Kiriman foto Tara Basro yang menunjukkan lipatan perut di akun Instagramnya pada 3 Maret 2020 rupanya mengundang respon yang–sepertinya–tidak pernah dibayangkan oleh dirinya sendiri atau para pengguna media sosial yang familiar dengan gerakan body positivity atau sikap positif terhadap tubuh. Kominfo mengeluarkan pernyataan bahwa kiriman tersebut merupakan konten pornografi, menunjukkan bagaimana gerakan tersebut “bukan budaya kita”.

Media sosial, terutama Instagram, memainkan peran penting dalam menyebarkan gagasan utama dari gerakan positivitas tubuh di abad ini, terutama di Indonesia. Gerakan positivitas tubuh sebenarnya bukan hal baru di belahan dunia Eropa dan Amerika. Jejaknya dapat ditelusuri sampai abad ke-19 dengan kemunculan Victorian Dress Reform Movement di Inggris sebagai bagian dari gerakan feminisme gelombang pertama yang berlangsung pada 1850-an sampai 1890-an di Eropa.

Victorian Dress Reform Movement merupakan respon kritis atas konsep kecantikan ideal yang berlaku pada saat itu, yakni ukuran pinggang yang kecil. Untuk mendapatkan ukuran pinggang yang kecil, perempuan pada saat itu menggunakan korset atau atasan dengan jalinan tali yang diikat erat pada bagian pinggang. Penggunaan jenis pakaian tersebut telah terbukti memberikan pengaruh buruk pada fisik pemakainya, yakni kerusakan organ dalam. Selain itu, konsep tubuh ideal tersebut juga menyebabkan gangguan pada kesehatan mental perempuan seperti gangguan kebiasaan makan antara lain bulimia dan anoreksia.

Sementara itu gerakan feminisme gelombang pertama di Amerika Serikat yang mendorong gagasan positivitas tubuh ditunjukkan dengan pencanangan kegiatan fat-in di New York pada 1967 oleh Steve Post. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mengakhiri diskriminasi terhadap orang-orang yang bertubuh gendut. Kegiatan tersebut mendorong kelompok-kelompok lain untuk membuat gerakan dengan gagasan serupa seperti National Association to Advance Fat Acceptance (NAAFA)  pada 1969 oleh Bill Fabrey.

Baca juga: Seks, Tubuh, dan Periode Ketakutan

Gelombang kedua gerakan positivitas tubuh ditandai dengan kemunculan program-program yang dibentuk untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi semua bentuk tubuh untuk melakukan aktivitas olahraga. Hal tersebut berangkat dari kecenderungan rendahnya tingkat kepercayaan diri orang-orang dengan tubuh yang dianggap gendut untuk pergi ke gimnasium untuk melakukan kegiatan olahraga. Program-program tersebut memanfaatkan perkembangan teknologi seperti televisi dan piringan cakram yang menampilkan kursus olah tubuh oleh pelatih profesional yang dapat dilakukan di rumah oleh siapa pun.

Memasuki tahun 2000-an, perkembangan Internet dan media sosial berperan penting dalam penyebaran gagasan positivitas tubuh hampir di seluruh kawasan di dunia. Publik figur menggunakan media sosial sebagai ruang kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang penerimaan bentuk dan ukuran tubuh. Hal tersebut juga dibarengi dengan upaya-upaya pendobrakan konstruksi mitos kecantikan oleh produsen produk-produk perawatan tubuh–terutama bagi perempuan–dengan melibatkan orang-orang yang secara umum tidak masuk dalam kriteria mitos tersebut dalam iklan mereka.

Di Indonesia, konstruksi mitos kecantikan yang ideal agaknya juga menjadi bagian dari kehidupan kita baik secara personal maupun sosial. Hal tersebut ditunjukkan masih cukup banyak dari kita yang terobsesi dengan ukuran, bentuk, dan warna tertentu yang berkaitan dengan tubuh, yang pada saat yang sama didukung oleh industri dan media. Di samping itu, rasanya sulit untuk menentukan kapan tepatnya gagasan positivitas tubuh menjadi hal yang serius diperbincangkan; namun jelas adanya peran media sosial pada beberapa tahun terakhir terkait kencangnya wacana tersebut.

Kiriman foto Tara Basro di akun Instagramnya adalah salah satu bentuk eksistensi wacana tersebut–jika belum bisa dikatakan sebagai sebuah “gerakan” di Indonesia. Kominfo merespon kiriman tersebut dengan pernyataan yang mengarah ke kriminalisasi atas kebebasan berpendapat dan berekspresi. Respon tersebut merupakan bukti nyata belum diterimanya gagasan positivitas tubuh di Indonesia. Bahkan sebenarnya jika kita mau berkaca atau melihat ke sekitar kita, begitu banyak hal yang mencegah atau menghentikan keinginan dan upaya kita untuk menerima tubuh kita sendiri.

Sebagai salah satu contoh adalah bagaimana tubuh kita masih menjadi bahan penilaian atas kemampuan atau kompetensi kerja. Sampai hari ini kita masih sering melihat dan mendengar iklan lowongan pekerjaan yang menjadikan “penampilan menarik” sebagai poin pertimbangan. Tanpa penjelasan lebih lanjut tentang hal tersebut, kita tentu bisa membayangkan seperti apa “penampilan menarik” itu–tidak jauh dari berbadan langsing, tinggi, berkulit putih dan bersih. Belum lagi ketentuan lamaran pekerjaan di kedinasan yang biasanya menolak pelamar yang memiliki seni tubuh seperti tato dan tindik. Hal-hal tersebut menunjukkan keterbatasan kita sebagai individu merdeka untuk menentukan seperti apa kita ingin tampil di ruang publik–tubuh kita adalah tubuh yang dinilai tepat oleh orang lain, bukan diri kita sendiri.

Baca juga: Pemerintah Bukan Orang Tua, Masyarakat Bukan Anak

Jika kita belum diberi ruang tanpa batas untuk menentukan penampilan, maka tentu kita belum diberi kesempatan untuk mencintai ukuran, bentuk, dan warna tubuh kita. Karena semuanya masih menjadi bahan pemeriksaan, penilaian, dan bahkan penentuan apakah kita bisa makan dalam satu minggu ke depan atau tidak. Tubuh kita masih dalam cengkeraman nilai-nilai ideal dan kepantasan yang dikukuhkan dengan sejumlah tatanan dan sistem atau oleh berbagai pihak mulai dari orang tua dan keluarga terdekat, institusi formal di bidang pendidikan, bahkan sampai institusi agama dan negara.

Selama tubuh masih dan terus menerus menjadi urusan publik, maka hak personal untuk menerima seperti apapun bentuk, ukuran, dan warnanya tidak dianggap sebagai suatu hal yang pantas untuk didapatkan dan pada akhirnya, dikriminalisasi oleh negara. Oleh karena itu, menumbuhkan positivitas tubuh bagi orang Indonesia semestinya menjadi wacana dan pergerakan politis yang dipahami dan dilakukan secara sadar sepenuhnya dan bukan hanya berupa respon terhadap tren.