Bagi mahasiswa ilmu sosial dan humaniora, istilah ‘sosialisme’ bukanlah suatu hal yang asing, bahkan menjadi bagian dari kehidupan akademis mereka. Beberapa bahkan mengamininya sebagai ideologi yang pantas diterapkan di masyarakat dan mengeluarkannya dari buku-buku teks. Di saat yang sama, Indonesia memiliki sejarah tersendiri dalam memaknai, menerima, dan menolak keberadaan sosialisme. Dalam tulisan ini saya tidak akan menggiring pembaca kepada satu ideologi tertentu, mentahbiskan dogma-dogma agar dipercayai mentah-mentah, namun saya hanya akan menuliskan narasi perjalanan sosialisme dari awal terbentuknya hingga saat ini.

Perlu diketahui bahwa konsep sosialisme tidak tiba-tiba muncul sebagai suatu –isme dalam artian sebagai suatu ideologi. Gagasan dan model sosialisme tentang kepemilikan publik dipercaya dapat ditemukan pada sistem politik filsafat Yunani seperti Plato dan Aristotle. Salah seorang kerabat nabi, Abu Dharr al-Ghifari, dianggap merupakan penggagas pertama dari sosialisme Islam.

Istilah “socialism” pertama kali digunakan oleh Henri de Saint-Simon, seorang teoris ekonomi dan politik dari Perancis pada abad ke-19. Istilah tersebut kemudian lebih umum dikenal sebagai “utopian socialism”. Simon menggunakan kata “socialism” sebagai lawanan dari “individualism” yang merupakan doktrin kaum liberal. Konsep sosialisme utopis yang awal menekankan pelarangan terhadap individualisme liberal yang gagal menyelesaikan permasalahan di masyarakat seperti kemiskinan. Konsep sosialisme Simon ingin membentuk masyarakat di mana masing-masing orang dinilai berdasarkan kemampuannya dan dihargai sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukannya. Marx dan Engels menganggap Simon dengan pemikirannya sebagai inspirasi atas ide-ide mereka dan menganggapnya sebagai tokoh sosialis utopis sejati (Ryan, 2012).

Penggunaan istilah sosialisme pun semakin meluas sampai mendapatkan definisi modern pada tahun 1860-an. Pada periode yang sama, istilah ‘komunisme’ juga mulai digunakan dengan pembedaan definisi yang jelas. Yakni bahwa sosialisme hanya bertujuan untuk ‘mensosiakan’ produksi, sedangkan komunisme bertujuan untuk ‘mensosialkan’ produksi dan konsumsi (dalam bentuk akses gratis terhadap hasil produksi) (David, 1992). Namun para pendukung Marxis menggunakan istilah ‘sosialisme’ pada definisi ‘komunisme’, dan mendeskripsikan diri mereka sebagai para sosialis yang berdedikasi terhadap sosialisme. Sehingga lama kelamaan penggunaan dua istilah tersebut pun bercampur aduk.

Kesadaran pergerakan sosialis pertama kali berkembang pada sekitar tahun 1820-an dan 1830-an yang ditandai dengan pergerakan-pergerakan kelas pekerja di Eropa seperti Owenites dan Chartists. Salah satu tuntutan kaum Chartists yang paling dikenal adalah People’s Charter 1838 yang menuntut pemberian hak lebih besar dalam pemilihan umum untuk laki-laki dewasa. Sehingga sosialisme sebagai sebuah gerakan politik merupakan sebuah kesatuan filsafat politik yang terfokus pada permasalahan sosial yang berhubungan dengan kapitalisme.

Selanjutnya muncul berbagai tokoh pemikir sosialis yang mulai meluncurkan kritik mereka terhadap kemiskinan dan ketidaksetaraan pada golongan kelas yang terjadi karena Revolusi Industri, di antaranya Robert Owen, Charles Fourier, Pierre-Joseph Proudhon, Louis Blanc, Charles Hall, dan Saint-Simon. Mereka mencoba membentuk kelompok pergerakan dengan misi membentuk lingkungan sosial tanpa kepemilikan privat atau pribadi, yang menghargai keinginan dan kebutuhan individual (termasuk orientasi seksual), pekerjaan, dan kreativitas. Mereka juga beranggapan tempat kerja dan pekerjaan haruslah menjadi tempat yang menyenangkan.

Pada akhir abad ke 19, setelah tulisan-tulisan yang dibuat oleh Marx dan Engels, sosialisme secara gamblang didefiniskan sebai oposisi kapitalisme. Berkat Marx, sosialisme muncul sebagai ‘geraan sekuler paling berpengaruh di abad dua puluh di seluruh dunia. Sosialisme merupakan ideologi politik (atau pandangan dunia), dan gerakan politik yang luas” (Kurian, 2011). Dan kemunculan Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama mengarah pada asosiasi sosialisme dengan model ekonomi Soviet.

Pada perkembangannya, muncullah beberapa aliran-aliran cabang sosialisme di Eropa yang ditandai dengan The International Workingmen’s Association (IWA) atau First International pada 1864. Ini merupakan forum internasional besar pertama yang menjadi pertemuan tokoh-tokoh untuk membicarakan ide-ide sosialisme. Sehingga muncullah beberapa kelompok pecahan sosialisme antara lain anarkisme, sosialisme libertarian, sosialisme demokratis, sosialisme reliji (sosialisme Kristen dan sosialisme Islam), sosialisme liberal, sosialisme feminisme, sosialisme ekologi, dan lain-lain. Sampai sekarang, pembentukan kelompok cabang sosialisme masih berkembang, namun dipercaya bahwa belum ada yang berhasil mencakup konsep dasar dari sosialisme itu sendiri.

Bahkan di antara kelompok-kelompok yang merupakan perkembangan dari sosialisme itu sendiri, terdapat berbagai perbedaan. Perbedaan yang mencolok biasanya ditemukan pada konsep kepemilikan harta benda, koordinasi ekonomi, dan bagaimana untuk mencapai sosialisme.

Perkembangan sosialisme sebagai paham tentu tidak berjalan dengan sangat mulus. Seperti layaknya tesis yang lain, ada anti-tesis dan kritik. Yang menarik pada hal ini adalah sebagian besar kritik tidak dialamatkan kepada sosialisme sebagai sebuah sistem, namun pada pergerakan sosialisme, partai sosialisme, atau negara-negara sosialis yang ada. Menurut ahli ekonomi Austria, Ludwig von Mises, sebuah sistem ekonomi yang tidak menggunakan perhitungan uang dan finansial serta pricing pada pasar tidak akan mempu memproduksi barang-barang kapital secara efektif. Sehingga menurutnya, sosialisme itu tidak mungkin untuk diterapkan karena lemah dalam hal informasi dasar untuk melakukan kalkulasi ekonomi.

Beberapa pemikir juga mengkritik tujuan sosialisme dengan berpendapat bahwa keseteraan dapat menghapus perbedaan antar individu, dan bahwa penerapan masyarakat yang setara biasanya dilakukan dengan kekerasan. Namun kebanyakan kritik yang disampaikan terfokus pada kelompok sosialis tertentu, sehingga pada beberapa kasus kritik tersebut tidak bisa diterapkan untuk semua bentuk sosialisme.

Dan di abad ke 21 sekarang ini, banyak yang berasumsi bahwa sosialisme sudah mati baik sebagai paham maupun model. Asumsi tersebut didasarkan pada realitas sosial ekonomi yang menunjukkan kejayaan kapitalisme hampir di seluruh negara di dunia. Namun sejatinya sulit untuk memastikan mati atau tidaknya sebuah paham yang pernah ada dan berkembang di masa sebelumnya. Sebagai contoh, feudalisme yang sempat berjaya di zaman berkuasanya monarki dan kemudian diruntuhkan dengan gerakan revolusi demokrasi pada kenyataannya tidak sepenuhnya musnah. Masih bisa ditemukan praktik feudalisme dalam berbagai latar seperti hubungan antar anggota keluarga dan masyarakat dengan kelas sosial yang berbeda. Sehingga anggapan bahwa sosialisme sepenuhnya mati pun belum bisa dikatakan valid walaupun sampai sekarang cita-cita dasar sosialisme belum tercapai.

Daftar Pustaka:

Kurian, George Thomas (ed) (2011) The Encyclopedia of Political Science. CQ Press.

Ludwig von Mises (2016) Socialism. Ludwig von Mises Institute.

Ryan, Alan (2012) On Politics: A History of Political Thought from Herodotus to the Present. Penguin Books.

Steele, David (1992). From Marx to Mises: Post-Capitalist Society and the Challenge of Economic Calculation. Open Court Publishing Company