“Jangan bangga dengan overwork“–kira-kira seperti itulah pesan yang beberapa bulan terakhir sering muncul dalam kiriman yang diedarkan oleh jaringan media sosial saya. Sebagai seorang pekerja, kiriman semacam itu sering kali membuat saya terhenyak lalu berpikir selama beberapa saat. Memikirkan tentang definisi overwork, kewajiban dan hak pekerja, dan menimbang-nimbang hal-hal yang telah terjadi pada diri saya sendiri.

Selain kiriman-kiriman di media sosial tersebut, ada kejadian menarik yang pada akhirnya membuat saya merasa yakin untuk menulis artikel ini. Suatu siang, setelah keluar dari sebuah gedung di daerah Bendungan Hilir, Jakarta, saya memutuskan untuk menghisap sebatang rokok di trotoar sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kerja. Berhenti sejenak dan merokok di pinggir jalan sambil melihat kendaraan dan orang lalu lalang menjadi kebiasaan yang sering saya lakukan semenjak pindah ke Jakarta. Saat rokok yang saya hisap sudah setengah jalan, seorang perempuan muda–mungkin hanya terpaut tiga atau empat tahun dari saya–berpakaian batik dan celana panjang serta sepatu kulit menghampiri saya. Tanpa bertegur sapa atau memperkenalkan diri, ia langsung bertanya:

“Kalau lu gak betah di tempat kerja lu, apa yang mau lu lakuin? Bertahan atau resign?”
Saya menjawab pertanyaan tersebut tanpa berpikir panjang, “menurut gue gak ada perusahaan atau tempat kerja mana pun yang bisa membeli manusia.”
Perempuan itu terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan jawaban yang diterimanya. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan saya yang masih akan menghabiskan sebatang rokok yang saya nyalakan.

Jika kemudian pembaca berpikir bahwa saya adalah seseorang yang tidak membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup, pendapat itu sepenuhnya tidak benar. Saya sebenarnya sama dengan jutaan orang lain yang menghabiskan kira-kira hampir 12 jam sehari untuk perjalanan menuju tempat kerja dan melakukan pekerjaan saya. Semuanya saya lakukan untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan seperti membayar sewa kamar kos, membeli makanan, dan tentu saja, membeli rokok yang akan habis satu bungkus dalam satu hari. Jawaban yang saya berikan kepada perempuan tersebut sebenarnya juga masih menjadi perhatian dan pertimbangan khusus saya sebagai seorang pekerja. Tentang kewajiban dan hak saya, tentang jam kerja yang dibutuhkan (socially necessary working time), dan tentang jam lembur.

Teori Marxisme mengenal socially necessary working time atau jam kerja yang memang harus dijalankan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Durasinya beragam tergantung dari budaya kerja di suatu wilayah atau negara, jenis usaha yang dijalankan, dan keadaan sosial masyarakat di suatu wilayah. Selain itu, durasi jam kerja juga bergantung pada kualitas buruh, kualitas mesin, kualitas distribusi, volume buruh, volume mesin, dan tingkat penjualan. Di Indonesia secara umum, jam kerja yang harus dijalankan agar kebutuhan sosial dapat terpenuhi adalah delapan jam dalam satu hari atau 40 jam dalam satu minggu. Hal tersebut tertuang dalam UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Baca juga: Bagaimana Hari Buruh Lahir?

Tetapi pada kenyataannya, saat masih usia sekolah kita mungkin sering mendapati orang tua kita yang masih sibuk menerima telepon atau menghadapi berkas-berkas pekerjaan di malam hari atau saat akhir pekan. Lalu saat ini mungkin kita sendiri melakukan hal tersebut. Hal tersebut beberapa kali sering tidak kita sadari, terutama pada masa seperti ini di mana kita seakan-akan dituntut untuk bisa menjawab pesan yang masuk ke aplikasi telepon genggam kita kapan pun dan di mana pun. Membalas pesan atau mengangkat telepon yang berhubungan dengan pekerjaan di luar jam kerja menjadi semacam kewajiban yang tidak tertulis karena ponsel pintar dan aplikasi obrolan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Selain itu, kita juga sering mendengar istilah lembur, dan mungkin kita juga sering melakukannya. Lembur berarti melakukan aktivitas pekerjaan di luar durasi jam kerja yang semestinya. Beberapa orang sering melakukan lembur untuk menambah penghasilan mereka atau memastikan pekerjaan di tempat kerja mereka tetap berjalan. Pada saat yang sama, beberapa pekerja memang terikat kontrak dengan tempat bekerja mereka yang mengharuskan mereka bekerja lembur pada situasi-situasi darurat. Terlepas dari alasan apapun, lembur mengambil jatah waktu yang semestinya dapat digunakan untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan, baik berlibur di suatu tempat atau sesederhana menghabiskan sepanjang hari untuk berdiam diri dalam kamar untuk membaca buku.

Sekarang ini, saat kepemilikan kapital semakin terbatas pada segelintir golongan yang sering kali tidak terlihat, pertentangan kelas adalah pertentangan waktu. Yakni antara waktu yang kita habiskan untuk bekerja dan waktu yang kita miliki untuk melakukan hal-hal lain yang berkaitan dengan upaya ‘menjaga kewarasan’.

Baca juga: Menyadari Kesadaran Kelas

Menurut pengamatan Marx, orang-orang yang duduk di kursi direksi atau penentu keputusan di suatu perusahaan memiliki peran penting terkait jam kerja dan lembur. Pada satu titik, mereka membuat para pekerja yang sudah ada bekerja melebihi jam kerja yang dibutuhkan karena akan menghemat biaya yang mesti dikeluarkan untuk pekerja. Setinggi apapun uang tambahan yang diberikan untuk pekerja yang lembur tidak akan lebih banyak dari jumlah biaya yang harus dikeluarkan jika merekrut pekerja baru agar target produksi dapat dipenuhi. Namun di sisi lain, beberapa dari mereka juga tidak memiliki pilihan karena harus bersaing dengan perusahaan lain dalam sistem kapitalis yang mencekik.

Di sisi lain, bekerja lembur untuk mendapatkan bayaran tambahan dan memastikan agar pekerjaan dapat terus berjalan dan terselesaikan bahkan sampai mengambil jatah pekerjaan pekerja lain sebenarnya memicu pertentangan sesama pekerja. Para pekerja akan bersaing satu sama lain dan hal tersebut menurut Marx akan menghambat persatuan kelas pekerja dan memperkecil kesempatan untuk melawan tirani kapitalisme.

Dengan sejumlah pertimbangan tersebutlah saya kemudian mencoba menempatkan diri dalam ruang dan waktu yang sesuai dengan kemampuan saya sebagai seorang manusia. Kesadaran tentang eksistensi sebagai manusia, terlepas dari substansi yang saya miliki–sebagai seorang pekerja, penulis, lulusan universitas, dan lain-lain–menjadikan saya ingin tetap menjaga kesehatan fisik dan mental. Kemudian kesadaran kelas pekerja juga membuat saya tetap ingin menyeimbangkan kewajiban yang mesti saya lakukan dan hak yang mestinya saya peroleh. Oleh karena itu, saya selalu berpendapat tidak ada perusahaan, pabrik atau tempat kerja manapun yang bisa membeli manusia terlepas dari besar gaji yang diberikan.