Penghujung Oktober 2021 menjadi penanda baru dalam perjalanan Facebook. Platform media sosial yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat abad ke-21 ini baru saja mengumumkan perubahan nama perusahaan menjadi Meta Platforms Inc, disingkat dengan “Meta”. Perubahan nama itu dilakukan di tengah gonjang-ganjing yang dialami Facebook selama beberapa tahun terakhir, salah satunya yang terbaru adalah kemunculan Facebook Papers.

Facebook Papers merupakan dokumen rahasia yang dibongkar oleh Frances Haugen, mantan manajer produk Facebook. Dokumen tersebut merangkum beragam informasi internal perusahaan Facebook, termasuk hasil riset tentang peran Facebook dalam penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian serta pernyataan-pernyataan publik Mark Zuckerberg selaku direktur utama Facebook.

Beberapa tahun terakhir, Facebook memang terjerat dalam sejumlah kasus hukum yang sempat membawa Mark ke meja hijau untuk memberikan pernyataan. Selain itu, sejumlah pihak juga mengkritisi fitur dan pengaturan terkait penyebaran kiriman di belantara Facebook. Fitur yang disediakan oleh Facebook ditengarai meningkatkan dan memperburuk penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian terkait sejumlah konflik yang terjadi di beberapa negara dan membatasi ruang bicara pengguna yang berlatar belakang aktivis kemanusiaan.

Baca juga: Nyawa Manusia di Tangan Algoritma

 Di kampung halamannya sendiri, Facebook juga dituduh berada di belakang keributan di Gedung Putih pada awal tahun 2021 sebagai buntut dari kekalahan Donald Trump atas Joe Biden pada pemilu presiden. Tidak hanya itu, tersebarnya disinformasi terkait pandemi Covid-19 juga ditengarai disebabkan oleh kelalaian Facebook dalam penyaringan konten. 

Menyusul semua tudingan tersebut, sejumlah mantan pekerja di Facebook juga mulai angkat bicara tentang situasi penuh tekanan yang mereka alami selama bekerja untuk Mark. Facebook memiliki satu unit kerja yang fungsi dan tugasnya adalah melakukan penyaringan konten sebelum terpublikasi di laman situs. Para pekerja yang ditempatkan di unit tersebut setiap hari berhadapan dengan konten-konten yang menampilkan kekerasan, pesan negatif, serta jenis-jenis konten lain yang memberikan dampak buruk terhadap psikologi orang yang mengaksesnya. Sementara itu, manajemen perusahaan tidak memberikan layanan konseling yang cukup bagi para pekerjanya.

Di tengah semua kekacauan tersebut, Rabu lalu Facebook mengumumkan secara resmi pergantian nama perusahaan yang kini memayungi Instagram dan WhatsApp tersebut. Nama Meta diambil dari istilah “metaverse” yang pertama kali digunakan oleh Neal Stephenson dalam novelnya Snow Crash. Dalam karya yang ditulis tahun 1992 itu, metaverse merupakan suatu ruang virtual yang menghubungkan semua dunia virtual dengan internet dan realitas berimbuh (augmented reality). 

Baca juga: Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Keputusan Facebook mengganti namanya dengan meminjam istilah dari novel fiksi ilmiah tentu tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Dalam sejarahnya, Facebook telah mengalami perkembangan dan pembaruan fitur, perluasan fungsi, serta diversifikasi bisnis. Salah satu contohnya adalah algoritma kiriman popular yang akan muncul di beranda lebih banyak pengguna jika suatu kiriman mendapatkan banyak komentar. Pembaruan itu muncul setelah Facebook memutuskan untuk mengubah paradigma tentang user engagement dengan menjadikan “interaksi bermakna” sebagai indikator popularitas suatu kiriman. 

Sementara itu, nama baru yang dipilih oleh Facebook berkaitan erat dengan kesibukan Mark akhir-akhir ini. Mark yang memegang 58 persen saham perusahaan itu akhir-akhir ini lebih disibukkan dengan aplikasi baru yang dikabarkan akan menjadi bagian dari Meta. Aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi realitas maya (virtual reality) sebagai fitur utamanya. 

Disinformasi yang selama ini telah gagal diantisipasi oleh Facebook telah menghadirkan kekacauan pada cara manusia digital memahami dunia di sekitarnya. Realitas terdisrupsi dengan konten-konten yang tidak atau kurang mengandung kebenaran tetapi dikonstruksikan sedemikian rupa hingga terlihat seperti kebenaran. 

Baca juga: Budi Darma, Media Sosial, dan Fast Idolism

Belum lagi dampak psikologis yang dirasakan oleh pekerja perusahaan dan pengguna aplikasi (berdasarkan hasil riset yang tercantum dalam Facebook Papers). Dalam sejumlah pernyataan publik, Mark telah berupaya mengaburkan realitas tersebut dengan menampik tudingan bahwa algoritma Facebook mengundang pengguna untuk bertahan lebih lama di laman situs media sosial. Sementara sejumlah pihak sudah mencium kecenderungan tersebut yang salah satunya ditunjukkan dari rekomendasi teman atau grup yang seringkali muncul di laman beranda. 

Penggantian nama dan pelibatan teknologi baru yang dilakukan Facebook di tengah sejumlah kasus yang belum tuntas pun mengindikasikan disrupsi realias versi kesekian yang akan dialami oleh para pengguna. Pada titik ini membayangkan wajah masa depan dengan Meta mungkin akan membawa kita pada akhir dari novel Snow Crash yang berakhir terlalu cepat dan tidak terjelaskan.