Aku adalah seorang ibu yang sendiri. Tanpa suami, tanpa pendamping hidup yang menjagaku. Maka aku memilih menjadi pelindung, bukan menjadi orang yang dilindungi. Melindungi anakku, Dewi. Dia satu-satunya anak yang aku punya dan dia harta satu-satunya bagiku. Aku menjaganya siang malam, dan takkan kubiarkan seorang pun menyakitinya. Perlakuanku ini tentu saja beralasan. Semua ini karena si Tray, mantan suamiku, yang sudah meninggalkanku dan Dewi di rumah ini. Rumah yang kutinggali memang megah, namun tak sejalan dengan kebahagiaanku. Tray yang tergoyahkan hatinya oleh keelokan tubuh sintal wanita simpanannya, dengan mudah menandatangani surat cerai pernikahan setahun silam.

Namun Dewi tak tahu itu semua. Biarlah Dewi menjadi anak ‘normal’ yang tumbuh seperti anak lain, karena dia tak pantas untuk sakit hati. Biarlah aku saja yang merasakan sakitnya dikhianati. Dewi seringkali bertanya kemana ayahnya dengan air muka polos. Hatiku berdarah tiap kali mengingat laki-laki itu. Laki-laki itu menancapkan dendam di batinku. Dan  perasaan dendam ini hanya bisa kupendam sendiri, aku tak pernah ingin untuk membaginya dengan orang lain.

Terlalu banyak yang telah aku dan Dewi alami dalam menjalani hidup sebagai keluarga kecil. Aku berusaha setengah mati untuk menjadi orangtua terbaik baginya. Aku ingin Dewi tak merasakan bertambahnya usia. Usia yang lebih jauh akan membuatnya terluka, dan aku tak inginkan itu. Namun aku memang bukan Tuhan, dia tetap tumbuh. Dan umurnya kini 17 tahun. Ia telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang telah mencampakkan kami dalam hidup yang berat untuk dijalani. Aku sedih menyadari Dewi tumbuh menjadi seorang remaja yang begitu matang pemikirannya. Aku takut ia akan mengenal cinta yang busuk itu.

“Ma.. aku..” panggil Dewi. “Aku ingin mengenalkan Mama dengan seseorang.”

Aku rasakan raut wajahku menegang. “Siapa? Teman?”

“Laki-laki, Ma. Kekasihku,” jawabnya singkat.

Kupaksakan untuk tersenyum. “Ya, Nak. Bawalah dia kemari besok,” jawabku berat.

Esoknya, Dewi pulang dari sekolah dengan seorang laki-laki berumur sekitar 20 tahunan di sampingnya. Jadi ini yang disukai Dewi, bisikku dalam hati.

“Ma, ini Rizal,” Dewi memperkenalkan laki-laki itu.

Sangat sopan Rizal mengangkat tangannya untuk menyalamiku. “Selamat malam,” ujarnya seraya menyebutkan namanya dengan nada bicara yang sopan. Tanpa terlewatkan satu pun celah kugali identitas Rizal. Bahkan tak kusadari aku bertanya pada hal-hal yang terlalu pribadi. Namun semua ini kulakukan demi permataku, Dewi.

“Menurut Mama, Rizal itu bagaimana?” tanya Dewi sesaat setelah Rizal pulang.

“Dia..emm,”suaraku terdengar tercekat.

Wajah Dewi terlihat begitu banyak harapan yang ia tunggu dari perkataanku. Tak sampai hati aku melihatnya.

“Dia baik..” ujarku terputus. “Dari keluarga baik-baik pula.”

“Jadi?” wajah Dewi terlihat bersinar. “Mama izinkan Dewi menjalin hubungan dengan Rizal?”

Hatiku terasa begitu sedih mendengar pertanyaannya itu. Dia tumbuh dewasa, ya, dia mulai mengenal cinta! Cinta yang sudah lama kuanggap sebagai ‘barang’ terbusuk dalam hidupku!

“Ya, Nak..” jawabku berat, namun semoga Dewi tak menyadari itu.

Dewi pun terlihat begitu senang dengan jawabanku.

Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku selain melihat Dewi bahagia, walau aku harus menelan kekhawatiranku pada perasaannya itu. Setiap kali ia pulang, selalu ia bercerita tentang Rizal dengan nada ceria dan wajahnya yang sumringah. Aku berperan sebagai pendengar yang baik, walaupun aku tak cukup baik dalam menutupi ekspresi ketegangan di wajahku.

“Mama benar-benar merestui hubunganku dengan Rizal, kan?” tanya Dewi, mungkin mulai membaca keraguanku.

“Mama hanya tak mau kamu terluka, Nak. Mama akan lakukan apapun untuk menjagamu. Takkan Mama biarkan kamu merasakan hal yang sama dengan Mama,” jelasku.

“Percayalah, Ma,” jawabnya tenang. “Rizal lelaki yang baik untukku.”

Hingga suatu hari, Dewi pulang cukup larut. Pukul sembilan. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Paling larut Dewi kembali ke rumah jam tujuh malam. Segala kegelisahan menjangkiti perasaanku. Jangan sampai hal-hal yang aku benci terjadi pada Dewi. Hal ini harus segera diselidiki, niatku. Dewi juga tidak mengetuk pintu depan rumah yang memang tidak kukunci. Dan tidak memberi salam juga.

“Kamu pulang terlambat? Ada acara apa?” berondongku saat Dewi berjalan ke kamarnya.

Dewi tetap berjalan. Tidak menghentikan langkahnya atau menoleh untuk menjawab pertanyaanku. Dengan kepala tertunduk ia membuka pintu kamarnya. Begitu lama Dewi menyendiri di dalam kamarnya. Aku coba membuka pintu kamarnya, terkunci.

“Dewi! Buka pintunya! Sebenarnya ada apa? Kalau ada masalah, cerita ke Mama,” rayuku agar Dewi mau membukakan pintu untukku.

Ia pun membuka pintu kamarnya. Dengan wajah sembab, ia tertunduk di pinggir tempat tidurnya. “Ada apa, Dewi?” tanyaku sekali lagi. Namun Dewi tetap saja terdiam dan menunduk. Kecurigaanku makin meluap-luap, bercampur dengan emosi. Emosiku mulai terpancing melihat Dewi tidak menyahut satupun dari pertanyaanku. Kuangkat kepalanya sampai terlihat wajahnya yang sembab dan kutampar pipi anak tunggalku ini. Tangisnya makin menjadi-jadi. Baru kali ini aku berbuat kasar pada Dewi. Selama 17 tahun aku merawatnya tak pernah sekali pun aku melukainya. Namun saat ini perasaanku benar-benar kalut.

Dewi berlari keluar kamarnya sambil menutup mulutnya yang terlihat penuh dan harus segera ia keluarkan. Ia berlari menuju kamar mandi di belakang ruang tidurku. Kuikuti Dewi, aku ingin tahu apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku.

Terdengar dari luar kamar mandi Dewi tengah memuntahkan isi perutnya. Kutunggui Dewi sampai ia keluar kamar mandi. Kupandangi sudut-sudut ruangan ini. Dan penglihatanku tertumbuk pada sebuah benda berbentuk persegi panjang berwarna putih di atas wastafel. Kuambil benda itu dan kuperhatikan lamat-lamat. Terpampang tulisan “Positif” berwarna biru di tengah-tengah benda itu.

Jantungku berdegup kencang. Siapa yang menghamili anakku? Siapa?! Rizal-kah? Iya! Pasti kekasih Dewi itu! Pasti dia lelaki bangsat yang semacam dengan Tray! Lihat saja kau Rizal! Kurasakan wajahku memanas. Darahku seakan telah mencapai ubun-ubun.

Di tengah amarahku, bel rumahku berbunyi. Aku yakin orang yang datang kali ini adalah orang yang berhubungan dengan kehamilan anakku. Tangan kiri kupakai untuk membuka pintu yang berat itu. Kuintip dari dalam, siapa sebenarnya tamu tak diundang yang datang selarut ini.”Rizal! itu Rizal!” nafasku terasa memburu. Dengan penuh ancang-ancang kupersiapkan pisau yang kugenggam di tangan kananku. Kupererat genggamanku dan kusembunyikan di balik punggung.

Pintu kubuka perlahan. Kusambut Rizal dengan senyuman dinginku. Cras! Darah segar bercucuran membasahi baju laki-laki itu. Pisauku berlumuran darah segar itu. Senyum jahat tersungging di bibirku. Kurasakan sedikit rasa lega berkelebat di pikiranku. Kuseret mayat Rizal ke ruangan tengah. Kubiarkan darah laki-laki itu mengering di ubin lantai rumahku, biar menjadi bukti aku telah membunuh pelaku yang menghamili anakku.

Dewi berlari keluar dari kamar mandi.

“Riizaaaaaall!” lolong Dewi.

“Bagaimana, Dewi? Sudah cukupkah ini membalas perlakuan Rizal padamu?” tanyaku.

Dewi menatapku dengan pandangan benci. Ia berlari ke ruang tamu dan menelepon polisi.

“Kurang ajar! Dasar anak tidak tahu terima kasih! Kau seharusnya berterimakasih padaku karena telah membunuh pacarmu yang keparat itu!” umpatku.

≈ ≈ ≈

            Kini aku terbaring lemah di sebuah kasur keras di ruangan serba putih. Masih kurasakan kentalnya darah dan bau anyir darah di tanganku.

“Dimana aku? Dimana?!”teriakku tak karuan.

“Anda berada di ruang pemeriksaan jiwa Lembaga Permasyarakatan,” jawab seorang pria berpakaian seragam polisi di luar ruangan.

“Sesaat lagi anda akan dimasukkan dalam penjara jika keadaan psikologis anda sudah membaik,” lanjut pria itu.

“Bahkan sekarang pun aku siap hidup di penjara!” bentakku.

Esoknya aku benar-benar dikirim ke bui sempit itu. Hari-hari kulewati dengan sepi yang menyergap perasaanku. Tak ada yang menemani aku, sendiri, selalu sendiri. Dimana sekarang semuanya? Hartaku? Anakku?!

Suatu siang sepucuk surat datang ditujukan untukku. Terasa aneh seorang narapidana sepertiku mendapatkan sepucuk surat. Dengan jantung yang berdegup kencang, kubuka amplop putih bergaris yang dilengkapi tulisan rapi yang indah. Sepertinya ini tulisan Dewi.

Mama, maafkan Dewi yang sudah membuat malu Mama. Kehidupan Dewi di rumah yang megah dan sunyi ini membuat Dewi tersiksa. Dewi kesepian, Dewi inginkan keberadaan Mama seperti dulu. Dewi tahu perasaan Mama saat mengetahui Dewi telah berbadan dua. Tapi Dewi sangat kecewa dengan kejahatan Mama yang telah membunuh Rizal yang Mama anggap sebagai orang yang menghamiliku.

            Karena sebenarnya pelakunya bukanlah Rizal, Ma. Melainkan papaku, Tray… Dewi tidak berani mengatakan pada Mama kalau pelakunya Papa sendiri.

            Mama.. aku sangat menyesal tidak memberitahu Mama yang sebenarnya. Malam ini, Dewi akan membalas kebodohanku. Dewi memutuskan untuk meregang nyawa tanpa siapa pun yang tahu…

Tulisan Dewi dalam surat itu lama kelamaan luntur terhapus oleh tetesan air mataku.

“Dewiiii…!” teriakanku memantul dan menggema di penjara yang sempit ini.

“Bagaimana, Lia? Puaskah kau telah membunuh anakmu sendiri?” suara itu begitu kukenal.

Kutengadahkan kepalaku. Kutatap lekat-lekat wajah laki-laki itu. “Tray!! Dasar laki-laki keparat! Kenapa kau membalas dendammu pada Dewi? Kenapa bukan padaku?! Ha? Kenapa?!” aku berteriak-teriak sekuatku.

“Karena tanpa anak itu, kau tak akan bisa hidup,” ujarnya dingin seraya membuang ludah ke arahku.

“Tray! Persetan kau!” caciku di tengah kepengapan bui ini.

 

*ini adalah cerita pendek yang saya tulis saat masih menjadi siswa SMP kelas 7 sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cerpen inilah yang mengawali langkah saya untuk terjun ke dunia kesusastraan.

Alkisah pada saat itu ada guru praktik (PPL) dari salah satu kampus di Malang yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, mereka memberikan tugas untuk membuat cerpen kepada para siswa. Cerpen ini saya tulis dan saya kumpulkan untuk memenuhi tugas tersebut, dan saya masih ingat benar respon dari guru PPL tersebut (walaupun saya sudah tidak bisa mengingat wajah dan namanya):

Guru: “Dhian, ini kamu tulis sendiri cerpennya?”

Dhian: “Iya, Bu.”

Guru: “Gaya menulis kamu sangat dewasa, seperti bukan remaja.”

Dhian: (terdiam, tidak yakin mau menimpali apa, karena ragu-ragu apakah       itu pujian atau peringatan)

Guru: “Sepertinya kamu punya kemampuan menulis yang lebih, coba ikut lomba cerpen.”

Dhian: “Baik, Bu.”

Dan setelah hari itu saya mulai berani mengikuti kompetisi menulis, kemudian menemukan bahwa inilah taman bermain dan belajar saya, sampai saat ini.