Kajian ilmu humaniora dan budaya agaknya memang tengah gencar-gencarnya ‘diserang’ oleh gejala post-, yang bisa diterjemahkan secara harfiah sebagai pasca. Paling tidak diskursus post-truth atau pasca kebenaran merupakan salah satu hal yang paling sering dibahas dan didiskusikan akhir-akhir ini. Kemudian, masih dalam kerangka konsep pasca-, baru saja saya mengikuti sebuah diskusi yang membahas tentang konsep postmemory.

 

 

Wacana tentang memori atau ingatan secara keilmuan sulit untuk dipisahkan dari ranah humaniora, seperti psikologi, sejarah, dan sosial budaya. Namun dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana masing-masing cabang keilmuan di atas mengkaji signifikansi memori, baik personal maupun kolektif; walau harus diakui ketiganya akan berkelindan dengan harmonis dalam pemaparan di tulisan ini.

Istilah postmemory diperkenalkan oleh Marianne Hirsch pada tahun 1992, sebuah konsep yang pada perkembangannya banyak dirujuk oleh para peneliti lain dengan latar belakang ilmu yang beragam. Pada awalnya istilah ini hanya mencakup hubungan antara anak-anak penyintas tragedi Holocaust dan memori yang dimiliki oleh orang tua mereka. Namun pada perkembangannya, penggunaan istilah ini melebar dari sekadar hubungan kekeluargaan dan batasan generasi, sehingga dimaknai sebagai hubungan yang dimiliki oleh generasi selanjutnya atau saksi jauh dengan trauma pribadi, kolektif, dan kultural orang lain; serta pengalaman-pengalaman yang mereka ‘ingat’ atau ketahui hanya melalui perantara cerita, gambar, dan perilaku.

Dari penjelasan tersebut, rasanya sebagian besar dari kita tidak bisa menolak ruang yang telah membuat kita menjadi bagian dari generasi postmemory. Apalagi anggaplah jika dalam satu keluarga terdapat ‘tradisi lisan’ penceritaan pengalaman yang dipertahankan dari satu generasi awal ke generasi berikutnya, maka rantai postmemory dan upaya terus mengingat pengalaman yang telah terjadi di masa lalu akan terus berlangsung. Tidak berhenti di situ, pengamatan lebih lanjut akan membawa pada kesadaran akan adanya nilai yang dipertahankan dari rantai tersebut. Salah satu kasus yang akan dijadikan contoh dalam tulisan ini adalah pewarisan ingatan akan tragedi pasca G30S di antara keluarga penyintas dan kontestasinya di tengah gelombang narasi besar kejahatan komunisme.

Penjabaran tentang postmemory dalam diskusi yang saya ikuti membuat saya tersadar dan lebih memahami apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa anggota ‘generasi tua’ dari keluarga saya. Sehubungan dengan postmemory tragedi pasca G30S, saya berada di lapisan generasi ketiga yang memiliki hubungan dengan pengalaman yang dirasakan kakek saya sebagai seorang tahanan politik dan mantan tahanan politik Orde Baru. Begitu pun sama dengan posisi saya dalam hubungan dengan nenek yang sempat menceritakan juga pengalamannya menjadi seorang istri yang ditinggalkan oleh suami selama lebih dari sepuluh tahun di tengah ruang gerak yang sempit (baca: disempitkan).

Ibu saya menempati ruang generasi kedua sebagai anak dari seorang tahanan politik yang memiliki peran ganda, yakni sebagai saksi sejarah sekaligus penyambung rantai postmemory dengan dua anaknya. Sementara itu saya berada dalam garis keturunan tingkat ketiga dalam skema ini. Dengan genealogi tersebut, dapat dikatakan saya menjadi seorang individu yang belajar tentang pengalaman dan kisah terkait kehidupan penyintas tragedi pasca G30S melalui narasi yang dibentuk dan diturunkan dari dua generasi sebelum saya.

Sejauh ini, tepatnya sebelum saya diperkenalkan dengan istilah postmemory, saya menganggap proses penurunan memori dan narasi tersebut tidak ada bedanya dengan upaya pengajaran moral yang biasa dilakukan oleh generasi sebelumnya. Namun kemudian saya mulai menyadari adanya proses rekonsiliasi trauma dan kontestasi nilai yang berkelindan dalam proses pewarisan tersebut.

Sejauh yang saya ingat, kakek dan nenek saya tidak pernah menunjukkan dirinya kepada saya sebagai individu yang mengalami trauma personal maupun kolektif secara eksplisit. Nilai yang berhasil saya tangkap dari cerita yang mereka sampaikan adalah tentang keberanian untuk tetap bertahan hidup, harapan akan masa depan yang lebih baik, dan upaya untuk membuka ruang bagi narasi kecil. Hal tersebut terbukti pada pengalaman yang saya hadapi saat usia sekolah di mana pelajaran sejarah dan buku-buku yang diajarkan di institusi sekolah menawarkan narasi dan nilai yang berbeda dengan yang saya dapatkan dari cerita yang disampaikan oleh kakek saya. Di usia sekolah dasar saya mulai menyadari adanya perbedaan dan pertentangan tersebut, walau belum tahu menahu tentang konsep kekuasaan dan kontestasi narasi besar vs narasi kecil; sesuatu yang baru saya sadari saat menginjak usia dewasa.

Yang menarik kemudian adalah cara penyampaian cerita yang cenderung berbeda oleh ibu saya. Menurut pengamatan pribadi, ibu saya tidak ragu-ragu dalam menyampaikan trauma dan kekecewaannya atas hal-hal yang lepas dari kendali dan keinginannya. Salah satu yang paling jelas adalah rasa ketakutannya dengan suara musik drum band yang didasari oleh trauma terhadap kejadian penangkapan ayahnya yang disaksikannya sendiri saat ia berusia lima tahun. Selain itu, rasa kecewa atas diskriminasi yang dibentuk oleh pemerintah Orde Baru dengan tidak mengizinkan keturunan tapol untuk bekerja di institusi negeri juga masih membekas dalam benaknya.

Pada beberapa titik ia merasa upayanya untuk mendobrak adat dan tradisi Jawa yang membelenggu kebebasan perempuan dengan berkuliah dan menikah pada usia (yang dianggap) terlambat, sia-sia saja, karena statusnya sebagai anak seorang tapol tidak memungkinkannya menjadi dosen di universitas negeri. Singkatnya, ibu saya memiliki keberanian yang lebih besar untuk mengutarakan kekecewaannya dan membagi trauma yang dirasakan sekaligus menyisipkan kritik terhadap pemerintah Orde Baru.

Dari dua cara penceritaan yang berbeda, memang ada beberapa nilai yang tidak sama persis yang menurut saya coba diwariskan oleh kakek dan ibu saya. Asumsi saya dalam hal ini mengarah pada kemampuan mereka berdua untuk merekonsiliasi rasa sakit dan trauma. Menurut saya, kakek saya mungkin sudah mampu ‘sembuh’ melalui proses rekonsiliasi yang dilakukannya dengan melakukan proses penjalinan postmemory dengan anak-anaknya, termasuk ibu saya, sampai sepeninggalnya. Sementara rekonsiliasi tersebut masih berlangsung dalam diri ibu saya, dengan meneruskan estafet postmemory tersebut kepada saya.

Di saat yang sama, ada nilai yang diupayakan untuk terjaga di tengah skema tersebut, sesuatu yang saya anggap sebagai narasi kecil, yakni adanya wacana yang tidak tersentuh, tidak terangkat ke permukaan, tidak digunakan sebagai alat kekuasaan. Narasi kecil tersebut sampai hari ini terus berkontestasi di tengah masyarakat yang terbentuk oleh narasi besar pemerintah Orde Baru terkait kejahatan komunisme, keagungan militerisme, dan romantisisme akan stabilitas negara.

Dengan memperluas kacamata pandang, saya menyadari mulai tumbuhnya rantai-rantai postmemory yang tidak hanya terbatas pada hubungan kekeluargaan; sejalan dengan perkembangan istilah postmemory itu sendiri. Hal tersebut terlihat dari geliat beberapa golongan masyarakat untuk menawarkan narasi-narasi kecil di tengah ketakutan dan ancaman yang tidak bisa dibilang sepenuhnya hilang setelah rezim berganti. Medianya tidak hanya melulu melalui penceritaan lisan, namun merambah ke penggunaan teknologi berbasis internet dengan harapan tersebarnya nilai dan narasi kecil tersebut ke ruang-ruang yang lebih jauh, yang tidak terjangkau secara ragawi.

Akhirnya, setelah diperkenalkan dengan konsep dan istilah postmemory, dan melakukan refleksi atas apa yang saya alami dan lakukan terkait penerimaan dan penyampaian narasi kecil dari penyintas tragedi pasca G30S, satu simpulan dapat ditarik. Pada titik ini saya merasa kakek saya memilih untuk tidak menyerah atas keadaannya pada saat itu, salah satunya untuk melakukan pewarisan atas pengalaman yang dialaminya. Sementara itu ibu saya memilih meneruskan rantai postmemory tersebut untuk terus menyadarkan saya tentang apa yang telah dilakukan negara terhadap masyarakatnya sendiri, dan mendorong saya mengambil langkah untuk bertindak sesuatu.

Terlepas dari semuanya, mereka sepertinya tidak ingin menimbulkan percikan kebencian yang bersandar pada norma hitam-putih; seperti kritik yang sering disampaikan kepada penyintas sebagai pembenci negara sendiri. Pencarian tentang siapa yang salah dan siapa yang benar rasanya memang bukan tujuan dari rekonsiliasi trauma dan pengalaman, karena rantai postmemory ada dan disambung terus untuk memungkinkan adanya pemikiran yang lebih kritis dari sekedar kebencian.