Bagi pembaca yang berusaha mengenal Marx melalui tulisan-tulisannya yang baru sampai pada tahap awalan, mereka akan menganggap bahwa dalam kepala Marx isinya hanya ada ide-ide tentang kritik sistem ekonomi dan pergolakan antar kelas dalam pengertian yang sempit. Implikasi yang kemudian muncul adalah bahwa Marx dengan teori-teorinya itu sangatlah maskulin, dan tidak ada tempat untuk femininitas. Pada kenyataannya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahkan alih-alih anti feminisme, beberapa gagasan Marx tentang perempuan sebagai individu dan peran perempuan dalam keluarga menjadi landasan bagi teori-teori feminisme yang berkembang setelah ideologi Marxisme terbukti berpengaruh di Eropa, kemudian di seluruh dunia.

 Memang tidak salah juga beranggapan bahwa dalam kepala Marx yang ada hanyalah tentang sistem ekonomi dan pergolakan antar kelas, karena dalam menganalisis perempuan pun, Marx juga mendasarkannya pada realita kehidupan pekerja atau buruh perempuan, yang notabene merupakan anggota dalam sistem ekonomi. Walaupun selama hidupnya Marx tidak pernah menulis sebuah buku atau jurnal yang didedikasikan khusus untuk membahas perempuan, namun banyak peneliti dan ilmuwan sosial yang mengakui bahwa ada periode tertentu di mana Marx banyak membahas tentang gender dan keluarga dalam tulisannya, yakni pada awal sampai pertengahan 1840an di awal karirnya, dan dari 1879 sampai 1883 yang merupakan tahun-tahun akhir karirnya. Dari analisis yang dilakukan terhadap lini masa karya-karyanya, pada periode tahun tersebut terdapat beberapa gagasan-gagasan fundamental yang merefleksikan bagaimana seorang Marx melihat perempuan. Tulisan ini akan membahas beberapa karya Marx yang ditulis pada 1840an yang mengandung pembahasan gender dan keluarga yang signifikan.

Dimulai dari karya yang pertama, Economic and Philosophical Manuscript, terbit tahun 1844 yang diakui sebagai titik awal teori liberalisme Marx. Walaupun hanya dibahas dalam satu esai yang berjudul ‘Private Property and Communism’, namun analisis Marx terhadap gender dalam karya ini cukup berharga, di mana ia berpendapat bahwa posisi perempuan bisa digunakan untuk mengukur perkembangan umum masyarakat. Memang pernyataan ini bukan pertama kali disampaikan oleh Marx, disebut-sebut pendapat ini terinspirasi dari Charles Fourier, namun bagi Marx, hal ini bermakna lebih dari sekedar saran bagi kaum laki-laki untuk merubah posisi perempuan di masyarakat.

Lebih dari itu, pernyataan tersebut merupakan argumen dialektik yang berhubungan langsung dengan keseluruhan teori kemasyarakatannya, yakni bahwa agar masyarakat mampu berkembang melebihi bentuk kapitalisnya, maka hubungan sosial baru harus dibentuk, yang tidak berdasarkan pada formulasi nilai yang mentah dan teralienasi. Menurut Marx, manusia harus mampu melihat satu sama lain sebagai individu yang berharga, bukannya dinilai berharga hanya atas apa yang bisa diberikannya kepada orang lain. Dalam hal ini, perempuan tentu memainkan peran yang signifikan, karena seringkali perempuan menjadi golongan yang termarjinalkan dalam masyarakat. Sehingga menurut hemat Marx, perempuan dan laki-laki harus mampu mencapai suatu perkembangan di mana individu dinilai berdasarkan siapa diri mereka, bukan berdasarkan kategori abstrak seperti status laki-laki dan perempuan.

Selanjutnya, Marx menyampaikan kritik tajam pada novel moralistik karya Eugène Sue, Les Mystères de Paris yang berkaitan dengan identitas dan nilai perempuan yang berkembang pada saat itu. Novel tersebut menceritakan kisah seorang Fleur de Marie yang merupakan seorang prostitusi, yang kemudian berhasil ‘diselamatkan’ dari kemiskinan dan kehidupannya sebagai penjaja seks oleh seorang pangeran kecil di Jerman. Pangeran itu kemudian menitipkan Fleur de Marie ke seorang perempuan taat dan seorang pendeta yang setiap hari menyadarkannya tentang perilaku tidak bermoral yang telah dilakukannya selama ini. Di bagian akhir buku diceritakan bahwa Fleur de Marie akhirnya menjadi biarawati dan meninggal beberapa waktu kemudian.

Dalam karyanya yang berjudul The Holy Family (1845), Marx meluncurkan kritiknya terhadap bentuk abstrak moralitas yang sesungguhnya tidak akan bisa dicapai oleh manusia, karena manusia bukanlah semata-mata makhluk spiritual saja yang bisa dengan mudah mengesampingkan kebutuhan jasmaninya. Marx menggarisbawahi keterbatasan pilihan yang dimiliki oleh Fleur de Marie karena kemiskinannnya, di mana menjadi prostitusi adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya. Marx menyampaikan bahwa Fleur de Marie itu bahkan lebih manusia daripada sebagian besar orang dalam masyarakat borjuis, karena ia adalah seseorang dengan ‘vitalitas, energi, keceriaan, elastisitas karakter’, walaupun ia hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi disebabkan oleh kehidupannya sebagai non borjuis. Sehingga dalam hal ini Marx menunjukkan kritik tajamnya terhadap opresi terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat kapitalis dan menyampaikan rasa simpatiknya terhadap nasib buruk yang dialami oleh pekerja perempuan.

Marx juga sempat menuliskan pemikirannya tentang keluarga bersama rekannya, Engels, dalam The German Ideology, ditulis pada 1846. Penggunaan istilah ‘natural’ oleh Marx dalam menjabarkan pembagian tenaga kerja menuai banyak kritik -terutama dari kaum feminis- atas ambiguitas pemaknaannya, namun secara umum istilah itu merujuk pada ‘spontanitas’ atau sesuatu yang tidak direncanakan, bukannya berkaitan dengan aspek biologis seperti yang sering digunakan dalam diskursus feminisme. Esai berjudul ‘Private Property and Communism’ dipercaya sebagai pernyataan terkuat Marx tentang hubungan antara gender dan emansipasi manusia, bahwa ‘the immediate, natural, and necessary relation of human being to human being is also the relation of man to woman’ , ‘hubungan manusia dengan manusia yang langsung, alami, dan penting, juga merupakan hubungan antara laki-laki dan perempuan’, mengindikasikan gagasan Marx bahwa hubungan antara perempuan dan laki-laki bisa dijadikan dasar penilaian perkembangan masyarakat.

Dalam karya ini Marx dan Engels juga mengamati bahwa pembagian tenaga kerja mengarah pada opresi terhadap perempuan dan anak-anak yang dilakukan oleh laki-laki. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa laki-laki diberi hak untuk memiliki properti, seperti kekayaan dan termasuk istri dan anak-anaknya, yang pada akhirnya menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai budak dari kaum laki-laki. Hal inilah yang menjadi bibit antagonisme antar kelas dan berakibat buruk pada tahap perkembangan selanjutnya, yakni perkembangan masyarakat. Karena dengan adanya perbedaan kelas dalam lingkup keluarga yakni dengan adanya opresi gender dan keluarga, lingkungan masyarakat tanpa kelas pun tidak bisa dibentuk apalagi dipertahankan. Marx dan Engels juga mengkritik dalam The German Ideology, konsep keluarga dalam masyarakat borjuis, yang menurut mereka terbentuk hanyalah berdasarkan pada ‘boredom and money as the binding link’, ‘kebosanan dan uang sebagai hubungan pengikat’ yang merupakan elemen penting dalam keberlangsungan kapitalisme.

Pada tahun 1846, diterbitkan artikel Marx berjudul ‘Mirror of Society’ yang membahas tentang bunuh diri. Artikel ini sebenarnya sebagian besar berisi terjemahan dari esai yang ditulis Jacques Peuchet dari bahasa Perancis ke Jerman, yang kemudian ditambahkan dengan pemikiran Marx tentang opresi keluarga yang ada dalam masyarakat kelas atas. Tiga dari empat kasus bunuh diri yang dilakukan perempuan dan dibahas dalam esai tersebut terjadi disebabkan oleh opresi yang diterimanya sebagai anggota keluarga borjuis. Kasus yang pertama melibatkan seorang istri yang dikurung dalam rumah oleh suaminya yang pencemburu, dan juga disiksa secara fisik dan seksual.

Yang kedua adalah seorang perempuan yang telah bertunangan dengan seorang laki-laki. Pada suatu hari ia menginap di rumah tunangannya itu. Sepulangnya ke rumah, orang tuanya menghinanya karena perempuan itu belum sepenuhnya menjadi istri dari tunangannya. Karena depresi atas perlakuan orang tuanya, ia pun bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya sendiri. Kasus yang terakhir adalah seorang perempuan muda yang tidak mendapatkan izin untuk aborsi setelah dipaksa berhubungan badan dengan suami tantenya. Marx menuliskan secara jelas rasa simpatik yang mendalam atas nasib buruk yang dialami perempuan-perempuan di keluarga borjuis tersebut. Karena itulah menurut Marx, relasi gender adalah hal yang penting dalam memahami dan mengembangkan masyarakat, dalam logika bahwa keluarga borjuis memang merupakan wujud dari opresi, dan transformasi signifikan harus dilakukan agar terbentuk lingkungan masyarakat yang bebas dari penindasan antar kelas.

Kritik terhadap keluarga borjuis kembali muncul pada salah satu karya Marx dan Engels yang paling terkenal, yakni The Communist Manifesto (1848). Tulisan ini memang didedikasikan sebagai kritik terhadap ekonomi, namun kita bisa menemukan pembahasan tentang gender dan keluarga yang cukup signifikan di dalamnya. Sebagai contoh, kita dipaparkan dengan gagasan bahwa berkembangnya mesin pabrik yang menyebabkan berkurangnya pekerjaan fisik, menyebabkan semakin banyaknya perempuan yang diserap sebagai tenaga kerja. Hal ini menguntungkan bagi pemilik modal, karena perempuan pada saat itu memang dibayar jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki hanya karena mereka adalah perempuan. Namun pada sisi lain, Marx juga menyuguhkan analisis positif tentang peningkatan peran perempuan dalam pekerjaan di luar rumah, yang dapat mengarah pada terbentuknya jenis keluarga baru. Dengan mendapatkan gaji seperti halnya laki-laki, perempuan akan memperoleh kekuasaan dalam lingkup keluarga karena mereka juga menyumbang untuk kesejahteraan keluarga, sehingga suami atau laki-laki pun tidak akan lagi bertindak semena-mena atau memperlakukan perempuan sebagai budak belaka. Dan dengan deteriorasi karakter ini, akan menghasilkan “a higher form of the family” , “bentuk keluarga yang lebih tinggi”, di mana perempuan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki.

Kemudian di penghujung karirnya, Marx terlihat semakin lantang dalam menunjukkan posisinya sebagai pemikir dalam analisis gender dan keluarga. “Programme of the Parti Ouvrier,” (1880), yang ditulis Marx bersama Paul Lafargue dan Jules Guesde, mengindikasikan secara jelas pandangan Marx tentang bagaimana perempuan harus mendapatkan haknya, “that the emancipation of the productive class is that of all human beings without distinction of sex or race” , “bahwa emansipasi kelas produktif adalah untuk semua manusia tanpa perbedaan jenis kelamin atau ras”. Pendapat itu ditulis sendiri oleh Marx di bagian pendahuluan karya tersebut. Yang menarik, jika kita pembaca di zaman modern ini tidak merasa heran atau terganggu dengan konsep emansipasi perempuan, hal tersebut tidak terjadi di Eropa pada saat itu, karena tradisi Proudhonist yang seksis mendominasi di antara sosialis Perancis. Sehingga bisa dikatakan bahwa pemikiran emansipasi yang disuguhkan Marx secara lantang pada dua abad yang lalu merupakan hal yang sangat revolusioner dan menantang.

Ulasan karya-karya Marx yang mengandung analisis gender dan keluarga ini memang tidak bisa dikatakan sudah sempurna, karena mungkin masih ada bagian-bagian lain yang terserak dan belum teridentifikasi oleh penulis. Di samping itu, beberapa dari ulasan tersebut mungkin tidak lagi revolusioner jika dilihat dari kacamata kita, pembaca abad 21 saat ini. Namun setidaknya sudah cukuplah bagi kita untuk menyatakan bahwa Marx, selama hidupnya sebagai pemikir dan teoris, tidak pernah melihat perempuan sebagai kaum yang boleh dimarjinalkan, seperti bagaimana nilai-nilai seksis berkembang luas di lingkungan masyarakat Marx pada saat itu; malah sebaliknya ia merasa perlunya jiwa revolusioner dalam diri perempuan agar tidak menjadi korban opresi.

Jiwa revolusioner itu sesungguhnya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang usang, karena selama penjajahan masih ada, perlawanan juga harus selalu ada. Selain itu, kritik Marx terhadap keluarga borjuis, jika kita refleksikan dalam situasi sekarang ini, bisa menuntun kita untuk membangun keluarga yang tidak hanya mendasarkan hubungan berdasarkan uang, kekayaan, atau gaji individu, dan juga tidak menghidupi keluarga dengan relasi gender yang timpang, namun kembali pada hati nurani kita sebagai manusia yang mendasarkan kehidupan keluarga pada kasih sayang dan kemesraan.

 

[1] Marx dan Engels 1956, h. 225

[2] Marx 2004, h. 103

[3] Marx dan Engels 1998, h. 195

[4] Karl Marx 1976, h. 621

[5] Karl Marx di David Fernbach, ed., 1992, h. 376.