Bagi para pembaca yang sudah pernah mempelajari perbedaan antara hal-hal yang sifatnya alamiah dan terkonstruksi dalam lingkaran sosial manusia tentunya akan menjawab dengan yakin bahwa menstruasi merupakan fenomena alamiah yang dialami perempuan. Secara biologis jawaban tersebut memang tepat, karena menstruasi pada perempuan didukung dengan ada dan berfungsinya organ-organ tubuh yang berhubungan dengan sistem reproduksi. Bahkan menstruasi pun tidak hanya dialami oleh manusia, namun juga binatang mamalia lain seperti gajah, tikus, hamster, babi, kuda, dan lain-lain, semakin menegaskan bahwa menstruasi secara substansial adalah suatu fenomena alamiah.

Di awal saya akan menjelaskan bahwa tulisan ini tidak akan membahas tentang usaha penyuntikan hormon estrogen atau penambahan organ reproduksi untuk menyebabkan menstruasi karena itu pun masuk dalam fenomena terkonstruksi, namun yang akan saya dalami di sini adalah suatu kerja biologis alamiah yang terjadi dalam diri individu perempuan dan bagaimana hal tersebut bekerja di lingkungan sosial.

Saya tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana binatang menghadapi siklus menstruasi mereka, ataupun pula bagaimana lingkungan sosial yang terbentuk dalam ekosistem mengenal ada yang namanya ‘suci’ dan ‘tidak suci’ yang disebabkan oleh keluarnya darah dari alat reproduksi binatang betina. Namun sebagai seorang manusia berjenis kelamin perempuan, pemberian label ‘suci’ dan ‘tidak suci’ merupakan suatu hal yang harus saya -dan saya bisa yakin para perempuan lain baik yang sedang membaca tulisan ini ataupun tidak- hadapi sejak pertama kali mengalami menstruasi. Seakan tidak bisa dihindari, pola pikir masyarakat terbentuk oleh ajaran-ajaran agama dengan segala sistem moralitasnya.

Fenomena menstruasi pun menjadi salah satu diskursus moralitas dalam sistem agama yang pada akhirnya mampu mengkonstruksi general value yang ada dalam lingkungan sosial. Bukan hal yang asing lagi bagi beberapa pemeluk agama tertentu bahwa perempuan yang sedang memasuki siklus haid dianggap tidak suci, sehingga tidak diizinkan untuk datang ke tempat peribadatan, melakukan ibadah, atau bahkan hanya memegang benda-benda yang dianggap suci. Dan yang lebih miris adalah bagaimana kita -baik laki-laki dan perempuan- sampai sekarang tidak mampu untuk menyadari bahwa hal tersebut merupakan suatu kontruksi dengan kepentingan tertentu. Seakan-akan larangan-larangan yang hubungannya dengan ritual agama untuk perempuan haid sama alamiahnya dengan fenomena menstruasi itu sendiri.

Bahkan pada tradisi yang sifatnya lebih kepada spiritualitas adat daerah, hal yang sama pun terjadi. Saya yang lahir di Jawa, di tengah keluarga yang masih memegang erat nilai-nilai moralitas budaya Jawa, paham benar sejak kecil bahwa perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan untuk memasak untuk selamatan, pergi berziarah ke kuburan, atau mengikuti ritual-ritual lain karena dianggap tidak suci. Masyarakat dalam lingkungan sosial terdekat saya melihat hal ini adalah sesuatu yang berterima, sehingga nilai tersebut diterapkan dan dijaga terus.

Padahal jika ditilik secara biologis, menstruasi adalah suatu perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam sistem reproduksi mamalia. Kita bisa baca sendiri bahwa definisi tersebut bersifat netral, tidak memberikan konotasi negatif yang menyudutkan perempuan sebagai makhluk tidak suci. Sehingga jelas bahwa nilai yang berkembang di masyarakat adalah suatu bentuk konstruksi sosial yang sifatnya mendukung sistem patriakal baik dalam lingkup keluarga ataupun yang lebih luas.

Belum lagi hal-hal lain yang berkaitan dengan menstruasi, seperti gangguan pada fisik maupun mental yang terjadi baik sebelum maupun selama siklus haid yang dialami perempuan. Walaupun bisa dibilang remeh, namun guyonan-guyonan seperti, “Dia sepertinya sedang PMS,” untuk merujuk seseorang yang emosional juga adalah cerminan bahwa kondisi yang dialami perempuan adalah sesuatu yang bahkan lebih berharga untuk dijadikan bahan gurauan, bukannya sebagai cara untuk memahami fenomena kesehatan. Disamping itu, sebagai perempuan kita selalu diajarkan bahwa membicarakan menstruasi dengan laki-laki atau membahasnya di tempat umum adalah sesuatu yang tabu, dan sisi lain adalah suatu hal yang merendahkan bagi laki-laki untuk memahami hal yang secara alamiah hanya terjadi pada perempuan itu. Nilai seperti inilah yang membentuk suatu strata sosial menyesatkan di dalam masyarakat.

Dalam hal ini, sebagai seorang perempuan, saya selalu berusaha menghancurkan persepsi dan konotasi negatif yang dilekatkan pada menstruasi. Sebagai contoh saya adalah orang yang cukup terbuka untuk mengatakan bahwa saya sedang dalam siklus haid dan menjelaskan apa yang saya rasakan kepada pasangan -dalam hal ini laki-laki-, karena hal tersebut terbukti mampu menumbuhkan kesadaran positif dan mengurangi resiko kesalahpahaman atau bercokolnya azas patriakal dalam hubungan. Walaupun akan sulit untuk melawan keluarga saya -dengan nilai-nilai spiritual Jawa- dan lingkungan pada saat ini, namun saya rasa perempuan pun harus bergerak dalam hal ini, karena secara substansial, kehidupan agama atau spiritual adalah hak semua orang tidak peduli label gender yang dimilikinya. Paling tidak memberikan pemahaman yang jelas bahwa menstruasi adalah fenomena alamiah dan aturan serta larangan sosial merupakan sistem yang terkonstrusi merupakan salah satu cara untuk mengurangi pemberian label negatif terhadap perempuan dengan vaginanya.