Menurut ilmu semiotika, hampir segala hal yang ada di masyarakat merupakan simbol yang menyimpan makna, mulai dari lambang nasional negara, pakaian yang kita pakai, sampai warna sekali pun merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Tanpa kita sadari, sejak kecil kita telah dipaparkan dengan pemaknaan warna, walaupun mungkin kita akan mendengar istilah semiotik pada tingkat pendidikan. Misalnya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kita telah dipaksa untuk menerima pemaknaan warna bendera Indonesia, merah artinya berani dan putih artinya suci. Rasanya tidak ada pengajar atau guru yang  mendorong kita untuk mengkritisi pemaknaan simbolik tersebut, atau untuk memaparkan sudut pandang lain tentang warna tersebut.

 

Paradkosal Merah, DhianDharti.com

Saya pun merupakan salah satu dari siswa tersebut, sejak pendidikan dasar telah diajarkan bahwa makna bendera Indonesia yang duplikatnya harus diberi penghormatan saat upacara hari Senin dan hari besar nasional itu merupakan simbol yang merepresentasikan gagasan ‘berani’ dan ‘suci’ yang dinyatakan sebagai falsafah sosial dan masyarakat Indonesia. Namun gambaran yang agak berbeda dalam pemaknaan warna merah saya temui di luar kelas, yakni di antara masyarakat umum. Salah satunya adalah klasifikasi yang digunakan masyarakat untuk menjelaskan umat muslim yang masih memegang dan menerapkan kepercayaan dan praktik kebudayaan Jawa dalam ritual agamanya. Clifford Geertz membuat identifikasi masyarakat Jawa yang pernah menjadi subjek penelitian etnografisnya selama dua tahun menurut tradisi yang diterapkan dalam ritual agama.

Istilah abangan secara harfiah berarti merah, yang merujuk pada masyarakat Jawa yang memasukkan unsur-unsur budaya Jawa yang cenderung berakar dari tradisi Hindu Buddha, sehingga dalam ritual pun masih dapat ditemui adanya sinkretisme aspek-aspek kebudayaan dalam implementasi praktik agama seperti upacara kematian. Masyarakat Jawa yang disebut kaum abangan akan memiliki perhitungan hari yang berdasarkan pada tradisi weton Jawa untuk menentukan hari pelaksanaan pengajian, dan juga menggunakan unsur-unsur seperti bunga dan sesajen dalam rangkaian upacara kematian. Di sisi lain, mereka yang menerapkan ajaran Islam ortodoks dalam ritual agama disebut dengan kelompok ‘putih’, biasanya terdiri dari para pemuka agama yang menempuh pendidikan agama Islam di pondok pesantren. Fenomena dikotomi abangan dan putih tersebut bisa ditemui pada hampir seluruh lapisan masyarakat di daerah Jawa yang notabene didominasi oleh penganut agama Islam.

Pada fenomena sosial tersebut, warna digunakan sebagai simbol yang menyimpan makna yang berkaitan dengan kehidupan  spiritual masyarakat Jawa. Yang menarik adalah bagaimana simbolisme warna merah telah berubah, tidak lagi ‘berani’ dalam kerangka heroisme, namun berhubungan dengan makna ‘bid’ah’ dari kacamata ajaran Islam ortodoks karena menyisipkan tradisi di luar tatanan teologis. Sehingga terjadi pergeseran makna dari warna merah yang ada di dalam masyarakat Jawa. Menurut saya, apa yang ditulis oleh Geertz dalam bukunya sebagai hasil penelitian lapangan di tanah Jawa tidak bermaksud untuk memecah belah masyarakat, karena tidak ditemukan adanya upaya atau pendapat yang menjurus ke arah tersebut dalam tulisannya. Yang dilakukannya hanyalah membuat klasifikasi untuk memudahkan analisis tentang bagaimana masyarakat Jawa, terutama yang menjadi objek penelitian Geertz memiliki keunikan tersendiri terutama dalam sinkretisme unsur-unsur tradisi Jawa dalam praktik agama Islam. Namun yang menarik di sini adalah bagaimana dikotomi merah-putih tersebut dijadikan suatu bentuk stigma sosial dalam masyarakat terutama pasca tragedi G30S.

Sejarah – yang dibuat rakyat – telah menunjukkan adanya praktik pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh ABRI dan pemerintah Orde Baru dalam proses pemberantasan komunisme di tahun-tahun menyusul malam 30 September 1965, antara lain penangkapan, pemenjaraan, penculikan, penyiksaan – fisik, mental dan seksual – bahkan eksekusi mereka yang dianggap terlibat dan berhubungan dengan kelompok komunis yang memang dijadikan kambing hitam dalam drama tersebut. Pada saat yang sama, pemerintah Orde Baru telah melakukan kejahatan kebudayaan dan sosial dengan membentuk dan meluncurkan propaganda besar-besaran yang pengaruhnya dapat dirasakan oleh masyarakat lapisan bawah. Salah satunya menggunakan makna simbolis dari warna merah-putih dan klasifikasi abangan-putih untuk memecah belah masyarakat. Salah satu pembelokan fakta yang menjadi bagian dari propaganda politik Orde Baru adalah pembentukan relasi antara komunisme dan atheisme. Mereka yang dituduh komunis pada saat yang sama juga dituduh sebagai ateis, tidak bermoral, dan tidak bersih. Sedangkan mereka yang mendukung Orde Baru adalah orang-orang suci yang menganut sistem agama –yang diperbolehkan pemerintah pada saat itu– secara baik dan sesuai dengan ajaran yang dituliskan dalam kitab suci. Stigma tersebut diupayakan agar bisa masuk ke dalam pola pikir masyarakat melalui berbagai cara, termasuk ceramah agama dan kurikulum sekolah. Dan dalam hal inilah klasifikasi Islam abangan-putih digunakan sebagai kendaraan propaganda Orde Baru untuk memecah belah masyarakat dan melanggengkan kekuasaan pemerintah. Setelah terjadi penangkapan dan eksekusi masyarakat secara besar-besaran, stigma bahwa mereka yang kehidupan spiritualnya cenderung masuk dalam klasifikasi abangan adalah orang-orang komunis pun terbentuk dan tersebar. Mereka yang sebelumnya bisa menjalankan ritual agamanya dengan tenang dan sesuai kepercayaan masing-masing dan masyarakat yang sebelumnya tidak mendapati adanya masalah dalam perbedaan kepercayaan menjadi dipenuhi dengan intrik.

Stigma yang dibentuk oleh Orde Baru cenderung bersifat memojokkan kaum abangan. Konotasi pemaknaan abangan menjadi bergeser menjadi negatif, karena disangkutpautkan dengan komunisme dan ateisme. Keluarga para tahanan tapol yang dipenjara atau yang harus mendapatkan penyiksaan atas kesalahan yang bahkan tidak mereka ketahui dan lakukan, mendapatkan cap sebagai kaum abangan yang tidak menjalankan ajaran agama secara sesuai, bahkan dituduh sebagai ateis. Hal tersebut terjadi di lingkungan sekitar tempat keluarga saya tinggal, di mana setelah dua anggota keluarga kami ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan memiliki sangkut paut dengan komunisme, anggota keluarga lain yang bertahan di rumah tidak bisa hidup dengan tenang, karena mereka mendapatkan sinisme dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat sekitar. Stigma negatif yang berkaitan dengan spiritualisme yang kami percaya diserang secara langsung dan massal, karena seakan pola pikir masyarakat dengan mudah terpengaruh oleh propaganda pecah belah yang dilakukan pemerintah Orde Baru yang dibantu dengan peran pemuka agama dan anggota pemerintahan daerah. Pecahnya intrik dalam masyarakat karena propaganda ini pun dialami oleh ibu saya yang mendapatkan sinisme dari masyarakat baik di sekolahnya maupun di lingkaran pertemanannya di lingkungan rumah karena status anggota keluarganya dan agama yang dianutnya. Ritual masyarakat abangan yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari identitas masyarakat menjadi termarginalkan karena mereka menjadi dianggap sebagai musuh atau public enemy. Para pemuka agama berlomba-lomba untuk menjadi ‘putih’ karena yang putih berarti tidak melanggar dan sesuai dengan agenda politik pemerintah Orde Baru.

Fenomena stigma dan diskriminasi sosial tersebut terjadi pada masyarakat di tempat lain di mana propaganda Orde Baru juga berhasil masuk, menunjukkan betapa berhasilnya strategi pemecah belah yang diluncurkan oleh pemerintah pada saat itu. Sebagai akibatnya, muncul beberapa permasalahan sosial di masyarakat di mana hubungan kekeluargaan yang telah terbangun dan dipertahankan menjadi rusak karena bergesernya pemaknaan dari abangan karena saking kuatnya kekuasaan dan pengaruh pemerintah Orde Baru dalam melangsungkan upaya untuk melanggengkan kekuasaan yang seakan hampir absolut itu.

Setelah kita berkaca pada apa yang telah terjadi di masa lalu, maka kita bisa menyadari bahwa yang kita alami saat ini tidak lain merupakan warisan dari pemerintah Orde Baru. Bagaimana tidak, masyarakat adat yang berusaha mempertahankan nilai-nilai dan ritual tradisional terutama dalam kaitannya dengan spiritualitas tidak lagi mendapatkan haknya secara penuh. Mereka ditekan secara sosial sampai hampir tidak mendapatkan ruang yang leluasa dalam menjadi bagian dari masyarakat. Dan di saat yang sama, ada suatu ketakutan yang muncul di dalam lingkaran masyarakat yang berusaha disebarkan oleh pemerintah masa kini. Yakni ketakutan akan warna merah, yang maknanya tidak sama dengan apa yang pernah diajarkan di bangku sekolah. Saya rasa masyarakat umum sudah cukup tahu bahwa terdapat suatu hubungan antara warna merah dengan paham yang dianggap terlarang di Indonesia, yakni komunisme. Namun pengetahuan mendasar dari hubungan tersebut agaknya cenderung kurang, terlihat dari ketakutan yang seringkali tidak beralasan kuat. Secara ideologis, hubungan antara warna merah dengan paham komunisme didasarkan pada semangat revolusi Perancis di mana merah menyimbolkan semangat perjuangan mereka. Warna merah telah digunakan oleh mereka yang tergabung dalam pergerakan revolusi, suatu semangat yang menjadi nafas dari gerakan sosialis yang ingin mendobrak konstruksi kekuasaan feodalisme di Eropa pada saat itu. Sebagai akibatnya, warna merah pun digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkembang kemudian, terutama yang menjadikan semangat revolusi sebagai dasar pemikiran dan gerakan. Pengaruh tersebut juga masuk ke Indonesia yang ditunjukkan dengan warna bendera dan lambang-lambang Partai Komunis Indonesia yang didominasi dengan warna merah. Bahkan Indonesia pernah mencatat sejarah sebagai salah satu basis komunisme terbesar di dunia karena anggotanya mencapai 3 juta orang pada sekitar tahun 50-an.

Pecahnya tragedi G30S telah memojokkan pihak komunis ke dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, karena selain menjadi korban kejahatan kemanusiaan, mereka juga mendapatkan perlakuan sosial yang diskriminatif dan menyiksa pada beberapa kasus. Stigma sosial tidak hanya terjadi saat kekuasaan Orde Baru masih berlangsung, namun menjadi suatu warisan budaya yang dipertahankan sampai saat ini. Salah satunya adalah kesinisan terhadap simbol-simbol tertentu terutama yang terkait dengan paham dan kelompok komunis. Salah satu kasus yang menunjukkan sinisme – baca ketakutan – tersebut terjadi masih baru-baru ini, yakni dilakukannya operasi militer untuk memberangus buku-buku yang sampulnya berwarna merah. Padahal jelas bahwa tidak semua buku berwarna merah itu berisi ajaran-ajaran tentang komunisme/Marxisme/Leninisme dan ajaran lain yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Orde Baru. Selain itu simbol-simbol lain yang berhubungan dengan komunisme juga masih menyebabkan suatu ketakutan tersendiri bagi pemerintah yang menjadi alasan untuk membenarkan tindakan represif pihak militer di tengah-tengah pemerintah reformasi. Padahal secara institusi, Partai Komunis Indonesia dan organisasi-organisasi lain yang berafiliasi seperti Gerwani, BTI, dan Lekra telah dihancurkan selama proses pemberantasan komunisme pasca G30S. Namun ketakutan akan paham-paham yang menjadi ideologi organisasi-organisasi tersebut masih saja belum terselesaikan dengan baik, menyebabkan orang-orang yang sebenarnya ingin membuka kebenaran masa lalu menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia seperti misalnya penggerebekan suatu acara bersifat edukatif atau dibatasi kebebasannya dalam berpendapat baik secara lisan maupun tulisan.

Inilah yang menurut saya menarik dalam hal sesederhana seperti pemaknaan warna merah di lingkungan masyarakat Indonesia. Bagaimana kita pada satu sisi menghargai warna merah-putih di bendera negara sebagai suatu simbol kebangsaan yang tidak patut untuk dibantah atau dikritisi, namun di sisi lain secara paradoks warna merah dianggap memiliki pemaknaan negatif, terutama kaitannya dengan pergerakan komunisme. Kita memiliki suatu hubungan pemaknaan simbolis yang saling bertabrakan satu sama lain, menempatkan warna merah di antara dua sisi yang dipuja dan dicaci. Hal ini sama seperti yang dirasakan oleh para eks-tapol dan keluarganya, serta para penyintas tragedi kemanusiaan 65 di mana mereka dipaksakan untuk menerima versi sejarah yang dibuat pemerintah, yang sungguh berlawanan dengan apa yang telah mereka alami. Ketakutan terhadap warna merah, dalam hubungannya dengan spiritualitasme abangan dan kebangkitan komunisme tidak lain merupakan bukti bahwa ada luka yang belum mampu tersembuhkan di dalam lini masa sejarah bangsa kita ini. Jika upaya untuk membuka kebenaran terus-terusan ditekan, maka kita akan terus mengalami pemaknaan warna merah yang paradoksal dan merasakan ketakutan yang tidak kunjung muncul ujungnya.