Pada penghujung tahun lalu, saya sempat mendapatkan kesempatan mahal untuk memandu salah satu program Festival Sastra Lontar yang diadakan Yayasan Lontar, yakni pemutaran film dokumenter Mendengar Si Bisu Bernyanyi yang disutradarai Srikaton dan diskusi dengan John H. McGlynn, penerjemah karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi John, acara tersebut memang bukan pertama kalinya ia hadir di hadapan publik untuk menceritakan pengalamannya menjadi penerjemah Pram. Namun menurut saya, pada momentum itulah John mengingat kembali sosok penulis itu sebagai seseorang yang ia kenal dan kenang.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan John H. McGlynn

Agaknya memang tidak mengherankan jika sampai hari ini masih terdapat sejumlah peneliti yang berusaha menggali kembali sosok Pram jika mengingat sumbangan karya dan pemikirannya, serta perlakuan yang diterimanya dari negara. Para peneliti tersebut–sebut saja di antaranya Gilang Saputro, Savitri Scherer, Muhammad Muhibbuddin, di samping sejumlah mahasiswa yang menjadikan Pram sebagai subjek penelitian tugas kuliah–tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan Pram. Dalam hal ini, meskipun saya bukan orang yang menggandrungi dan mengelu-elukan empirisisme dalam penulisan karya; saya mengakui jarak ruang dan waktu, khususnya dalam kajian biografis, menentukan metodologi dan luaran dari proses mengenang dan menarasikan seorang sosok.

Sekaya apapun tulisan yang dibuat oleh seseorang, yang kemudian dibaca oleh orang lain bahkan empat sampai lima generasi setelahnya, agaknya tidak akan pernah menjadi pengganti utuh dari penulisnya sebagai seorang manusia. Karya yang ditulisnya dapat berfungsi sebagai museum dari arsip isi kepala yang dapat terus dikunjungi bahkan saat tubuh materialnya telah ditelan kefanaan. Karya adalah wadah yang digunakan penulis untuk menampung hal-hal yang ingin dan diizinkannya untuk diketahui selain dirinya, orang-orang terdekat yang sabar mendengarkan racauannya, juga langit-langit ruang kerjanya. Dalam kajian biografis, periset akan menjadikan karya-karya tersebut sebagai medan ekskavasi untuk mengenal sosok yang dikajinya dalam jarak tertentu, yang–paling tidak sampai hari ini–tidak bisa diakali. Pekerjaan yang dilakukan para peneliti tersebut pun berada pada taraf mengenal Pram, melalui ruang-ruang yang disediakan oleh Pram sendiri; membedakan mereka dari John McGlynn yang tidak hanya bersentuhan dengan karya Pram, tetapi juga diri Pram sebagai manusia sehingga memiliki modal untuk mengenang penulis tersebut.

Pram yang Terkenal

Sepanjang hidupnya dan juga selepas kepergiannya, layaknya publik figur lain, Pram dikenal oleh publik dengan cara yang tidak tunggal. Negara, khususnya pemerintah Orde Baru, pernah memainkan peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang Pram. Propaganda anti-komunis menyudutkannya sebagai penulis dengan karya yang dituduh mengandung dan menyebarkan ajaran terlarang. Buku-bukunya dilarang beredar dan dibaca berdasarkan Surat Edaran Nomor 73106/Sekjen PDK/1980 yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor: Kep-052/JA/1981. Aturan tersebut dikeluarkan pemerintah Orde Baru setelah sejumlah manuskrip karyanya direbut dan dibakar aparat saat ia ditangkap dan mendekam dalam tahanan penjara dan kamp Pulau Buru. Orde Baru mengonstruksikan sosok Pram sebagai musuh ideologis yang ujung penanya dapat merusak stabilitas negara.

Baca juga: Sepak Terjang Kejaksaan Agung dalam Pelarangan Buku

Dalam ruang ketidakmungkinan tersebutlah kemudian penerjemah hadir, salah satunya John McGlynn, yang memang memiliki ketertarikan pada bahasa dan sastra Indonesia dan telah membaca karya-karya Pram saat ia masih menempuh studi di Amerika Serikat, negara kelahirannya. Kerja penerjemahan yang dilakukan oleh John memang tidak serta merta mengubah persepsi publik tentang Pram dan karyanya, apalagi mempengaruhi kebijakan pemerintah Orde Baru, tetapi mampu menghadirkan karya Pram ke tengah para pembaca asing. Menurut pengakuan John, Pram sendirilah yang mencarinya untuk menerjemahkan karya-karya yang ditulisnya saat mendekam di kamp Pulau Buru. Penerjemahan atas karyanya ke bahasa asing itulah yang bahkan kemudian menjadi minyak bagi obor kehidupannya yang menjadi bahan bulan-bulanan pemerintah Orde Baru. Meskipun dalam benaknya yang terdalam, ia sebenarnya menginginkan tulisannya dibaca oleh masyarakat Indonesia; sebagaimana seringkali dipesankannya, “menulislah untuk bangsamu sendiri, bukan untuk orang luar.”

Di sisi lain, sebagai seorang penulis yang masuk dalam pusaran medan sastra dan kebudayaan Indonesia utama pada saat itu, Pram juga dikenal sebagai sosok yang “dicintai juga dibenci” oleh sesama penulis. Pertentangan tersebut bisa dikatakan lumrah jika mengingat panasnya polemik kebudayaan dan perdebatan di antara para pemikir, sastrawan dan budayawan selama dekade-dekade awal negara Indonesia terbentuk. Pada saat itu, Indonesia sebagai sebuah nasion yang baru saja terlepas dari cengkeraman kolonialisme sedang dalam upaya mencari definisi dari identitas dan jati diri ke-Indonesia-an; suatu pembahasan yang tidak hanya diperbincangkan oleh mereka yang dikonstruksikan dalam narasi sejarah dominan sebagai “tokoh-tokoh bangsa”, tetapi juga lingkaran aktivis dan pemikir kebudayaan.

Pram sempat tergabung dalam Gelanggang Seniman Merdeka yang terbentuk dengan upaya menghindari “melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan”, dan bekerja untuk “memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat” sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia”. Dalam perjalanannya, Pram memutuskan untuk keluar dari perkumpulan sastrawan dan seniman Angkatan ’45 tersebut dan menjadi bagian dari “kelompok oposisi”, yakni Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra menjadikan Revolusi Demokrasi Rakyat sebagai cita-cita gerakan kesenian yang kemudian dimanifestasikan dalam prinsip 1-5-1, yakni “Politik sebagai Panglima”; karya seni tidak bertentangan dengan cita-cita rakyat, meluas dan meninggi, sebaran karya seni mesti melebar dan tetap unggul di kualitas, tinggi mutu artistik dan ideologi, karya seni mesti mampu memadukan ideologi sebagai isi dan keindahan sebagai bentuknya, memadukan tradisi baik dengan kekinian revolusioner, memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner; dan turun ke bawah (turba).

Perpindahan yang dilakukan oleh Pram tidak dapat hanya dimaknai sebagai berubahnya status seorang sastrawan atau seniman dari anggota suatu kelompok menjadi anggota kelompok lain, tetapi juga dinamika ideologi yang dialami oleh seorang pelaku kebudayaan sekaligus warga negara dari sebuah nasion yang masih mencari jati dirinya. Dasar pemikiran dari organisasi kebudayaan yang menjadi rumah sekaligus laboratorium pun mempengaruhi gaya penulisan serta ideologi teks dari karya-karya yang dibuat Pram yang kemudian sering disebut dengan realisme sosialis.

Baca juga: Kelindan Pelaranggaran Hak Cipta dan Sensor

Karya-karya Pram yang ditulis di Pulau Buru, yang kemudian dikenal dengan Tetralogi Pulau Buru, dapat dikatakan sebagai tulisannya yang paling dikenal oleh publik Indonesia, berhasil menembus tembok pembatas yang pernah dibangun dengan tinggi dan tebal oleh Orde Baru dan melintasi lipatan jarak antar generasi. Namun bagi John sendiri, karya yang paling berkesan baginya adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang terbit dalam dua jilid. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu menggambarkan secara mendetail situasi dan kondisi Tempat Pemanfaatan (Tefaat) Pulau Buru, salah satu kamp tahanan politik Orde Baru yang menjadi saksi dari kehidupan orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan Gerakan 30 September, partai komunis, dan kelompok-kelompok lain di bawah bendera partai komunis. Salah satu hal yang membuat karya tersebut “mahal” jika dibandingkan teks-teks memoar yang ditulis oleh penyintas lain adalah lampiran daftar tapol yang meninggal di Pulau Buru, ditulis dalam kategorisasi rinci, mulai dari nama, nomor foto, unit, asal daerah, dan sebab kematian.

Kejatuhan Orde Baru pun kemudian menandai terbukanya kesempatan yang lebih besar bagi Pram sebagai seorang penulis, sekaligus publik masyarakat sebagai penikmat karya sastra. Setelah bertahun-tahun harus bersembunyi dari aparat dan pemerintah dan berada di bawah ancaman ditangkap hanya karena membaca buku-buku Pram, kini pembacaan atas museum-museum karya telah menghasilkan sejumlah tulisan baru yang memungkinkan dikenalnya Pram dalam rentangan dan sekaligus lompatan generasi.

Pram yang Terkenang

Relasi yang terbentuk antara Pram dan John, jika dirunut dari arsip foto dan ingatan, sesungguhnya dapat dikatakan lebih dari hubungan profesional penulis dengan penerjemahnya. Melalui perkenalan yang terjalin lebih dari dua puluh tahun, mereka menembus batas-batas profesionalitas tersebut dan terlibat dalam hubungan yang kemudian saya sebut dengan “bapak ideologis dengan anaknya”. Hal tersebut saya baca dari cara John mengenang Pram di luar barisan kata yang diguratkan Pram dengan ujung penanya atau dicetaknya di atas permukaan kertas dengan jemarinya yang bergerak menekan tuts papan ketik seraya mengapit batang rokok.

Arsip-arsip foto John–dengan rambut yang masih hitam–berpose di samping Pram yang sempat dibagikan oleh John dalam diskusi itu mengantarkannya ke momen mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang meninggalkan ampas kesan dalam benaknya sampai hari ini, hampir 15 tahun kematian Pram. Salah satunya adalah saat John memboyong Pram ke kampung halamannya dan bertemu dengan keluarganya. Pada satu kesempatan, John, ibunya, Pram, dan Ibu Maemunah duduk bersama untuk mendengarkan pembacaan cuplikan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. John menceritakan Pram sempat menangis di tengah-tengah pembacaan tersebut, karena momentum itu adalah untuk pertama kalinya ia mendengarkan kata-kata yang dituliskannya sendiri. Tangis tersebut adalah ekspresi seorang Pram sebagai seorang penulis manusia yang menulis, sisi humanis dalam jiwanya yang sering kali luput dari pembacaan orang-orang yang mengenalnya dari teks di atas permukaan kertas. Dan John hadir dalam momentum yang mengangkat salah satu aspek paling subtil dari diri Pram sebagai seorang manusia.

Baca juga: Utopia dan Uforia Pram

John mengenang Pram sebagai seorang bapak baginya, yang hadir dalam kehidupannya saat ayah kandungnya tidak bisa ia dengar lagi suaranya. Bahkan John menyatakan adanya kesamaan antara kedua sosok yang pernah memberikan makna dalam hidupnya tersebut, khususnya sebagai orang yang selalu berpesan “jangan berkata jangan”, termasuk “jangan berhenti menulis.” “Jangan berhenti menulis”, ujar seorang Pram yang memang telah membuktikan kekerasan hati dan niatnya untuk terus menulis meskipun manuskripnya dirobek dan dibakar, bukunya diberedel, dan bahkan tubuhnya sendiri dibuang oleh tangan-tangan besi yang digerakkan nafsu untuk menguasai.

Di sisi lain, John juga mengenang Pram tidak hanya sebagai penulis, namun juga seorang pembaca. Agaknya bukanlah sebuah rahasia atau perdebatan lagi bahwa salah satu bekal utama seorang penulis untuk menghasilkan karya yang baik adalah pengetahuan dalam kepalanya yang diperoleh dari hasil membaca, mempelajari dan mengapresiasi karya-karya yang dibuat oleh penulis lain. Meskipun John mengakui Pram cukup selektif dalam menentukan karya yang ingin dibacanya, ada satu alasan yang membuat Pram akan memberikan penghargaan pada suatu karya atau seorang penulis, yakni komitmen sosial. Kita yang hanya mengenal Pram saat ini melalui buah karyanya, bisa saja berdebat panjang lebar tentang apa yang dimaksudkannya sebagai “penulis berkomitmen sosial”, karena definisi dan pemahaman akan frasa tersebut mungkin saja berbeda jika mengingat konteks sosial politik dan pengalaman yang dihadapi oleh Pram dan kita saat ini. Namun paling tidak ada nilai-nilai universal yang berlaku dari kedua kata yang membangun frasa tersebut, yakni bahwa komitmen menyiratkan suatu upaya yang dikerjakan secara terus menerus dengan niat yang mengakar kuat dalam diri pelakunya; dan sosial mengisyarakatkan ruang di luar diri individu seseorang, dalam hal ini adalah penulis.

Pram membayangkan penulis bukanlah orang yang beronani dengan pikiran atau gagasannya sendiri, dan memiliki kemauan untuk hadir di luar dirinya menghadapi orang lain yang bergerumul dalam jarak dekat ataupun berdiri sendiri di rentangan ruang–dan bahkan juga waktu–yang jauh. Ia sudah menjadi apa yang dibayangkannya, menerjang tembok penjara dan kamp, mencari celah-celah sempit untuk menghadirkan diri dan isi kepalanya, dan membiarkan diri dan buah karyanya terus dikunjungi sampai hari ini.