Sejak pertama kali melanda dunia pada 2019, pandemi Covid-19 telah menunjukkan beragam wajahnya. Begitu banyak aspek yang berkaitan langsung atau paling tidak bersinggungan dengan fenomena global tersebut, melampaui esensi dasarnya sebagai suatu kasus krisis kesehatan. Keragaman tersebut pada beberapa titik berkenaan dengan semakin terkoneksinya negara dan manusia dalam konteks global yang didorong sejumlah faktor, termasuk salah satunya yang paling berpengaruh adalah perkembangan internet dan media sosial.

Binary Code Technology

Media sosial, dengan segala fungsi, kebaruan, dan banalitasnya, menyimpan begitu banyak hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penemuan dan perkembangan media sosial telah menjadi lompatan baru dalam sejarah peradaban manusia. Dibandingkan penemuan-penemuan teknologi komunikasi sebelumnya, media sosial tidak hanya berkenaan dengan interaksi antar individu manusia, tetapi merevolusi pembentukan jaringan komunal dalam konteks individu manusia sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas. Misalnya, dibandingkan dengan pengembangan dan penemuan telepon modern pada abad ke-19 yang mampu menjalin komunikasi jarak jauh antara satu individu dengan individu lain, media sosial telah melampaui fungsi tersebut. Media sosial memungkinkan terbentuknya komunitas di ruang virtual dengan pola komunikasi yang lebih organik dan masif.

Lompatan tersebut pada gilirannya mengubah cara manusia menjalin relasi antara sesama, juga cara mendapatkan membuat, dan menyampaikan informasi. Beberapa dari kita yang lahir saat media sosial belum dikembangkan, lalu mengalami transisi pola komunikasi dengan kemunculan media sosial, dan bahkan kini menjadi pengguna media sosial, agaknya tidak bisa melupakan euforia yang sempat terbit ketika media informasi dan komunikasi itu mulai dikenal oleh masyarakat. Kita begitu menikmati dan terbawa dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang disuguhkan oleh penemuan baru tersebut.

Namun, rupanya tidak perlu waktu terlalu lama bagi euforia itu berubah menjadi kekhawatiran. Pasalnya, mulai terjadi sejumlah aktivitas dalam lingkup relasi pengguna media sosial yang menimbulkan kerugian. Paling tidak terdapat dua –dari sekian– hal yang masih terus menjadi permasalahan bagi pengguna media sosial, masing-masing berkenaan dengan fungsinya sebagai media komunikasi dan pertukaran informasi. 

Baca juga: Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Pada awal kemunculannya, pelanggaran privasi biasanya terjadi dengan satu pengguna media sosial yang membuntuti pengguna media sosial lain di dunia nyata. Kemudian, seiring berjalannya waktu, khususnya dengan perkembangan pemelajaran mesin dan mahadata, pelanggaran privasi yang dialami pengguna media sosial tidak hanya disebabkan oleh sesama pengguna, tetapi juga aktor di balik munculnya teknologi tersebut yakni perusahaan pengembangnya. 

Kerja pemelajaran mesin di dunia maya yang digerakkan dengan instruksi algoritma seringkali tidak disadari oleh pengguna karena berlangsung secara subtil. Mungkin kita pernah sekali dua kali mempertanyakan bagaimana bisa Facebook memberikan rekomendasi kepada kita tentang orang-orang yang mungkin kita kenal untuk ditambahkan sebagai teman, atau bagaimana bisa iklan yang muncul di laman situs berhubungan, atau bahkan sesuai dengan daftar belanja kita. Di sanalah instruksi algoritma dan mahadata bekerja.

Setiap hari, bahkan setiap menit dan setiap detik kita masuk ke belantara dunia maya, ribuan atau bahkan jutaan bit tentang diri kita dipelajari dan disimpan sebagai data untuk kemudian diolah menjadi rekomendasi-rekomendasi yang muncul di akun media sosial atau laman situs yang kita buka. Sekilas, hal tersebut membantu kita mengoptimalkan fungsi media sosial sebagai kanal jaringan sosial dan memanfaatkan internet untuk mendukung aktivitas sehari-hari kita. Namun, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah –dalam istilah ekstremnya– manusia sedang ditelanjangi di ruang yang bahkan wujud materialnya tidak kasat mata. 

Baca juga: Pandemi bukan Ring Tinju

Pada gilirannya, instruksi algoritma turut menentukan informasi apa yang kita dapatkan di dunia maya, khususnya di media sosial. Dan akhir-akhir ini, perhatian terhadap sirkulasi informasi di media sosial semakin menjadi perhatian khusus dengan terjadinya sejumlah peristiwa yang skala dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan manusia –baik dalam konteks individu maupun masyarakat– dipengaruhi oleh pembuatan, penyebaran, dan penerimaan informasi. Beberapa peristiwa tersebut meliputi konflik politik di sejumlah negara yang muncul akibat perlawanan rakyat terhadap kepemimpinan diktator, dan tentu saja, pandemi Covid-19. 

Facebook menjadi salah satu platform media sosial yang akhir-akhir ini mendapatkan perhatian paling besar dari sejumlah pihak, khususnya terkait pemanfaatan data pengguna dan sistem algoritma yang menentukan seleksi atas jenis informasi yang diterima pengguna. Sejumlah pengamat mendapati adanya kelalaian dan intervensi pengembang media sosial dalam penyebaran ujaran kebencian dan kebohongan berkenaan dengan konflik Israel-Gaza yang kembali terpantik pada Mei lalu, serta hoaks dan misinformasi terkait vaksin dan cara penanganan Covid-19. 

Salah satu contoh konten berisi misinformasi yang tersebar di sejumlah kanal media sosial adalah video yang menunjukkan militan Palestina di Jalur Gaza meluncurkan roket kepada pemukiman padat masyarakat Israel. Video yang tersebar pada bulan Mei 2021 di tengah memanasnya kembali konflik Gaza-Israel tersebut sebenarnya dibuat pada 2018. Lebih parahnya lagi, serangan roket tersebut sebenarnya tidak diluncurkan dari Gaza, melainkan dari Libya atau Siria. Namun, konten tersebut telah dibagikan ratusan kali dengan didukung oleh rekomendasi-rekomendasi yang disuguhkan kepada pengguna media sosial. 

Baca juga: Jaringan Media Sosial = Jaringan Impunitas

Hal serupa terjadi pada konteks penyebaran informasi terkait vaksin dan penanganan Covid-19. NewsGuard, sebuah organisasi pengawas pemberitaan di internet telah melaporkan kepada WHO bahwa Facebook tidak hanya gagal dalam menghilangkan misinformasi tentang vaksin dan Covid-19, tetapi juga secara aktif memungkinkan dan meningkatkan penyebarannya. Pertama, Facebook membiarkan pemberitaan yang dipublikasikan situs-situs kategori “Merah” menurut NewsGuard tersebar sebagai kiriman di profil pengguna maupun fitur pesan. 

Selanjutnya, struktur instruksi algoritma yang diberlakukan oleh pengembang memungkinkan semakin kuatnya jaringan persebaran misinformasi dan hoaks. Skenarionya sebagai berikut: jika seorang pengguna masuk dalam satu “grup” yang menjadi kanal informasi pemberitaan salah, ia akan mendapatkan rekomendasi grup serupa –berdasarkan hasil pembacaan pemelajaran mesin atas jejak digital pengguna dan arahan dan instruksi algoritma– sehingga semakin membuka kesempatan diterima dan disebarkannya berita yang salah. 


Semakin meleburnya batas antara belantara dunia maya dengan dunia fisik berlaku layaknya pisau bermata dua. Pada satu sisi, imersivitas memungkinkan manusia melakukan hal-hal yang sebelumnya mungkin hanya sebuah konsepsi atau imajinasi. Di sisi lain, imersivitas tersebut menempatkan manusia dalam posisi yang sangat rentan. Kerentanan tersebut tidak hanya terjadi dalam konteks jaringan sosial di dunia maya, tidak juga dalam konteks individu, tetapi kesejahteraan sosial. Menemukan solusi atas permasalahan ini pun agaknya tidak “semudah” menemukan teknologi yang mengubah cara manusia hidup dan berinteraksi satu sama lain dalam kepentingan apapun. Karena kita berbicara tentang tabrakan antara sifat organik dan mekanik yang melebur dalam diri manusia digital yang