Dalam melakukan pembacaan terhadap konsep-konsep Marx, salah satu hal yang sering muncul adalah penekanan terhadap kesadaran kelas, terutama bagi golongan pekerja. Kesadaran kelas merupakan kepercayaan yang dimiliki seseorang tentang kelas sosial atau tingkatan ekonominya di masyarakat, struktur kelas, dan kepentingan kelas mereka. Kesadaran ini merupakan hal yang penting karena menjadi cikal bakal perlawanan untuk membuat kelas proletar naik menjadi golongan yang memimpin.

Namun ternyata Marx tidak pernah menuliskan konsep kesadaran kelas tersebut dengan istilah class consciousness atau kata yang sama maknanya dalam bahasa Jerman dalam karya-karyanya. Melainkan Marx menggunakan dua istilah terkait dengan kesadaran seseorang terhadap golongannya, yakni “class in itself” yang merupakan kategori orang-orang yang memiliki relasi biasa dengan alat produksi; dan “class for itself” yang merupakan strata yang bekerja bersama untuk mencapai kepentingannya.

Kelas, menurut pemikir Marxian, ditentukan oleh relasi individu dengan alat produksi; terdapat golongan pemilik alat produksi yakni kelas pemilik modal, dan golongan yang bekerja menggunakan alat produksi tersebut yakni kelas pekerja.

Georg Lukacs yang kemudian menjelaskan secara lebih gamblang konsep pembagian kelas masyarakat berdasarkan konsep pemikiran Marxian dalam tulisannya yang terkenal, History and Class Consciousness (1923). Lukacs menekankan kesadaran kelas yang dimaksudkan sepenuhnya berbeda dari konsep kesadaran yang ada pada ilmu psikologi yang membentuk jati diri individu dan masyarakat. Kesadaran ini tidak bersifat lahiriah atau ada pada diri manusia sejak lahir, melainkan menjadi sesuatu yang perlu diraih atau dimenangkan. Untuk mencapai kesadaran kelas tersebut, diperlukan pemahaman “totalitas konkret” dari proses historis.

Menurut logika Hegel, kelas proletariat membutuhkan volkgeist (“spirit of the people”) untuk mencapai weitgeist (“spirit of the world”) dengan mengubah konsepsi filsafat idealis. Gaya pemikiran Marxian yang materialis tidak lagi menggunakan konsep ruh (spirit) namun menjadikan kelas proletar sebagai obyek dan subyek sejarah.

Sebagai obyek karena keberadaannya muncul karena berkembangnya masyarakat kapitalis namun juga menjadi subyek karena buruh yang membentuk dunia dan pengetahuan, termasuk pengetahuan akan realitas dan totalitas proses historis.

Kesadaran kelas tidak hanya sekedar tentang pengakuan tentang siapa dan di mana posisi dalam masyarakat, namun memahami secara penuh proses yang dialami. Dalam hal ini, kelas proletar perlu memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana mereka diperlakukan di tengah persaingan ekonomi dalam lingkup masyarakat kapitalis.

Pada tahap awal, kesadaran kelas melibatkan kesadaran totalitas yang terdiri dari proses sosial dan historis. Kemudian melalui dialektika materialisme, kelas proletar akan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh kelas borjuis merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai alam. Yakni bahwa kelas pekerja lama kelamaan kehilangan aspek humanisme karena hanya dihargai menurut pekerjaan mereka, atau yang dikenal dengan alienasi. 

Lukacs yakin kelas proletar merupakan golongan yang akan pertama kali mencapai kesadaran kelas, karena merupakan negasi dari kapitalisme, seperti yang digarisbawahi dalam Manifesto Partai Komunis. Golongan proletar yang memiliki kesadaran kelas setelah memahami posisi dan keadaan mereka akan melakukan sesuatu untuk mengubah nasib mereka.

Sedangkan kelas borjuis selamanya akan terjebak dalam kesadaran palsu karena mereka tidak akan mampu memahami totalitas sejarah. Dalam anggapan mereka, segala kekayaan dan kesejahteraan yang mereka miliki akan bertahan selamanya dan tidak akan digoyahkan dalam proses perjalanan sejarah.

Jika kita melakukan refleksi pada masa sekarang, dewasa ini, semakin banyak yang kehilangan kepercayaan atas konsep-konsep Marxian. Masyarakat kapitalis semakin tidak bisa dibendung perkembangannya, merasuk ke daerah-daerah yang sebelumnya masih menjalankan sistem barter atau ekonomi sederhana.

Begitu pun pola gaya hidup yang mengikutinya, seperti konsumerisme dan komodifikasi. Optimisme Marx dalam melihat proses sejarah pun semakin dianggap tidak mungkin untuk terjadi, yakni bahwa masyarakat kapitalis yang ada saat ini hanyalah bagian dari totalitas sejarah yang dapat berubah situasinya. Bahwa dengan kesadaran kelas dan bersatunya kaum proletar, borjuis akan diturunkan layaknya kelas feodal pada masa pra Revolusi Perancis.

Namun terlepas dari apakah mimpi utopis tentang masyarakat tanpa kelas itu akan dapat tercapai, agaknya kesadaran kelas merupakan hal yang masih bisa dibilang penting. Apalagi di tengah keadaan masyarakat yang semakin hari semakin menjadikan bumi dan seisinya tidak lebih dari komoditas. Kesadaran tersebut pada akhirnya membawa pada pola pikir kritis yang sifatnya dapat memberikan liberasi pada sifat dasar manusia. Sehingga paling tidak individu manusia tidak mengalami alienasi atas dirinya sendiri sebagai spesies berpikir.