Agaknya sudah terlalu sering kita mendengar wacana glorifikasi dari pemilihan umum yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1955. Glorifikasi tersebut berkaitan dengan keberhasilan negara dalam menerapkan konsep demokrasi yang memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pemilihan pemimpin mereka. Tetapi pada kenyataannya, proses persiapan dan pelaksanaan pemilu terbukti tidak selalu tentang hal-hal yang baik saja. Apalagi menjelang pemilihan presiden di bulan April 2019, arena persaingan kedua pasangan calon telah dijejali dengan sejumlah peristiwa negatif.

Konflik horizontal yang terjadi selama proses persiapan pemilihan umum salah satu hal yang paling sering menjadi bahan pemberitaan media massa. Tentu saja sebenarnya konflik horizontal yang berkaitan dengan ketidakmampuan untuk menerima perbedaan bukanlah suatu hal yang baru di Indonesia, dan bukan merupakan suatu fenomena yang hanya terjadi pada periode pra- dan pasca- pemilihan umum. Tetapi terkait dengan wacana pemilu, konflik horizontal di masyarakat dapat dikhususkan terjadi karena perbedaan pada sosok calon yang akan dipilih.

Salah satu peristiwa konflik horizontal yang paling menggemparkan adalah cekcok antara dua pria di Sampang, Madura yang kemudian berujung dengan tindak pembunuhan pada November 2018. Kasus selanjutnya yang baru saja terjadi dan cukup menggemparkan media massa adalah pemindahan jenazah yang sudah dimakamkan di Gorontalo karena perbedaan pilihan calon presiden. Jika sudah terjadi peristiwa seperti itu, para calon presiden yang akan bertarung di pemilu baru akan angkat bicara. Keprihatinan mereka bersifat sementara saja, dan akan hilang seiring dengan bergantinya berita utama di media massa.

Dua fenomena di atas hanyalah contoh peristiwa-peristiwa gelap yang muncul ke permukaan karena masuk dalam pemberitaan. Padahal hampir sudah dapat dipastikan terdapat sejumlah konflik-konflik kecil yang terjadi di lingkungan masyarakat dan tidak terdeteksi oleh media massa. Kenyataan ini diperparah dengan kenyataan sejumlah hal negatif tersebut hanya menjadi bahan pemberitaan media massa yang tidak lama hilang dari permukaan. Fenomena-fenomena tersebut kurang dikaji lebih lanjut secara akademis dengan menggunakan metode penelitian yang mendukung untuk studi sosial.

Penelitian untuk mengkaji fenomena-fenomena negatif yang berkaitan dengan proses persiapan pemilihan presiden telah dilakukan di Amerika Serikat. Studi tersebut dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health dan Massachusetts General Hospital/McLean Hospital pada tahun 2016, tepatnya pada periode persiapan pemilu presiden Amerika Serikat terakhir yang akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump.

Penelitian yang diterbitkan pada Juni 2017 tersebut menunjukkan peningkatan stress, resiko terserang penyakit, dan kelahiran bayi prematur pada periode persiapan pemilu presiden itu. Fenomena-fenomena tersebut hanyalah sebagian dari sekian pengaruh negatif terhadap kesehatan yang diasumsikan terjadi karena kampanye yang dilakukan oleh para calon presiden. Seperti yang telah diketahui oleh publik umum, isu rasial merupakan salah satu hal sensitif yang paling dipermasalahkan pada saat itu.

Jika dibandingkan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat sebelumnya yang dimenangkan oleh Barrack Obama, penelitian lain menunjukkan kecenderungan positif pada isu rasial. Muncul optimisme di antara kelompok-kelompok ras minoritas di Amerika Serikat dan juga kelompok kulit putih terkait telah terhapusnya rasisme (Parker, 2016). Tetapi pada saat yang sama, masih ada kecemasan di antara kelompok kulit putih dengan naiknya tokoh kulit hitam ke kursi kepresidenan. Konflik horizontal pun dapat ditemukan pada situs-situs media sosial yang berisi ujaran-ujaran kebencian dan prasangka terhadap kelompok-kelompok ras minoritas.

Fenomena konflik horizontal tersebut terbukti semakin parah pada periode persiapan pemilihan presiden berikutnya. Bahkan konflik yang disebabkan oleh pesan-pesan yang bersifat rasis dalam kampanye tersebut telah menyebabkan sejumlah permasalahan lain, salah satunya kondisi kesehatan penduduk Amerika Serikat. Beberapa keadaan kesehatan yang telah disebutkan di atas ditemukan meningkat terutama pada kelompok-kelompok masyarakat yang mengalami tekanan. Di antara kelompok tersebut antara lain adalah masyarakat dengan identitas ras campuran atau non-Amerika.

Proyek penelitian yang dipimpin oleh David R. Williams dari Universitas Harvard tersebut didukung oleh sejumlah studi terkait. Survei yang dilakukan oleh American Psychological Association pada Januari 2017 menunjukkan sejumlah besar responden dewasa yang menyatakan diri sebagai pendukung Partai Demokrat dan mereka yang tergolong dalam kelompok masyarakat minoritas mengalami stres dikarenakan kesibukan persiapan pemilu. Sementara itu studi yang dilakukan Universitas California pada tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan pada resiko kematian akibat serangan jantung di 1,836 county di Amerika Serikat. Hal tersebut lebih banyak dialami oleh kelompok kulit hitam daripada kulit putih.

Hasil yang ditunjukkan oleh penelitian-penelitian di atas cukup menggambarkan salah satu pengaruh negatif yang disebabkan oleh kampanye sebagai bagian dari persiapan pemilu. Terutama kampanye-kampanye yang bersifat menyerang, menguatkan diskriminasi dan prasangka, dan memiliki kemungkinan untuk memperburuk pelanggaran HAM berbasis identitas ras. Kembali ke perbincangan tentang persiapan pemilihan umum presiden di Indonesia yang wacananya sudah memanas paling tidak sejak tahun lalu.

Sejumlah pemberitaan telah menyoroti kampanye-kampanye yang bersifat saling menyerang antar kubu. Mungkin mereka yang bermain di atas panggung politik praktis akan memaklumi fenomena tersebut sebagai bagian dari pesta demokrasi yang sesungguhnya. Tetapi terkait dengan hal ini, kesadaran tentang pengaruh lebih jauh dari kampanye-kampanye yang bersifat menyerang dapat dibilang masih kurang dimiliki. Mungkin memang akan terlalu naif untuk mengharapkan perebutan posisi politik turut memperhitungkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat tidak lain hanya menjadi bumbu pemanis kampanye yang ditaburkan untuk meraup dukungan dan tentu saja, mencapai posisi yang diinginkan.

Peran lembaga penelitian dibutuhkan untuk mengkaji lebih lanjut pengaruh negatif dari proses persiapan pemilihan umum dalam berbagai bidang. Lembaga penelitian seharusnya tidak melulu disibukkan dengan survei elektabilitas calon pemimpin yang terus menerus menjadi headline pemberitaan. Penumbuhan kesadaran tentang sisi lain dari penerapan ideologi demokrasi dengan gegap gempita pemilunya dapat menjadi pelajaran baik bagi calon pemimpin, pemilih, dan instansi-instansi terkait dalam menghadapi babak-babak pemerintahan berikutnya yang terus bergulir.

 

Sumber:

Parker, C. S. (2016). “Race and politics in the age of Obama”, Annual Review of Sociology.

Williams, David R. & Medlock, Morgan. (2017). “Health Effects of Dramatic Social Events – Ramifications of the Recent Presidential Election,” , New England Journal of Medicine, June 8, 2017.