Museum merupakan sebuah institusi yang bertugas untuk melakukan pemeliharaan dan penyimpanan benda-benda artefak yang memiliki signifikansi sejarah atau kultural. Masing-masing museum akan memiliki sistem kuratorialnya sendiri yang disesuaikan dengan jenis museum dan wacana yang diangkatnya. Museum memainkan peran penting dalam distribusi pengetahuan dan penciptaan wacana di masyarakat, termasuk pembentukan narasi heroisme.

Sejarah modern Indonesia harus diakui didominasi oleh narasi kepahlawanan institusi dan personel aparat keamanan atau tentara. Asvi Warman Adam dalam Hadiz dan Dhakidae (2005: 266) mencatat sebagian besar nama yang masuk dalam daftar pahlawan nasional merupakan personel militer. Pemerintah pusat memainkan peran utama dalam penentuan tokoh-tokoh yang masuk dalam daftar pahlawan nasional, sehingga pemilihannya dipengaruhi oleh kepentingan politik dan wacana. Misalnya, pada periode Demokrasi Terpimpin, 36 dari 45 pahlawan nasional berasal dari Jawa; sementara tokoh-tokoh gerakan kiri seperti Tan Malaka tidak dimasukkan dalam daftar pahlawan nasional oleh pemerintah Orde Baru.

Jumlah museum di Indonesia
(Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Diseminasi narasi heroisme dapat dilakukan dengan sejumlah strategi dan memanfaatkan beragam media. Salah satunya melalui pembangunan museum dengan wacana dan kepentingannya masing-masing. Data yang dipublikasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 mencatat jumlah museum di Indonesia adalah sebanyak 424 museum. Kuantitas dan kualitas museum per regional masih menjadi permasalahan utama dalam manajemen museum di Indonesia. Jumlah museum yang kurang di beberapa daerah seperti Kalimantan dan kepulauan Timur Indonesia menjadi isu yang digadang-gadangkan dengan menjadikan DKI Jakarta dan daerah-daerah lain terutama di pulau Jawa sebagai perbandingan.

Sementara itu, narasi yang disampaikan dan dibentuk melalui museum sebagai institusi belum menjadi perhatian khusus. Bahkan kelihatannya museum belum dipandang sebagai institusi produksi wacana, melainkan hanya sebagai lembaga pelestarian. Hal tersebut tercermin dalam definisi museum menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yakni “lembaga permanen yang bersifat nirlaba, untuk melestarikan koleksi yang bersifat bendawi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.” Istilah komunikasi yang digunakan dalam definisi tersebut mungkin mengimplikasikan kerja-kerja atau upaya-upaya lain di samping penyimpanan dan pemeliharaan. Tetapi seperti yang disinggung sebelumnya, produksi wacana oleh institusi museum belum dianggap sebagai isu yang perlu diatasi.


Pengalaman mengunjungi beberapa museum di sejumlah kota di Indonesia memunculkan pertanyaan dan kegelisahan tersendiri dalam benak saya. Lahir dan besar di Malang sebagai keturunan seorang tahanan politik Orde Baru membuat saya gelisah dengan narasi yang dibentuk oleh Museum Brawijaya. Pada dasarnya, museum tersebut memang merupakan institusi yang diinisiasi pembentukannya oleh Brigjend TNI (Purn) Soerachman (Pangdam VIII/Brawijaya tahun 1959-1962), sehingga narasi utama yang disampaikan melalui artefak-artefak yang dipajang berkaitan dengan heroisme ABRI atau TNI.

Museum Brawijaya terdiri dari lima bangunan penyimpanan artefak, yakni (a) halaman depan, (b) ruang lobi, (c) halaman tengah, (d) ruang koleksi I, dan (e) ruang koleksi II. Ruang koleksi I dan II menyimpan dan memamerkan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan senjata, kendaraan, dan pakaian yang digunakan oleh pasukan Komando Militer Brawijaya pada sejumlah operasi militer yang dibagi menurut periode tahun, yakni: perang pencapaian dan pemertahanan kemerdekaan (1945–1949); dan operasi militer di periode yang lebih modern (1950–1976) pemberantasan PERMESTA/PRRI, Operasi Trikora, Operasi Trisula, dan Operasi Seroja.

Salah satu artefak di ruang koleksi II membuat saya tertegun dan tercengang, yakni sebuah batu yang diletakkan di dalam sebuah kotak kaca dengan keterangan “senjata yang digunakan untuk membunuh anggota PKI pada Operasi Trisula”. Saat melihat dan membaca keterangan artefak tersebut, pikiran saya seketika menjadi kacau, menyadari bahwa yang dipajang di sana adalah sebuah benda yang sejatinya bukan merupakan senjata dan digunakan oleh aparat untuk menghabisi nyawa bagian dari masyarakat Indonesia sendiri. Saya pun menyimpulkan bahwa narasi heroisme yang ditawarkan oleh institusi museum tersebut dibentuk dari tindakan kekerasan oleh pasukan militer dalam peristiwa pelanggaran HAM massal di tahun 65–66.

Sementara itu, Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta menggunakan arsip foto dan diorama yang disertai dengan keterangan dengan kecenderungan yang cukup jelas, yakni Suharto sebagai sosok pahlawan yang berperan penting dalam sejumlah operasi militer, terutama pembersihan Indonesia dari ideologi dan pergerakan komunisme yang meracuni negara. Wacana tersebut dinarasikan secara konsisten oleh museum tersebut, kemungkinan berkaitan dengan asal usul Suharto sebgai seorang putra Yogyakarta yang berhasil menaiki tangga karier militer nasional dan bahkan menguasai negara selama tiga dasawarsa. Namun sekali lagi, militer diposisikan dan dinarasikan sebagai pahlawan dengan peran heroik dalam narasi sejarah modern Indonesia.

Terlebih lagi, saya belum menemukan museum yang secara kuat menarasikan wacana berbeda dari yang telah saya jabarkan sebelumnya. Wacana heroisme yang diproduksi oleh sebagian besar museum di Indonesia secara umum masih mengikuti narasi tunggal yang bersumber dan dipertahankan oleh pemerintah, terlepas dari sudah makin berkembangnya narasi-narasi kecil yang dimunculkan dari pihak-pihak yang tidak berada di tampuk kekuasaan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya pula mempertanyakan kembali konsep pahlawan yang diangkat dalam upacara peringatan Hari Pahlawan.

Sumber:
_____. Sekilas Mengenal Museum Brawijaya. (2008). Malang
Hadiz, Vedi R. & Dhakidae Daniel. (2005). Social Science and Power in Indonesia. Singapura: Equinox Publishing.