Berita tentang rencana ‘penggebukan’ Jokowi kepada PKI yang muncul baru-baru ini mungkin tidak seheboh dukungan yang diberikan kepada presiden ramah tersebut karena telah membubarkan HTI. Mereka yang berkomentar mengenai berita ini pun kebanyakan cenderung mengamati objek dari tindakan penggebukan, yakni PKI. Namun saya malah lebih tertarik membahas kata kerjanya, yakni ‘gebuk’.

Saya tidak perlu membahas tentang legalitas pembubaran HTI yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal hak berkumpul dan hak membela diri di depan hukum. Saya juga merasa tidak perlu lagi menulis tentang bagaimana PKI ditekan sebagai sebuah organisasi, dan komunisme-sosialisme dilarang peredarannya sebagai sebuah paham. Saya hanya ingin menyikapi diksi yang dipilih oleh presiden seperti seorang Jokowi.

Jokowi sebagai seorang figur masyarakat mungkin lebih berhasil mencuri perhatian rakyat, dengan buku gratis, sepeda gratis, potong rambut di barbershop, berfoto dengan mengenakan sarung dan membuat vlog; gaya hidup yang dibilang oleh masyarakat Indonesia -yang terbiasa dengan figur presiden yang sendhiko dhawuh– merakyat dan membumi. Belum lagi gayanya yang memang cenderung santai, sering memakai pakaian dengan warna dan bentuk yang itu-itu saja, tidak memakai jas, tidak canggung membawa payung sendiri, dan senyum yang terpampang di wajahnya. Tentu tidak ada yang salah dengan semua itu, sampai ternyata dia memperkenalkan diri sebagai seorang tukang pukul.

Saya paham benar bahwa apa yang dikatakan Jokowi: “Misalnya PKI nongol, gebuk saja,” merupakan kata kiasan yang tidak bisa diartikan mentah-mentah secara harfiah. Namun tetap saja konotasi yang tergambar dengan pilihan kata ‘gebuk’ adalah negatif, yakni kekerasan. Karena itulah saya sebutkan di awal mengapa tidak penting di sini apakah itu HTI, PKI, atau FPI sekali pun, namun cerminan pola pikir presiden yang cenderung mendukung kekerasan untuk ditujukan pada masyarakatnya sendiri. Dalam perkataannya, Jokowi memang menegaskan tugasnya sebagai seorang presiden yang memegang ‘konstitusi, kehendak rakyat’. Tapi siapakah memang rakyat yang berkehendak untuk digebuk oleh presidennya sendiri?

Yang lebih menyeramkan lagi, istilah tersebut ternyata dipinjam Jokowi dari perkataan Suharto di akhir masa jabatannya. Dalam hal ini pun saya juga mengerti bahwa setiap orang, terutama jika mereka pernah menjadi pemimpin, pasti ada pelajaran yang menginspirasi karena tidak ada orang yang seratus persen jahat dan seratus persen baik. Namun perlu diketahui bahwa istilah tersebut dipinjam dari seorang mantan presiden yang telah membiarkan -atau bahkan memprakarsai- hilangnya hak dan nyawa jutaan masyarakat selama masa pemerintahannya, seseorang yang telah meninggalkan banyak luka yang belum sembuh hingga sekarang. Lalu kenapa seorang Jokowi perlu menggunakan istilah yang digunakan Suharto jika ia memang tidak satu pikiran, satu kesepahaman?

Dari kata sederhana ‘gebuk’ tersebut saya membayangkan suatu kondisi yang cukup menyeramkan, yakni dimana impunitas terhadap kekerasan semakin tinggi di kalangan masyarakat. Hak azasi manusia menjadi sejarah, karena demi konstitusi dibenarkan adanya penggebukan atau kekerasan. Negara ini belum sepenuhnya berhasil mendidik masyarakatnya dengan sejarah yang tidak dibumbui dengan propaganda, dan belum juga menyembuhkan luka korban dan penyintas penindasan hak azasi manusia di masa lalu. Dan sekarang kita bisa melihat tindakan apa yang bisa saja akan dilakukan oleh seorang presiden yang murah senyum tersebut kepada kita semua, rakyatnya.

Sumber berita:

Jokowi: Kalau PKI Nongol, Gebuk Saja