Mungkin terlalu dini untuk meramalkan atau membayangkan hal-hal yang akan terjadi setelah berakhirnya penyebaran Coronavirus disease 2019 (COVID-19), sementara saat ini saja pertimbangan untuk karantina wilayah masih belum diputuskan dengan pasti dan setiap pagi kita terbangun untuk mendengar kabar peningkatan jumlah orang yang terjangkit dan jumlah orang yang meninggal. Namun kita juga tidak bisa mengelak sejumlah perubahan yang telah terjadi saat ini, dan mungkin juga bertahan pasca semua kekacauan ini berakhir.

Di tengah kemelut ini, sejumlah negara, termasuk Indonesia, telah melakukan langkah-langkah yang tidak pernah diambil sebelumnya. Kasus penyebaran penyakit dalam skala besar sebenarnya tidak hanya terjadi satu kali ini di Indonesia. Sebelumnya, Indonesia juga terkena dampak penyebaran virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS); namun penyebaran kedua virus tersebut tidak menghantam Indonesia layaknya COVID-19. Semenjak diumumkannya Kasus 1 dan Kasus 2 COVID-19, kita telah melihat dan mengalami sendiri sejumlah perubahan pada berbagai hal terutama yang berkaitan dengan gaya hidup. Beberapa perubahan tersebut di masa depan mungkin akan mengarah pada perkembangan yang lebih baik, namun bisa saja sebaliknya.

Interaksi Sosial

Selama ini, masyarakat Indonesia lebih dikenal sebagai kelompok dengan interaksi sosial komunal–hal yang membedakan kita dengan masyarakat di belahan dunia lain. Kita memiliki penilaian tersendiri terhadap orang-orang yang jarang keluar rumah untuk melakukan interaksi sosial atau yang menunjukkan keengganan unuk menemui anggota keluarganya pada hari-hari besar. Penyebaran COVID-19 telah memaksa kita untuk bertahan di dalam rumah untuk beberapa waktu, tidak melakukan pertemuan dan interaksi langsung dengan anggota keluarga, teman, atau rekan kerja. Komunikasi, baik yang bersifat informal maupun formal, terjadi dalam ruang maya dengan jaringan Internet dan sistem aplikasi sebagai penghubung.

Sebenarnya komunikasi daring telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah perkotaan, sebelum penyebaran COVID-19. Namun pilihan untuk bertatap muka sering kali menjadi pertimbangan, karena pesan yang dikirim melalui aplikasi obrolan sering dianggap memicu masalah karena kita tidak dapat mengetahui intonasi dan nada bicara, serta ekspresi wajah penutur. Pertemuan tatap muka selama ini masih dianggap sebagai interaksi sosial yang ideal. Setelah berakhirnya wabah COVID-19, mungkin beberapa dari kita akan berganti pola pikir, dari “kenapa kita membicarakan hal ini melalui aplikasi obrolan?” menjadi “kenapa kita harus bertemu secara langsung untuk membicarakan hal ini?”

Sistem Kerja

Di Indonesia, belum banyak pelaku usaha yang mengizinkan pekerjanya untuk bekerja di ruang lain seperti kantor. Sebagian dari kita kehilangan kesempatan untuk menikmati momen pagi untuk berjejal dalam kendaraan umum atau berhadapan dengan kemacetan agar tidak terlambat masuk kerja. Di beberapa tempat, keterlambatan bahkan berpengaruh pada pemasukan yang akan diterima pekerja. Peraturan tersebut terkadang lebih mementingkan setepat apa Anda datang di kantor daripada performa kerja Anda selama berada di kantor.

Imbauan presiden untuk bekerja dari rumah memaksa sebagian besar pemilik usaha untuk merelakan pekerjanya tidak pergi ke kantor selama wabah COVID-19. Hal tersebut memunculkan berbagai fenomena baru, seperti berkurangnya gaji yang diterima oleh pekerja yang akhirnya menimbulkan polemik lain. Mungkin mulai saat ini, para pemilik usaha dapat memikirkan strategi yang tepat untuk keadaan-keadaan kahar seperti wabah penyakit seperti ini. Masyarakat Indonesia memang dikenal sebagai kelompok yang suka “ngaret”, namun bukankah performa kerja yang efektif semestinya lebih penting daripada datang pagi ke kantor hanya untuk tidur siang di atas meja kerja?

Konsep Patriotisme

Wacana patriotisme yang berlaku di Indonesia sampai hari ini, dengan mengingat sejumlah peristiwa sejarah yang pernah terjadi, masih menempatkan militerisme sebagai nilai patriotik yang utama. Hal tersebut seringkali didukung oleh media yang menggambarkan pendekatan militeristik mampu mengatasi permasalahan sosial di masyarakat. Namun semenjak mewabahnya COVID-19, patriotisme bukan lagi tentang angkatan bersenjata, namun mereka yang berprofesi di bidang kesehatan.

Berita dan kiriman di media sosial menunjukkan dokter, perawat, dan pekerja kesehatan lain berada di garis depan dan memiliki risiko paling besar untuk terpapar COVID-19–diperparah dengan kurangnya fasilitas pengamanan bagi mereka. Hal tersebut dapat paling tidak sedikit menggeser gagasan militerisme sebagai satu-satunya bentuk patriotik, seperti yang selama ini digadang-gadangkan melalui sejumlah media.

Pandangan terhadap Ilmu Pengetahuan

Secara global, kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan menurun dikarenakan sejumlah faktor, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan hidup masyarakat umum. Di Indonesia sendiri, pada beberapa tahun terakhir kita melihat sendiri kebangkitan kelompok dan wacana agama. Namun saat wabah COVID-19 mulai dirasakan, masyarakat lebih memilih untuk mencari informasi yang berbasis pada penelitian, dibandingkan pernyataan-pernyataan dari tokoh agama–walaupun tetap mempercayai kekuatan besar yang akan menyelamatkan manusia tentu saja merupakan pilihan pribadi.

Semenjak wabah COVID-19, kita setiap hari berhadapan dengan berita-berita yang menyuguhkan data perhitungan, hasil penelitian, dan perkembangan di dunia saintifik untuk menghadapi virus tersebut. Kita membutuhkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan logis untuk mengetahui cara untuk melindungi diri sendiri, bukan masukan-masukan Pasca berakhirnya wabah ini, mungkin masyarakat Indonesia akan mulai memperhitungkan pentingnya ilmu pengetahuan dan mengubah cara pandang mereka terhadap sains.

Pandangan Politik

Kisruh masyarakat yang disebabkan oleh pandangan politik telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Indonesia. Pada pelaksanaan pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun lalu, kita telah melihat sendiri pertentangan yang berlangsung antara kelompok pendukung calon A dan kelompok pendukung B–bahkan juga terkadang dengan kelompok golongan putih atau golput. Pertentangan itu ditunjukkan tidak hanya dalam ruang-ruang fisik, namun juga di ruang maya dengan keberadaan media sosial dan obrolan daring.

Kesehatan publik hampir selalu menjadi janji yang disampaikan oleh calon pemimpin baik di tingkat daerah maupun nasional, namun perkaranya selalu tentang layanan kesehatan yang terjangkau atau gratis. Wabah COVID-19 semestinya dapat menambah pertimbangan masyarakat dalam memilih pemimpinnya di masa mendatang–bagaimana strategi mereka dalam menghadapi permasalahan kesehatan publik yang tidak diprediksi sebelumnya, bagaimana rencana mereka untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan publik selain hanya dengan memberikan layanan kesehatan gratis, apa langkah-langkah yang akan diambil untuk meningkatkan layanan kesehatan terutama berkaitan dengan fasilitas infrastruktur serta kuantitas dan kualitas tenaga medis.

Perkembangan Teknologi

Seperti yang telah disinggung di awal, mewabahnya COVID-19 membawa kita semakin dekat dengan gawai dan ruang maya karena dibatasinya ruang pertemuan langsung. Ruang kelas dalam bentuk fisik pun digantikan dengan ruang kelas berbasis Internet yang bisa diakses melalui telepon seluler atau komputer dengan memanfaatkan sistem aplikasi tertentu. Hal tersebut di masa mendatang dapat mendorong para pengembang aplikasi atau bahkan memunculkan perusahaan pengembang aplikasi baru untuk menciptakan program-program yang mendukung interaksi jarak jauh.

Pada saat yang sama, penggunaan Internet mungkin akan bergerak ke arah yang lebih positif. Masyarakat mungkin akan lebih bergantung pada jaringan Internet di mana pun mereka berada, mendorong lebih banyak tempat umum untuk menyediakan jaringan Internet. Jaringan tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan edukasi dan bisnis.


Pengaruh yang kita rasakan karena wabah COVID-19, dan perubahan-perubahan yang kita alami mungkin akan membawa babak baru. Dan hidup pada akhirnya tidak akan terlepas dari dinamika dan perubahan, seperti yang dituliskan Albert Camus dalam bukunya, The Plague: “(b)ut what does it mean, the plague? It’s life, that’s all.”