Sepanjang perjalanan saya sebagai seorang siswa, tidak pernah ingat ada seorang pengajar, atau sebuah buku teks sekolah resmi yang mau membahas tentang pemikir-pemikir komunis dan sosialis Indonesia. Padahal saya adalah anak kelahiran 90-an yang tidak sempat merasakan kurikulum bentukan pemerintah Orde Baru yang anti komunis, namun di saat yang sama saya tidak pernah merasakan ada perhatian atau keterbukaan pada isme tersebut. Menurut saya ini adalah praktik ‘pembuangan secara ideologi’ yang pengaruhnya jauh lebih besar daripada pemenjaraan tubuh seorang figur.

Saya ingat tentang sejarah Sukarno yang menjadi tahanan semasa pemerintahan kolonial karena pemikiran kebangsaan yang revolusioner. Saya ingat Sukarno digambarkan di sekolah-sekolah sebagai sosok pahlawan, proklamator, yang perlu dihormati karena ia adalah bapak nasionalisme Indonesia. Namun tidak pernah sekali pun menyebut Sukarno sebagai pencetus Marhaenisme. Pengetahuan akan hal tersebut saya dapatkan sendiri dari membaca literatur selain buku teks pelajaran, yang walaupun diterbitkan di zaman reformasi ternyata masih ‘ke-Orba-Orba-an’.

Padahal Marhaenisme dalam hemat saya merupakan suatu pemikiran yang original, revolusioner, dan sangat Indonesia. Bukan rahasia kalau Sukarno merupakan pendukung sosialisme dan komunisme, terbukti dengan konsep politik Nasakom-nya. Namun jika kita membaca literatur sosialisme dan komunisme negara-negara Barat seperti Rusia, Jerman, atau Kuba sekalipun, kita takkan menemukan Marhaenisme di sana. Karena Marhaenisme adalah tentang Sukarno, tentang Indonesia, tentang kita.

Menurut sejarahnya, suatu hari di daerah Priangan, Sukarno bertemu dengan seorang petani gurem bernama Marhaen. Nama tersebut kemudian digunakannya untuk mewakili suatu pemikiran mendalam mengenai kehidupan dan nasib petani Indonesia, di bawah payung sosialisme dan komunisme. Sukarno menjelaskan pemikirannya tersebut dalam beberapa pidato dan buku yang dituliskannya: ‘Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat yang sedikit. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang yang bekerja untuk dia. Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktik’ (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, 2007).

Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktik. Kiranya kalimat tersebut sudah cukup jelas untuk menjelaskan konsep pemikiran yang diasingkan oleh pemerintah setelah Orde Lama ini. Tentu ada alasan kuat mengapa Sukarno harus menuliskan ‘Indonesia’ setelah kata sosialisme, karena jika ia hanya menulis ‘sosialisme’ maka itu akan merujuk pada isme yang diamini secara umum oleh negara-negara internasional. Sedangkan Sukarno paham betul bahwa keadaan masyarakat Indonesia tidak seperti masyarakat negara-negara lain, terutama di belahan dunia barat.

Marxisme yang -secara sederhana- bisa dianggap sebagai asal muasal komunisme, memiliki keberpihakan pada kaum proletar, terutama buruh. Hal tersebut didasari oleh keadaan masyarakat Eropa semasa hidup Marx yang kebanyakan merupakan buruh pabrik sebagai konsekuensi dari runtuhnya sistem feodalisme kerajaan dan bergeser menjadi tabrakan antara pemilik modal dengan pekerja setelah adanya revolusi industri di beberapa wilayah di Eropa. Dalam hal ini, Sukarno mengamini pentingnya membela proletar, kaum¬†substructure¬†jika merunut istilah Marx; namun di saat yang sama tidak semerta-merta menerapkan konsep tersebut seperti adanya. Menyadari bahwa Indonesia merupakan negara agraria dan kebanyakan masyarakatnya merupakan petani, ia menciptakan pemikiran yang original, yakni Marhaenisme. Sukarno bahkan memperluas pemaknaan dari kaum tertindas tersebut, ‘Marhaen bukanlah kaum proletar (kaum buruh) saja, tetapi ialah kaum proletar dan kaum tani melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain, misalnya kaum pedagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum gerobag, kaum nelayan, dan kaum lain-lain’ (Fikiran Ra’jat, 1933).

Maka dengan perluasan makna tersebut, kita bisa melihat betapa Indonesia-nya Marhaenisme, karena di Eropa tidak ada kaum ngarit atau orang yang mencari rumput dengan sabit untuk makan ternak, atau juga kaum tukang kaleng, sesuatu yang bahkan ada di sekitar kita. Namun apa yang terjadi dengan ideologi Marhaenisme? Kemana perginya dari sejarah perjalanan dan perkembangan Indonesia sebagai sebuah bangsa agraria?

Kita tahu bahwa pelarangan atas buku, teks, gambar, figur, dll., yang berkaitan dengan Marxisme, Komunisme, Leninisme, dilarang melalui sebuah pasal yang diterbitkan semasa pemerintahan Orde Baru -dan yang diturunkan pada pemerintahan Reformasi-, namun tidak ada pelarangan terhadap Marhaenisme. Marhaenisme dikubur, bukan dilarang. Ia sengaja dikubur dengan kebohongan harga sembako murah dan swasembada beras, hanya agar kaum Marhaen tidak bersuara dan tidak bangkit. Di hari ulang tahun Sukarno yang ke 116 ini, ternyata ia tidak melihat ada perbedaan pada kaum Marhaen, karena mereka masih menjadi jiwa yang dimelaratkan dan tidak ada yang mau bekerja untuk mereka, walaupun banyak orang yang mengharapkan hasilnya.