Kita pasti sering mendengar kata perploncoan untuk merujuk pada fenomena yang terjadi di lingkungan pendidikan seperti sekolah atau universitas, yakni kegiatan ‘pelatihan’ (baca: penyiksaan) yang dilakukan oleh senior kepada angkatan pendidikan yang lebih muda atau sering disebut junior. Kisahnya pun beragam, dari yang menjadi cerita lucu sampai menjadi berita tragis yang memenuhi muka media pemberitaan. Kritik pun banyak dilontarkan atas fenomena perploncoan di lingkungan institusi pendidikan tersebut, mengutuk perilaku melanggar hak azasi manusia seperti penyiksaan fisik dan verbal yang terjadi. Namun pada saat yang sama, ada perploncoan generasi yang tidak disadari dan tidak dikritisi, sehingga terus terjadi dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah.

Sebelumnya kita perlu memahami mengapa harus ‘perempuan’ yang dibahas dalam tulisan ini. Bukan karena saya adalah seorang feminis, apalagi seksis, namun perlu disadari bahwa generasi perempuan telah menjalani proses evolusi unik yang tidak dialami oleh laki-laki. Sebagai contoh, standar ideal dalam hal tata busana dan tata rias yang ditujukan bagi perempuan cenderung lebih bervariasi dan fluktuatif mengikuti pergantian tahun, seperti bentuk alis ideal yang ternyata tidak pernah berhenti berubah sejak zaman Mesir Kuno -dengan figur kecantikan pada saat itu Ratu Nefertiti- sampai abad 21 di mana orang-orang menjadikan selebritis sebagai pedoman mereka. Bandingkan dengan bentuk alis laki-laki yang cenderung tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu direkayasa dengan alasan apapun.

Keunikan itulah yang menurut hemat saya mendorong suatu bentuk tindakan perploncoan yang terjadi di dalam lingkaran perempuan dalam lingkup lintas generasi. Lingkaran perempuan di sini merujuk tindakan perploncoan yang dilakukan perempuan kepada perempuan lain, sehingga melibatkan kejahatan fisik dan verbal di antara kaum perempuan. Kita tahu bahwa nilai idealitas tidak pernah berhenti berkembang dan berubah, seperti contoh yang saya jelaskan di atas, sehingga pergolakan dan pergeseran seakan hampir menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan.

Saya akan mulai menjelaskan contoh konkrit dari aksi perploncoan yang saya maksud dalam tulisan ini. Anggaplah secara definitif saya tergolong pada generasi Y, yang saat ini hidup di tengah lingkungan yang dikelilingi dengan dua kelompok generasi lain, yakni X dan Z. X merujuk pada golongan yang lebih tua seperti orang tua, sedangkan Z merujuk pada mereka yang lebih muda seperti anak-anak yang lahir pada tahun 2000an. Sebagai ‘anak tengah’ dalam lingkungan ini, saya sering menemui suatu aksi perploncoan yang diberikan oleh perempuan generasi X kepada Y dan Z, atau generasi Y kepada Z, misalnya dalam hal pemahaman moralitas. Orang-orang generasi X sering melemparkan pandangan yang tidak mengenakkan, atau bahkan seringkali secara terang-terangan memberikan kritik -dalam hal ini tidak membangun- pada generasi Y dan Z yang mereka anggap jauh lebih tidak sopan dan tidak bermoral daripada mereka. Contohnya saya sering sekali mendengar orang tua yang mengeluhkan anak muda sekarang yang suka mengenakan celana atau rok pendek, atau pakaian yang terbuka, dan memakai terlalu banyak riasan pada wajah mereka, mengecat rambut mereka, belum lagi tentang pergaulan bebas yang membuat mereka ketakutan setengah mati.

Ketakutan mereka mungkin beralasan, namun hal tersebut seharusnya tidak menjadi suatu pembenaran atas perploncoan karakter yang dilakukan untuk menghentikan perempuan lain untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Dan hal yang sama terjadi pada lingkungan generasi Y yang suka menilai generasi Z sebagai korban perkembangan teknologi sehingga sejak usia sekolah sudah mendapatkan akses yang mudah pada segala kemudahan, menjadikan mereka ‘dewasa sebelum waktunya’. Dalam hal ini, -perlu ditekankan- keprihatinan bukanlah suatu hal yang salah. Pada beberapa kasus, terutama dalam lingkup kehidupan sosial masyarakat, kepedulian dan solusi berawal dari keprihatinan atas suatu fenomena. Namun yang saya lihat dalam hal ini adalah sesuatu yang lain di samping keprihatinan.

Kembali pada fenomena perploncoan di lingkup institusi pendidikan, beberapa pengamat melihat tindakan tersebut seakan seperti lingkaran setan karena terjadi disebabkan keadaan psikologis dari pihak senior, yakni keinginan untuk membalaskan dendam atas apa yang terjadi padanya dahulu. Dan saya pikir hal tersebut juga merupakan dasar dari terjadinya apa yang saya sebut dengan perploncoan perempuan lintas generasi. Dengan mudahnya suatu tren masyarakat untuk berubah, misalnya perempuan generasi X mengenal kain panjang atau jarik sebagai pakaian sehari-hari mereka, yang cenderung membatasi pergerakan karena sempit dan cara penggunaannya tidak sederhana; sedangkan generasi Y -dengan segala evolusi dan infiltrasi budaya luar- bisa menikmati menggunakan rok atau celana yang secar fungsional lebih memudahkan mereka untuk berjalan atau melakukan aktivitas. Ada rasa ketidakpuasan atas pengalaman tersebut, yang kemudian memunculkan suatu keinginan untuk menghentikan ‘kebebasan’ yang dirasakan oleh perempuan-perempuan di bawah generasi X.

Sekali lagi saya tekankan bahwa keprihatinan bukanlah hal yang salah, namun yang tidak tepat adalah jika kritik yang disampaikan tersebut hanya untuk menghakimi, mencegah suatu usaha pemberdayaan diri, penghinaan atas karakter, dan menjadikannya sebagai ajang pembenaran diri. Agaknya kita perlu kritis dan berkaca dengan fenomena yang sepertinya hampir berlangsung tanpa kita sadari ini. Karena yang ironis, perempuan dari generasi mana pun ternyata masih sering dianggap sebagai korban, dilemahkan dan dikesampingkan; namun pada saat yang sama perempuan tersebut malah bersikeras membenarkan diri mereka sendiri untuk menyalahkan perempuan lain yang berbeda. Pemberdayaan tidak perlu berawal dari suatu fenomena pelemahan, namun perlu didasari kesadaran dan pemahaman yang dimulai dari diri, lalu merembet ke sesama.