Perjalanan spiritual yang akan dibahas dalam tulisan ini tidak merujuk pada satu sistem agama atau kepercayaan tertentu yang dikenal oleh masyarakat di dunia, baik yang secara sah diakui secara hukum maupun yang tidak. Konsep perjalanan spiritual yang coba saya jelaskan di sini diharapkan bisa diterapkan pada semua sistem agama atau kepercayaan, karena bersifat umum dan tidak menyinggung aspek detail atau istilah tertentu yang hanya digunakan untuk satu sistem agama atau kepercayaan. Sebagai tambahan, saya juga bukan agen pembawa firman atau penyampai ajaran sistem agama atau kepercayaan tertentu.

Perjalanan spiritual yang bisa diterapkan untuk semua agama dan kepercayaan ini berhubungan dengan bagaimana kita manusia, sebagai makhluk bernyawa dan memiliki nilai moral intrinsik -seperti merujuk pada konsep Etika Informasi oleh Floridi- yang memungkinkan kita untuk mendapatkan respek moral lebih tinggi daripada makhluk bernyawa lain seperti binatang atau makhluk tidak bernyawa seperti artefak. Dalam hal ini, saya mengasumsikan bahwa respek moral tersebut salah satunya adalah kemampuan untuk mendalami spiritualisme. Dan perdebatan yang melibatkan pendapat bahwa agama merupakan suatu ajaran yang ‘turun dari langit’ pada satu sisi dengan agama sebagai ajaran yang ‘lahir dari bumi’ di sisi yang lain merupakan suatu fenomena yang seakan belum akan menuju ambang pintu keluar tertutup. Walaupun saya tidak akan berusaha melerai perdebatan tersebut dalam tulisan ini, namun saya berpendapat bahwa bagaimana cara kita memandang dan memahami agama dalam lingkup sempit dan spiritualisme dalam lingkup yang lebih luas -tanpa memperdulikan apakah turun dari langit atau lahir dari bumi- secara individual, mempengaruhi sistem kehidupan secara sosial.

Saya mengatakan bahwa diri saya secara spesifik dan secara sadar memulai perjalanan spiritual sejak beberapa tahun yang lalu, dengan terlepas dari istilah penamaan agama (Islam, Kristen, Yahudi, dll) dan telah mengalami beberapa fenomena sosial yang akan saya bagi di sini. Salah satu yang paling menggelikan adalah bagaimana beberapa orang mulai mempertanyakan apakah agama saya, dengan bertanya, “agamamu apa?” atau “agamamu apa sekarang?” yang selalu saya jawab dengan dua pilihan: pertanyaan atau senyuman. Pertanyaan yang saya berikan sebagai jawaban adalah “Does it make a different?” yang kurang lebih berarti: “apakah agama yang saya anut merubah bagaimana anda melihat saya dan hubungan pertemanan kita?”, atau “apakah itu urusanmu?”, atau dengan senyuman saja. Menggelikan saya katakan, karena entah sejak kecil pun saya tidak pernah merasa ingin tahu agama apa yang dianut oleh kawan, saudara atau siapa pun yang saya kenal; dan saya menjadi semakin penasaran dengan hubungan antara pengalaman individual tentang spiritualisme dengan kehidupan sosial di masyarakat. Dan saya bisa yakin beberapa orang lain pernah mengalami hal serupa.

Pengalaman selanjutnya adalah -masih- berkaitan dengan penerimaan dan tuntutan sosial. Sampai sekarang kita masih dituntut untuk melibatkan diri ke dalam salah satu lingkup istilah penamaan agama, entah untuk tujuan apa -terutama jika katanya agama itu bukan urusan duniawi- yang saya sendiri belum bisa paham sampai sekarang. Dan proses perjalanan spiritual -yang katanya juga hak azasi manusia- ternyata sempat membuat saya tersadar bahwa semua penamaan itu membuat beberapa orang teralienisasi. Dalam hal ini saya mendukung konsep ‘otherness‘ yang dikembangkan oleh Edmund Husserl, bapak Phenomenology yang seakan mampu menjelaskan realita dalam pengambaran yang masuk akal dan membuat logika mengangguk setuju. Yang tidak masuk dalam anggota agama tertentu akan teralienisasi, menjadi kaum other karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi umum masyarakat.

Selanjutnya sinisme terhadap perjalanan spiritual yang dianggap jauh lebih buruk daripada menyakiti orang lain atas nama agama. Hal ini tidak masuk akal namun berterima. Banyak yang berpendapat bahwa perjalanan spiritual dilakukan oleh orang-orang yang sudah lelah dengan agama yang diberikan orang tuanya dan yang dia lakukan hanyalah berganti-ganti agama untuk mencari tuhan. Belum lagi istilah ‘kafir’ yang begitu menjual akhir-akhir ini. Padahal -jika pembaca percaya dengan tokoh nabi atau pemuka agama- apa yang dilakukan oleh beberapa dari mereka juga adalah perjalanan spiritual yang sifatnya tidak menghakimi dan tidak sempit, sedangkan yang lain mungkin melakukan hal yang berlawanan

Lalu pertanyaan yang pantas disampaikan dalam hal ini adalah: apakah perjalanan spiritual adalah sesuatu yang menyiksa? Mungkin iya secara sosial, namun -sama sekali- tidak secara individual. Menurut pengalaman pribadi, saya tidak menjadikan suatu sistem agama atau kepercayaan sebagai garis finish atau tujuan sentral; namun cenderung pada ‘kemerdekaan’. Di sinilah terdapat keunikan, karena kemerdekaan tersebut, yang berusaha dicapai secara individual ternyata dapat memberikan pengaruh baik secara individual maupun sosial. Merdeka di sini adalah bahwa saya tidak memperlukan istilah tertentu untuk berbuat suatu tindakan yang secara moral sifatnya baik yang menurut sumber lain akan diganjar pahala atau surga, tidak perlu juga repot-repot membawa identitas kaum tertentu untuk bersosialisasi; itulah merdeka secara individual. Sedangkan secara sosial, dengan pengalaman alienisasi, stigmatisasi dan tekanan sosial lain, saya pun memerdekakan pandangan dan penerimaan saya atas apa yang dipercayai oleh orang lain. Tanpa perlu ingin tahu, saya memerdekakan perjalanan spiritual yang dilakukan oleh orang di sekitar.

Tidak ada yang pasti tentang tujuan akhir perjalanan spiritual: mungkin anda akan berkenalan tuhan baru, atau bertemu tuhan yang dulu dikenalkan oleh orang tua dan guru anda, bertemu sosok yang lain, atau malah menemukan diri anda sendiri. Namun karena perjalanan spiritual itu adalah tentang kemerdekaan, maka itu tidak akan menjadi masalah.