Beberapa pekan terakhir, saya mulai mendengar celetukan seperti “sepertinya orang-orang sudah lupa dengan COVID” dari orang-orang di sekitar saya. Celetukan itu muncul dari pengamatan bebas atas pergerakan aktivitas yang telah kembali seperti sebelum diterapkannya aturan-aturan yang bertujuan menekan tingkat penyebaran virus corona: gerbong KRL yang telah kembali penuh sesak di jam pulang kerja, kemacetan kendaraan di jalanan, dan dicabutnya sistem kerja dari rumah. Pada saat yang sama, pemberitaan tentang penemuan vaksin dan obat semakin gencar. Lalu apa yang menjadikan masyarakat seakan-akan dengan mudah “terlupa” dengan pandemi?

Saya telah menulis beberapa artikel terkait permasalahan-permasalahan kelas dan sosial-ekonomi yang terjadi sebagai dampak atau muncul di tengah situasi pandemi COVID-19, mulai dari penerapan sistem kerja dari rumah dan kenormalan baru yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang, peluncuran Kartu PraKerja, lemahnya sistem ekonomi global saat ini, ancaman yang dihadapi oleh insitusi dan pekerja budaya, sampai proses belajar-mengajar dan kecenderungan anti-kritik pemerintah di masa pandemi.

Dan kini, baik di media pemberitaan lokal maupun internasional, kabar tentang penemuan obat untuk mengobati pasien COVID-19 dan vaksin untuk mencegah pandemi yang disebabkan jenis virus serupa di masa depan.

Sampai hari ini, saya masih cukup rutin mengikuti kabar terkait pengembangan penanganan pandemi COVID-19, termasuk yang berkaitan dengan penemuan obat dan vaksin. Pembacaan terhadap kanal-kanal pemberitaan dalam dan luar negeri memberikan gambaran yang berbeda terkait apa yang kemudian saya kategorikan sebagai “komunikasi sains” atau science communication, atau praktik membagikan informasi, mengedukasi, dan meningkatkan kesadaran tentang topik-topik terkait sains.

Sebenarnya pembicaraan tentang komunikasi sains tersebut sudah berlangsung antara saya dengan beberapa kawan sejak awal melandanya pandemi. Beberapa dari mereka merasakan atau mendapati hal serupa dengan yang saya alami, yakni kurang baik atau efisiennya komunikasi sains di tengah pandemi di Indonesia secara umum. Hal tersebut terlihat atau dapat terbaca semenjak pemberitaan pertama tentang kasus Pasien I dan Pasien II dan mulai dikeluarkannya imbauan-imbauan resmi dari pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan. Sebagai contoh, Kementerian Kesehatan sempat mengeluarkan infografis digital berisi petunjuk tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah terjangkit virus corona, yang meliputi menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, dan pada poin terakhir: berdoa.

Seiring berjalannya waktu, Menteri Kesehatan dan tim penanggulangan wabah COVID-19 yang dibentuk oleh Presiden mengisi layar televisi atau kanal pemberitaan hanya dengan angka-angka: jumlah kasus positif, sembuh, orang tanpa gejala, dan kategori-kategori lain. Bahkan angka-angka itu saja seringkali diragukan ketepatannya oleh beberapa kelompok masyarakat yang menganggap strategi-strategi penanganan pandemi, terutama tes uji, yang tidak akurat hasilnya. Namun bagi saya ada hal yang lebih menggelitik lagi, yakni pemberitaan terkait penemuan obat atau vaksin.

Pemberitaan terkait penemuan obat atau vaksin di media-media massa Indonesia menurut pembacaan saya kurang menerapkan strategi komunikasi sains. Redaksional yang digunakan untuk berita-berita terkait topik tersebut cenderung tidak didukung dengan informasi yang menjelaskan prosedur penelitian yang dilakukan oleh periset–antara lain seperti hipotesis, bahan, metode pengambilan sampel, metode pengujian–sampai akhirnya ditemukan spesimen obat atau vaksin. Biasanya yang menjadi subjek utama pembahasan terbatas pada hasil yang ditemukan dan institusi penemu hasil tersebut.

Strategi tekstual semacam itu menurut saya dapat membentuk pola pikir dan persepsi pembaca Indonesia terhadap dunia ilmu pengetahuan dan kerja penelitian. Dengan menghilangkan penjelasan tentang detail prosedur penelitian dan mengedepankan temuan penelitian semata, akan terbentuk anggapan bahwa penemuan atau pembuktian suatu hipotesis tidak membutuhkan proses yang panjang dan seringkali rumit. Hal tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa tulisan akademis atau–dalam kasus ini–bahan literasi kesehatan berbasis penelitian tidak menjadi jenis bacaan yang familiar di kalangan masyarakat Indonesia secara umum.

Sementara itu, penjabaran yang mendetail terkait proses penemuan obat dan vaksin COVID-19 cenderung lebih mudah ditemukan di media pemberitaan luar negeri. Hampir di setiap tulisan berita tentang topik penemuan obat atau vaksin, saya menemukan penggambaran–secara sekilas maupun mendalam–terkait prosedur penelitian yang harus dijalani oleh tim riset, misalnya untuk uji vaksin terhadap manusia yang membutuhkan tiga langkah, di mana dua di antaranya untuk menguji keamanan lalu diikuti dengan satu kali tes terakhir untuk menguji khasiatnya; bahkan juga kemungkinan-kemungkinan kegagalan yang terjadi dalam proses pembuktian hipotesis.

Bahkan dunia ilmu pengetahuan baru-baru saja cukup dihebohkan dengan ditariknya dua artikel ilmiah dari dua jurnal kesehatan ternama, yakni New England Journal of Medicine dan The Lancet. Artikel pertama berargumen penggunaan sejumlah jenis obat-obatan untuk penyakit jantung aman bagi pasien COVID-19, sementara artikel kedua menyimpulkan hydroxychloroquine, yang biasanya digunakan sebagai obat malaria, dapat meningkatkan risiko kematian jika diberikan kepada pasien COVID-19. Dalam waktu sekitar hanya 200 hari sejak dipublikasikannya kedua artikel tersebut, telah bermunculan kritik dari kalangan ilmuwan atas data yang digunakan dalam kedua penelitian tersebut; sampai akhirnya New England Journal of Medicine dan The Lancet membuat pengumuman penarikan tulisan-tulisan itu.

Sekilas, peristiwa tersebut seakan menunjukkan bahwa bahkan sains pun tidak dapat serta merta atau sepenuhnya dipercaya kebenarannya. Namun pada dasarnya memang seperti itulah ilmu pengetahuan bekerja. Penarikan artikel ilmiah setelah melalui tinjauan dan dipublikasikan melalui jurnal bukanlah hal yang baru, meskipun tingkat dan jumlahnya memang lebih rendah dibandingkan dengan pernyataan ralat atau penarikan berita dalam dunia jurnalistik dalam hitungan tahunan. Tetapi yang perlu dipahami dalam hal ini adalah bahwa dunia penelitian bekerja dengan prosedur-prosedur pembuktian asumsi atau hipotesis yang hasilnya dapat dipatahkan karena alasan-alasan yang berkaitan dengan komponen dalam penelitian ataupun dengan diperolehnya temuan lain pada penelitian berikutnya.

Penyebaran informasi yang mampu memberikan gambaran tentang kerja dunia sains dalam cara yang mudah dimengerti pembaca umum dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan tanpa membuat publik merasa terintimidasi–yang seringkali menjadi permasalahan dalam komunikasi sains–semestinya menjadi salah satu bagian dari tanggung jawab pihak-pihak terkait. Dalam kasus Indonesia, pihak-pihak tersebut antara lain institusi pendidikan, lembaga penelitian, dan juga panitia gugus tugas yang telah dibentuk presiden.

Sementara itu, lemahnya atau kurang efektifnya komunikasi sains pada pemberitaan yang dipublikasikan di media massa memiliki konsekuensi yang cukup besar bagi publik awam dalam memahami fenomena krisis kesehatan yang terjadi, menerapkan aturan-aturan yang direkomendasikan oleh badan kesehatan, dan menjadikan pandemi sebagai bagian dari kognisi mereka. Jika pandemi menjadi bagian dari kognisi masyarakat, mereka akan lebih dapat mengingatnya, dan bahkan mungkin mencatatnya sebagai suatu cerita kejadian yang dapat dibaca kembali di masa mendatang sebagai bahan pembelajaran.

Beberapa kalangan, termasuk ilmuwan, mulai menyebut-nyebut tentang interpandemi, atau rangkaian satu peristiwa pandemi ke peristiwa pandemi lain; dengan pertimbangan telah terjadinya sejumlah wabah penyakit di dunia dan jangka waktu antara satu peristiwa pandemi ke pandemi berikutnya. Bayangkan hidup dalam situasi semacam itu tanpa adanya tulisan-tulisan analitik–namun tetap komunikatif–yang berkaitan dengan topik wabah yang sedang melanda, tidak banyak catatan yang kembali dibuka dan dibaca di kemudian hari, maka kita menghadapi ketidaktahuan yang kita ciptakan sendiri.