Kepergian saya ke Yogyakarta pada awalnya hanya didasarkan pada kebutuhan memperoleh data tambahan untuk penelitian tesis saya tentang naskah wayang. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi saya mendatangi kota tersebut, ada satu kesempatan yang tidak saya peroleh pada perjalanan sebelumnya yang membuat kepergian yang terakhir ini terasa lebih menarik.

Maket denah wilayah Keraton Ngayogyakarta yang dikelilingi benteng di empat penjuru mata angin. (Sumber: Koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta)

Yakni kesempatan untuk turut berpartisipasi langsung dalam salah satu ritual tahunan yakni Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng. Ritual ini diawali dengan pembacaan doa dan macapat oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Bangsal Ponconiti Keben Keraton pada pukul 20.00. Pada pukul 23.00, lonceng keraton akan dibunyikan dan dilanjutkan dengan ritual inti pada pukul 24.00.

Tradisi yang dilakukan secara rutin pada malam satu Suro ini secara harfiah berarti melakukan pertapaan dengan berjalan tanpa berbicara memutari benteng. Benteng yang dimaksud adalah lokasi berdirinya pojok benteng di empat titik arah angin, yang dikenal dalam bahasa Jawa sebagai lor (utara), kidul (selatan), wetan (timur), dan kulon (barat). Layaknya di daerah-daerah lain, benteng yang berdiri di bekas area kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II untuk kepentingan keamanan.

Hamengkubuwono II dikenal sebagai seorang pemimpin kerajaan yang anti penjajahan. Pada masa pemerintahannya selama tiga periode yakni 1792 – 1810, 1811 – 1812, dan 1826 – 1828, pulau Jawa, termasuk daerah Yogyakarta menjadi titik eksploitasi kolonialisme Barat, terutama Belanda dan Inggris. Sudah diketahui bersama bahwa pada saat itu pemegang kekuasaan feodal Jawa memiliki peran yang cukup besar dalam proses kolonialisasi dengan adanya perjanjian-perjanjian dalam aspek ekonomi maupun politik yang mempengaruhi keadaan sosial masyarakat di luar singgasana keraton.

Hamengkubuwono II pun kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh kerajaan Jawa yang turut andil dalam perlawanan dan pemberontakan terhadap penjajah. Pemilik nama asli Gusti Raden Mas Sundara tersebut tercatat pernah memecat Patih Danureja yang dikenal dekat dengan Belanda. Selanjutnya, ia bersama istrinya dikenal memberikan dukungan dan bantuan kepada Raden Ronggo Prawirodirjo III yang menjadi pemimpin pasukan pertempuran melawan tentara Daendels dalam kejadian yang dikenal dengan Pemberontakan Raden Ronggo (20 November – 17 Desember 1810).

Pada periode pemerintahan yang kedua, sikap Hamengkubuwono II terhadap penjajah tidak berubah, terutama pada Inggris. Sikap perlawanan tersebut sempat membuat Hamengkubuwono II dibuang oleh pemerintah Inggris. Posisi pemimpin pun kemudian digantikan oleh sultan-sultan berikutnya.

Selanjutnya, Hamengkubuwono II dipercaya kembali menduduki singgasana Keraton Ngayogyakarta setelah diangkatnya Hamengkubuwono V yang ternyata setuju bekerjasama dengan Belanda dalam strategi politik pasifikasi. Pada periode kepemimpinan yang ketiga inilah, tepatnya pada tahun 1825, terjadi pemberontakan melawan Belanda yang digerakkan oleh Pangeran Diponegoro, putra Hamengkubuwono III. Hamengkubuwono II akhirnya meninggal pada tahun 1828 karena sakit tenggorokan.

Pojok Beteng yang masih berdiri sampai saat ini dan menjadi lokasi penting dalam ritual Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng kemudian menurut saya bukan sekedar sebuah peninggalan sejarah, namun menjadi situs yang menyimpan memori kolektif masyarakat Yogyakarta. Hal ini terbukti pada saat pelaksaan ritual yang tidak hanya dilakukan oleh para abdi dalem dan keluarga Keraton, namun juga diikuti oleh masyarakat Yogyakarta. Saya berusaha merasakan langsung atmosfer yang melingkupi pelaksanaan ritual tersebut dengan turut berjalan di tengah keramaian mengikuti para abdi dalem yang membawa bendera merah putih di barisan paling depan.

Ritual berjalan kaki mengitari keempat titik pojok beteng tanpa berbicara dimaksudkan sebagai proses refleksi dan introspeksi pada penghujung pergantian tahun atas segala kesalahan dan bencana yang terjadi pada satu tahun terakhir yang terlewati.

Jika ditinjau lebih lanjut, ritual pertapaan merupakan satu perilaku budaya yang dekat dengan kebudayaan dan mitologi Jawa sejak zaman Jawa Kuno sampai sekarang. Jika pertapaan lebih sering dipahami sebagai sebuah ritual yang dilakukan dengan duduk bersila di dalam gua, hutan, atau di gunung, sesungguhnya dapat dilakukan pula dengan berjalan.

Esensi dari ritual topo adalah pencapaian kedamaian batin dengan mengendalikan hawa nafsu duniawi, salah satunya adalah berbicara. Berdiam diri memang memiliki makna yang penting dalam tradisi Jawa, karena meneng merupakan salah satu tindakan yang membawa kebaikan. Sementara itu, terlalu banyak bicara dianggap bisa membawa petaka bagi manusia.

Di saat yang sama, ada satu hal yang tidak bisa dikesampingkan dari pelaksaaan ritual tersebut, yakni waktu pelaksaannya yang dilakukan pada malam 1 Suro atau bertepatan dengan 1 Muharram. Perhitungan hari ini bersumber dari kalender Jawa yang dibuat oleh Sultan Agung yang berdasarkan pada penanggalan Hijriyah atau tahun Islam.

Oleh karena itu, pelaksanaan ritual berjalan kaki yang dilakukan untuk menempuh jarak kira-kira 5 kilometer tersebut dapat dilihat sebagai bentuk praksis akulturasi budaya Jawa dengan budaya Islam. Terlepas dari maraknya konflik kebudayaan yang berhubungan dengan upaya pencarian kebenaran dan keaslian, terus dilaksanakannya ritual ini menunjukkan masih adanya kompromi dalam ranah budaya yang tidak bisa dibilang sebagai hal yang negatif.

Pemilihan titik lokasi yang dilewati dalam ritual berjalan kaki ini juga perlu dikaji lebih lanjut, terutama setelah mengetahui aspek kesejarahan dari keempat benteng yang pernah dibangun oleh pemimpin pusat kekuasaan politik dan budaya Jawa. Dari pembacaan terhadap beberapa sumber, kajian yang tersedia masih terbatas pada pengakuan ritual ini sebagai salah satu produk akulturasi budaya Jawa dan Islam, namun belum ditemukan pembahasan atas aspek sejarah dan sosial dalam kerangka pasca kolonial.

Hal ini dirasa akan menarik mengingat benteng yang dipilih sebagai titik-titik lokasi penting merupakan bangunan yang dibuat kesultanan Yogyakarta dalam upaya mereka menahan serangan penjajah asing. Bagaimana kemudian bangunan tersebut dimaknai oleh masyarakat Yogyakarta pasca konflik dan perang kolonial, berkaitan pula hubungannya dengan ritual ini, menurut hemat saya akan menjadi satu bahan kajian yang cukup meanarik.

Dari pengamatan yang telah dilakukan, saya mendapati beberapa hal yang menarik dari partisipasi masyarakat dalam ritual tersebut. Hal pertama yang saya sadari adalah beragamnya kelas usia dan sosial dari peserta ritual. Saya mendapati seorang ibu yang tengah menggendong bayinya menggunakan kain, dan bayi tersebut mungkin adalah peserta termuda pada malam itu.

Di saat yang sama, ibu yang menggendong bayinya tersebut sempat berjalan beriringan dengan simbah yang rambutnya telah kehilangan warna dan langkahnya sesekali tertatih. Secara umum, peserta ritual tersebut didominasi oleh laki-laki berusia paruh baya yang sepertinya sudah sering mengikuti upacara topo bisu.

Dalam hal ini, partisipasi masyarakat Yogyakarta dalam mengikuti ritual yang dilaksanakan pada malam hari juga menjadi satu hal yang menarik. Saya sempat beranggapan ritual turun menurun tersebut akan diikuti oleh hanya segelintir kalangan, anggaplah orang-orang yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap budaya Jawa.

Namun rupanya anggapan tersebut dipatahkan dengan antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh masyarakat Yogyakarta, terbukti dari bagaimana mereka tidak segan meluangkan sepotong malam mereka untuk mengikuti rangkaian ritual tersebut sejak pembacaan macapat sampai pelaksanaan topo. Menurut pengamatan, jumlah masyarakat yang mengikuti ritual tersebut mencapai ribuan orang. Mereka mengekor di belakang para abdi dalem, membentuk suatu barisan panjang layaknya ombak yang menggulung dari tengah laut sampai bibir pantai.

Hal menarik lain yang berhasil saya amati adalah bagaimana beberapa orang yang sepertinya menganggap abdi dalem sebagai sosok yang perlu dicontoh dengan melepas alas kaki mereka saat berjalan menapaki aspal yang sudah dingin. Bahkan beberapa orang juga mengenakan pakaian khas Jawa seperti jarik dan blangkon. Sementara itu, yang lain mengenakan pakaian yang biasa digunakan sehari-hari. Dan di balik keberagaman tersebut, tersimpan satu pemaknaan yang bisa dibilang seragam, yakni upaya pencapaian nilai-nilai yang menjadi unsur esensial dari ritual tersebut.

Namun terdapat satu hal yang memunculkan pertanyaan besar dalam kepala saya, yakni bagaimana para peserta ritual berjalan dengan langkah yang cepat. Sebenarnya saya sempat berekspektasi ritual berjalan kaki tersebut akan dilakukan dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, layaknya saat melaksanakan meditasi berjalan (walking meditation).

Meditasi berjalan biasanya dilakukan dengan langkah yang cenderung lambat, atau lebih tepatnya menyesuaikan dengan ketenangan batin. Pencarian informasi terkait menunjukkan satu hasil yang mungkin berhubungan dengan ketidaksesuaian ekspektasi tersebut, yakni adanya upaya peleburan batas antara lingkaran keraton dengan masyarakat luas.

Peleburan batas tersebut ditunjukkan dengan terbukanya ritual yang bersumber dari keraton tersebut bagi seluruh lapisan masyarakat, dan mungkin juga dengan keinginan masyarakat untuk berada dekat dengan para abdi dalem yang berjalan di barisan paling depan. Ritual tersebut agaknya menjadi sarana yang bisa mendekatkan masyarakat luar keraton dengan orang-orang dalam, sehingga ada semacam urgensi untuk bisa berada dalam jarak yang dekat dengan pemimpin barisan topo bisu.

Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa walaupun keraton telah kehilangan otoritas politiknya, lembaga tersebut masih memiliki kapital budaya yang diakui oleh masyarakat Jawa dan belum bisa digantikan oleh institusi lain. Namun asumsi ini belum bisa dibenarkan sepenuhnya karena belum dilakukannya penelitian lanjutan.

Keterlibatan langsung dalam ritual Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng agaknya memberikan satu pengalaman budaya yang cukup bermakna bagi saya. Hal tersebut didasari pada beberapa asumsi yang masih perlu dikaji lebih lanjut untuk pembuktiannya.

Selain itu, ada sensasi tersendiri yang saya rasa paling menarik selama turut dalam ritual ini, terutama saat menyadari bagaimana saya harus berjalan dalam kerumunan yang rapat, di bawah gemerlap lampu kota yang terang benderang, namun yang terdengar hanyalah gesekan kaki dengan permukaan jalan dan suara batuk yang terdengar sesekali. Penciptaan ruang sunyi di tengah gemerlap kota Yogyakarta yang dikenal tidak kenal siang malam membekaskan dalam benak saya satu pemaknaan ulang terhadap proses pencarian keseimbangan di tengah hiruk pikuk kehidupan.