Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

Media sosial pun harus diakui telah menjadi salah satu wadah penampung aspirasi masyarakat, terutama terkait pemilihan umum presiden dan wakil presiden serta jajaran pemerintah lain pada April 2019. Salah satu fitur dalam media sosial, yakni tagar, menjadi strategi yang digunakan oleh para pengguna media sosial; baik yang mengidentifikasi diri mereka sebagai pendukung salah satu kubu maupun yang berpendapat menjadi bagian dari golput adalah pilihan terbaik. Namun tulisan ini akan terfokus pada pemakaian tagar dan implikasi yang ditunjukkan dari pemakaian tagar oleh mereka yang menjadi pendukung salah satu kubu yang akan bertanding di pemilu mendatang.

Baca juga: Mengenal Orde Baru: Golongan Putih

Tagar atau hashtag adalah sistem menandai metadata yang digunakan oleh media-media mikroblog yang memungkinkan penggunanya membuat kiriman dengan tema atau konten tertentu. Sistem penandaan ini juga memudahkan pencarian suatu tema atau konten di dunia Internet. Tagar telah menjadi salah satu fitur yang digunakan oleh para pengguna media sosial di Indonesia, terutama Instagram dan Twitter. Penggunaan tagar di Twitter oleh para pendukung calon presiden dan wakil presiden juga dijadikan salah satu indikator pembacaan animo masyarakat oleh badan-badan sensus, terutama yang terfokus pada fenomena penggunaan media sosial sebagai wadah aspirasi konten politik.

Pengamatan yang saya lakukan terhadap penggunaan tagar yang berhubungan dengan Pemilu Presiden 2019 tidak bersifat profesional atau terdata dengan sistematis. Namun agaknya pengamatan dengan mata awam pun dapat mengarah kepada analisis fenomena politik identitas menggunakan teknologi informasi berbasis Internet dan media sosial. Hal ini ditunjukkan dari penggunaan tagar yang cenderung bergeser dari fungsi dan tujuan aslinya. Politik identitas telah menjadi sorotan tersendiri bagi kalangan peneliti dan pemerhati fenomena sosial-politik di Indonesia, terutama berkaitan dengan maraknya demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam fundamentalis. Tetapi sesungguhnya fenomena politik identitas tidak hanya dapat dibaca dari penguasaan jalanan oleh massa tersebut, namun juga para pengguna media sosial.

Baca juga: Tunduk pada Kelompok Fundamentalis

Tagar tidak lagi berisi kata kunci yang merujuk pada satu konten untuk memudahkan pencarian oleh pengguna lainnya, namun mengandung nama atau istilah yang dijadikan sebagai identitas oleh kelompok tertentu. Hal ini dapat dikatakan sebagai fenomena politik identitas dalam ranah media sosial, karena penggunaan tagar telah dibumbui dengan kepentingan politik yang terfokus pada ‘perbedaan-perbedaan yang didasarkan atas asumsi-asumsi fisik tubuh, politik etnisitas atau primordialisme, dan pertentangan agama, kepercayaan, atau bahasa’ (Maarif, 2012). Definisi tersebut menunjukkan bahwa politik identitas cenderung mengesampingkan pencapaian persatuan atas beragam kelompok dan menekankan perbedaan serta segregasi.

Salah satu contoh tagar yang mengindikasikan kecenderungan politik identitas adalah #pendukungjokowi dan #pendukungprabowo di Twitter. Jika dilihat sekilas tanpa mau berpikir lebih jauh, kedua contoh tersebut tidak lebih dari sekedar tagar yang berkeliaran di jagat Internet. Tetapi sebenarnya kedua tagar tersebut menunjukkan adanya upaya pengguna media sosial untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan suatu kelompok yang berbeda dengan kelompok lain. Dan mereka merasa penting untuk menunjukkan identitas mereka tersebut di dunia maya dengan menggunakan tagar.

Belum lagi jika kita mau memeriksa lebih jauh bagaimana kedua tagar tersebut dan tagar-tagar lain sejenis digunakan secara memborbardir oleh beberapa pengguna. Dalam satu kiriman, mereka menggunakan beberapa jenis tagar atau mengulangi satu tagar untuk beberapa kali. Hal ini dilakukan untuk mencapai ‘tagar populer’ atau yang biasa disebut dengan trending. Keinginan untuk “menguasai” jagat Internet dengan tagar-tagar yang menunjukkan upaya membedakan diri dengan golongan lain tersebut merupakan indikasi lain yang mengarah ke fenomena politik identitas.

Baca juga: Sisi Gelap Pemilihan Umum

Berikut adalah contoh penggunaan sejumlah tagar yang terdapat pada satu kiriman pengguna Twitter (nama akun tidak disertakan).

Dan berikut contoh pengulangan satu jenis tagar dalam satu kiriman pengguna Twitter (nama akun tidak disertakan).

Menurut pengamatan saya, (sekali lagi tanpa sistem pendataan yang terstruktur dengan baik) salah satu kelompok pendukung lebih banyak dan lebih sering menggunakan tagar. Kelompok pendukung Prabowo tidak ragu-ragu menggunakan beberapa jenis tagar, mengulangi satu tagar di satu kiriman, dan bahkan memperbaharui jenis tagar untuk mereka pakai hampir setiap hari. Dan dengan begitu mudah tagar yang baru tersebar dan digunakan oleh para pengguna yang mengafiliasikan diri mereka dengan kelompok tersebut. Berikut ini adalah tagar terbaru yang dimunculkan pada hari Sabtu, 30 Maret 2019 oleh salah satu pengguna Twitter (nama akun tidak disertakan dan disensor).

Bahkan beberapa tagar yang digunakan oleh pendukung kubu Prabowo juga menunjukkan serangan langsung terhadap kubu Jokowi.

Tagar #JokowiTheErrorMan menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menggunakan fitur tersebut sebagai media untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok yang berseberangan pandangan politik.

Sementara itu, pengguna yang mengidentifikasikan diri sebagai pendukung Jokowi memiliki kecenderungan menggunakan tagar beragam namun tidak mengulangi tagar yang sama dalam satu kiriman. Tagar yang digunakan pun cenderung tetap, tidak ditemukan kecenderungan memperbaharuinya setiap kali ada isu baru muncul ke permukaan. Selain itu, belum ditemukan adanya tagar yang menyerang langsung kepada sosok Prabowo atau kelompok pendukungnya.

Sejumlah contoh yang diberikan di atas tentu saja hanya sebagian kecil dari fenomena penggunaan tagar di media sosial, terutama Twitter, yang berhubungan dengan pemberian dukungan masyarakat untuk calon presiden dan wakil presiden menjelang Pemilu 2019. Berdasarkan pembacaan terhadap sejumlah tagar yang beredar, terdapat kecenderungan yang ditunjukkan pengguna untuk tidak hanya menggunakan fitur penandaan tersebut untuk mempermudah pencarian konten atau tema. Tagar telah dimanfaatkan sebagai cara untuk menunjukkan identitas masing-masing kelompok dan menekankan perbedaan yang ada dari kedua kelompok tersebut.

Selain itu, pengulangan satu jenis tagar pada satu kiriman juga mengindikasikan keinginan satu kelompok untuk “menguasai” jagat media sosial. Kuantitas menjadi fokus perhatian tersendiri bagi kelompok tersebut, terlepas dari kualitas cuitan atau kiriman mereka (yang tidak akan dibahas dalam tulisan kali ini). Hal ini serupa dengan kecenderungan yang ditunjukkan oleh para peserta gerakan demonstrasi kelompok fundamental yang sering berusaha membuat publik tercengang dengan menyebutkan jumlah peserta demonstrasi. Padahal sangat besar kemungkinan beberapa orang yang turut dalam barisan tersebut tidak mengetahui akar permasalahan yang diangkat dalam gerakan tersebut.

Kembali pada judul yang saya gunakan untuk tulisan ini, para pengguna media sosial yang tergila-gila dengan tagar tersebut kebanyakan tidak lagi mementingkan visi dan misi yang disampaikan oleh calon presiden dan wakil presiden yang mereka dukung. Beberapa kiriman masih menyertakan penilaian mereka terhadap visi dan misi tersebut, namun lebih banyak yang cenderung melakukan “pemujaan” terhadap sosok yang mereka dukung. Penilaian kritis terhadap visi misi lebih banyak dilontarkan oleh para pengguna yang tidak mengidentifikasikan diri mereka dengan kelompok mana pun. Dan pembacaan terhadap fenomena penggunaan tagar alias politik identitas ini pun juga ditulis oleh seseorang yang tidak berafiliasi dengan kelompok mana pun.