke kelas dulu. Di samping itu, ketertarikannya di bidang politik juga tidak padam begitu saja. Ia mengaku sampai sekarang masih suka menyendiri di kamar, (terutama setelah kematian istrinya setahun lalu) lalu membuka tiga buah buku kesukaannya untuk dianalisis, bukan lagi sekedar dibaca; yakni buku kumpulan tulisan Aidit, karya-karya Marx, dan Alkitab. Ia suka mencari tahu apakah ada benang merah sosialisme yang terjalin di antara ketiga karya tersebut.

Ia juga masih terlibat dalam sebuah NGO yang aktif mendiskusikan hukum agraria di Indonesia yang dianggap belum mampu mensejahterakan petani dan seringkali dibuat atau diamandemen untuk menuruti kebutuhan penguasa. Bahkan sekarang saat rambutnya sudah putih dan menjadi seorang duda yang tinggal sendirian di rumah, ia mengisi waktunya dengan pergi ke luar kota dan menjadi narasumber di organisasi tersebut. Terakhir kali berjumpa dengannya, ia berpesan denganku, “kalau jadi pembicara, harus tegas!”

Iya, menjadi cucu dan keponakan eks-tapol memang harus berani dan tegas. Bahkan dalam lingkaran keluarga besar saya seperti seorang alien yang memilih untuk mendengarkan pembicaraan mereka saja. Menjadi orang pertama yang berkuliah sastra -sedang yang lain melulu teknik dan ekonomi- dan hanya satu-satunya dari total 25 cucu yang mau sibuk menolak lupa dengan kenyataan bahwa keluarga kami memang keluarga kiri.