Di tengah kusak-kusuk para sosiolog di ruang kerja mereka, atau bahkan orang tua di tengah rutinitas mereka yang monoton, tentang kecemasan perkembangan teknologi canggih yang begitu pesat seakan tidak mampu disumbat, ada beberapa dari kita yang menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih pantas disanjung daripada dihujat. Salah satu alasannya adalah karena peningkatan ‘instan’ kesadaran masyarakat, terutama pengguna media sosial. Yang saya maksud dengan kesadaran masyarakat yang instan itu adalah bagaimana media sosial mengingatkan otak kita yang mulai malas menghafal tentang perayaan hari besar atau penting, mulai ulang tahun ayah sendiri sampai peringatan tahunan atas suatu kejadian yang tercetus puluhan tahun lalu.

Hal tersebutlah yang terjadi di beranda media sosial pribadi saya, dimana banyak teman-teman yang memang selama ini saya kenal cukup kritis dalam diskursus gender, mendukung seratus sebelas persen feminisme atau yang mengaku pengagum wanita mulai menuliskan kata-kata mutiara tentang keperempuanan, sehubungan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional pada hari ini, 8 Maret. Sedangkan saya sendiri tidak lihai membuat kata-kata mutiara, tidak pula merasa pantas untuk menasehati perempuan lain agar bisa bertindak tanduk yang sejalan nilai moral yang terkadang terlalu digeneralisasikan untuk semua makhluk dengan vagina di selangkangannya. Saya memilih untuk membahas gagasan perjuangan perempuan dari sudut pandang yang mungkin juga tidak akan diterima atau bahkan ditantang oleh banyak kalangan. Namun itulah seni dari jaringan berpikir manusia, seperti pemikiran Hegel bahwa setiap penjelasan atau teori, kecuali Ide Absolut, mempunyai kesalahan; beberapa bagian dari teori mesti akan salah atau tidak lengkap. Ide lain pun akan muncul untuk menegasinya, dikenal dengan istilah tesis – antitesis.

Menurut sejarahnya, Hari Perempuan Internasional berakar dari gagasan Hari Perempuan yang pertama kali diperingati pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis Amerika. Momen penting selanjutnya adalah demonstrasi turun ke jalan yang dilakukan buruh pabrik perempuan pada 8 Maret 1917 di Petrograd, Rusia untuk menuntut makanan layak dan perdamaian. Selanjutnya dilakukan beberapa konferensi dan demonstrasi lain yang dilakukan kaum perempuan di beberapa negara Barat seiring dengan perkembangan paham sosialis-komunis pada saat itu. Diplopori oleh pemerintah Uni Soviet yang menyatakan bahwa Hari Perempuan Internasional adalah hari libur kerja, beberapa negara penganut paham komunis mengikuti jejaknya, seperti Cina dan Spanyol. Adapun PBB yang kemudian menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari PBB untuk hak perempuan dan kedamaian dunia, selanjutnya diikuti dengan persetujuan nilai di antara masyarakat dunia bahwa 8 Maret adalah Hari Perempuan Internasional dengan cara perayaan yang tidak terikat pada satu aturan dasar.

Foto demonstrasi buruh perempuan di Petrograd (sumber Wikipedia)

Sepanjang pengalaman saya sebagai seorang perempuan dan akademisi, gagasan pembelaan perempuan itu seringkali -bahkan terlalu sering- dimulai dari bawah. Saya tidak menyalahkan bahwa perjuangan kaum perempuan yang awalnya memang berkembang di masyarakat dengan sistem politik sosialisme itu berawal dari pergolakan kelas, dimana kaum perempuan yang berada di kelas base merasa perlu melawan demi keberlangsungan hidup secara umum, dan kemerdekaan sebagai perempuan secara khusus. Dan agaknya perjuangan itu sampai sekarang, paling tidak di kalangan masyarakat yang saya tinggali, masih menempatkan perempuan itu di kelas base yang perlu dibela. Di sinilah kritik saya muncul.

Sekali lagi, saya paham benar bahwa perempuan masih sering menjadi korban dalam berbagai aspek, mulai dari psikologis, fisik, dan verbal. Kita hampir tidak pernah berhenti mendengar cerita perempuan yang diperkosa, disiksa oleh pasangan, atau dikebiri secara haknya. Dan kaum perempuan merasa hal-hal tersebut yang membuat mereka perlu dibela. Menurut saya, struktur pemikiran ini memiliki suatu kelemahan. Jika kita sampai detik ini, mungkin esok hari, dan keesokan harinya lagi, menjadikan diri perempuan sebagai korban yang perlu dibela, maka akan selamanya perempuan itu menjadi pengemis sosial. Perempuan harus disejahterakan karena ia tidak mampu, perempuan harus dibela karena ia lemah, perempuan harus ditinggikan karena dia rendah. Hal ini menurut saya harusnya sudah menjadi sesuatu yang usang dan tidak bisa digunakan lagi sebagai modal bertahan hidup.

Saya sebagai perempuan ingin merayakan Hari Perempuan Internasional ini dengan menempatkan perempuan sebagai pemenang, sebagai makhluk sejahtera, sebagai makhluk kuat. Saya akan menjadi sinis dengan kata-kata mutiara yang alih-alih berusaha mengangkat martabat perempuan namun jika dilihat dari sudut lain malah meyakinkan khalayak bahwa perempuan itu masih lemah untuk perlu diberdayakan. Dan jika pembaca bisa memahami gagasan yang saya bahas di sini, anda mungkin akan mulai berpikir bahwa kita tidak perlu mengorbankan diri sendiri, melemahkan diri sendiri agar bisa diangkat, namun kita inilah sendiri sudah menjadi pemenang dengan identitas, rupa, hobi, pekerjaan, ideologi, dan orientasi masing-masing.

Selamat Hari Perempuan!