Kemunculan berita tentang Keraton Agung Sejagat, yang kemudian disusul dengan pemberitaan tentang Sunda Empire kembali menarik perhatian publik Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya, nama Lia Eden menjadi bahan pembicaraan utama di kalangan masyarakat dengan kelompok Salamullah yang dilarang oleh MUI pada 1997 dan kemudian berganti nama menjadi Kaum Eden pada 2003, sampai pada penangkapannya pada 2005. Yang menarik kemudian, label “agama sesat”, “kelompok sesat”, atau “kelompok kultus” disematkan dan disebarkan seakan telah ada suatu konsensus yang disetujui oleh masyarakat.

Sumber: communemag.com

Media populer yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari memberi kita paparan tentang kelompok-kelompok yang dianggap sebagai kultus atau cult di beberapa negara lain. Salah satu yang paling menggemparkan adalah Proyek Pertanian Kenisah Rakyat (Peoples Temple Agricultural Project), atau yang lebih dikenal dengan Jonestown. Jim Jones, sebagai ketua dari kelompok Peoples Temple, memboyong para pengikutnya dari Amerika ke Guyana dengan suatu gagasan kehidupan utopis yang bebas dari segregasi agama atau kelas sosial. Pada 18 November 1978, di lokasi tempat proyek tersebut berlangsung, sejumlah 918 orang ditemukan tewas karena bunuh diri massal yang digerakkan oleh Jim Jones. Jonestown menjadi sebuah momentum penting dalam sejarah Amerika Serikat terutama terkait definisi dan identifikasi dari kelompok kultus.

Baca juga: Tunduk kepada Kelompok Fundamentalis (?)

Sementara itu, pembahasan tentang kultus sebagai agama dan agama sebagai kultus telah berlangsung jauh sebelum peristiwa Jonestown. Dan pelabelan suatu kelompok atau gerakan sebagai kultus juga bukan yang pertama kali dialami oleh Peoples Temple. Dalam perkembangannya, istilah “kultus” mengalami perubahan makna dan penerapannya. Pada awalnya, kultus diberikan untuk praktik-praktik keagamaan yang dilekatkan dengan seorang tokoh pemuka atau suatu tempat peribadatan. Kemudian memasuki sekitar tahun 1940-an, muncul gerakan-gerakan anti kelompok kultus yang berbasis agama Kristen. Gerakan tersebut melabeli sejumlah kelompok yang dinilai menjalankan ritus agama yang melenceng dari ajaran Kristiani sebagai kultus. Memasuki tahun 1970-an, gerakan semacam itu semakin menjamur dan mulai melakukan tindakan penekanan kepada kelompok-kelompok yang dituduh sebagai kultus.

Kelompok kultus menjadi perhatian para akademisi bidang sosiologi semenjak tahun 1930-an dan termasuk dalam kajian tindakan agama (religious behavior). Istilah baru pun ditawarkan oleh lingkaran akademisi sebagai alternatif dari istilah “kultus”, dan terutama untuk membedakan kelompok yang berbahaya dengan yang tidak; yakni New Religious Movement (NRM). Istilah NRM ditujukan untuk kepercayaan atau gerakan keagamaan yang muncul pasca tahun 1800 dan berkembang di suatu daerah yang didominasi oleh sistem agama lain (Clarke, Peter B. 2006).


Sementara itu di Indonesia, label “ajaran sesat” atau “aliran sesat” lebih familiar dibandingkan dengan “kultus” dengan menempatkan institusi agama dominan, terutama MUI, sebagai subjek penentu dan pemberi nilai. MUI menganggap Lia Eden dan kelompoknya telah menyeleweng dari agama Islam. Pernyataan yang sama diberikan untuk kelompok Ahmadiyah yang mendapatkan persekusi publik.

Istilah kultus kemudian naik ke permukaan setelah munculnya pemberitaan tentang Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Kemunculan istilah tersebut kemungkinan karena kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan substansial dari Kaum Eden yang beriorientasi pada agama dan kepercayaan. Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire lebih menitikberatkan pada sistem pemerintahan dan konsep kekuasaan.

Pada dasarnya, gerakan yang diberi label kultus bersifat multi dimensi. Beberapa sub-kategori dari kelompok kultus yang pernah berkembang di dunia antara lain kultus destruktif, kultus akhir zaman, kultus politik, kultus poligami, kultus rasis, dan kultus teroris. Di balik keberagaman tersebut, terdapat satu kesamaan mendasar yang selalu ditemukan dalam jaringan gerakan atau kelompok yang diberi label kultus, yakni keberadaan seorang sosok karismatik yang dapat menggerakkan massa dan berperan sebagai pemimpin.

Baca juga: Alienasi Religi dan Intoleransi

Yang perlu dicatat, keberadaan sosok karismatik sebagai pemimpin suatu kelompok tidak hanya ada pada gerakan yang diberi label kultus. Kelompok-kelompok agama dominan yang berkembang di dunia hari ini menurut sejarahnya juga melibatkan keberadaan seorang pemimpin karismatik dengan pemikiran, gagasan atau ideologi tertentu yang ingin disebarkan dan menggunakannya sebagai alat penggerak massa. Sejarah bahkan juga telah mencatat pertentangan-pertentangan yang berlangsung pada awal perkembangan agama-agama besar dengan kepercayaan yang dianut sebagian besar oleh kelompok masyarakat di suatu daerah.

Pertanyaan tentang hal yang membedakan kultus dengan agama telah menjadi misteri yang belum bisa ditemukan jawabannya secara pasti. Yang jelas adalah pemberian label kultus sebenarnya melibatkan relasi kuasa antara kelompok dominan dengan kelompok sub-ordinat. Yang dibutuhkan oleh kelompok kultus sebenarnya hanyalah waktu, selama apa mereka bertahan dan wacana yang ditawarkan dapat diterima oleh lebih banyak lapisan masyarakat, seperti layaknya ideologi-ideologi yang kita percayai saat ini.