Apakah saya di sini -seorang lulusan Fakultas Sastra salah satu universitas negeri di Malang, yang sedang ‘ngobyek’ sebagai asisten dosen sambil menunggu masa menjadi mahasiswa lagi, yang duduk di hadapan laptop yang saya beli dari hasil pekerjaan menulis artikel lepas dan sebagai penerjemah, menulis surat untuk presiden- mengharapkan kiriman sepeda untuk dikirim ke alamat rumah? Tidak. Saya juga tidak ingin ditelpon oleh sang presiden atau anak atau menantunya. Tidak pula ingin mendapat kesempatan untuk wefie dengan bapak. Saya cuma ingin curhat. Itu saja.

Sekali lagi saya memperkenalkan diri sebagai apa yang sering disebut oleh para redaksi pembuat iklan lowongan kerja sebagai ‘fresh graduate’, atau dengan kata lain belum mengalami berpuluh-puluh tahun rasanya menjadi penulis atau sastrawan dengan novel yang diterbitkan oleh penerbit buku tersohor. Bukan juga tenaga pengajar dengan pangkat tinggi dan jam terbang mengajar yang sibuk bukan main. Namun saya anggap diri saya sendiri ini mewakili suatu generasi yang menurut beberapa orang harga dirinya ditentukan oleh jumlah ‘suka’ dan ‘pengikut’ di media sosial; masih bisa dibilang mahasiswa tapi juga merasakan menjadi pengajar mahasiswa. Mengingat keterbatasan saya dalam hal pengalaman dan usia kerja, saya tidak akan mengkritik kinerja bapak sebagai presiden apalagi yang menyangkut teknis-teknis kepemimpinan atau politik. Sekali lagi saya hanya ingin curhat. Itu saja.

Saya adalah bagian dari generasi yang menjadi korban propaganda di bidang pendidikan. Ah mungkin terlalu serius jika menggunakan istilah propaganda, lebih enak didengar mungkin adalah dogma halus yang ditanamkan oleh generasi sebelum kami. Yakni bahwa sekolah dengan memilih jurusan bahasa atau sastra bukanlah suatu pilihan yang bijak baik secara ideologis maupun ekonomis. Secara ideologis, belajar sastra dan bahasa dianggap tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan ilmu lain terutama yang sifatnya lebih eksakta; dan secara ekonomis -karena nilai masyarakat yang sebagian besar membatasi takdir kita menjadi anak sekolahan dan orang kerja- menjadi penulis, sastrawan, atau apapun pekerjaan yang terkait itu tidak akan mampu menghasilkan bayaran yang bisa dibanggakan kepada calon mertua. Lalu sekarang apa? Apakah saya ingin bapak serta merta membalikkan stigma sosial yang hampir-hampir mengakar itu? Tidak, itu bukanlah hal yang bijak.

Tapi pernahkah bapak mungkin sejenak menengok fenomena ini? Tentu saja saya senang kalau bapak bisa mengingat berapa jumlah suku tradisional di Indonesia, bahkan nama-nama bahasa daerah, namun apakah itu cukup untuk mendorong anak-anak bangsa untuk belajar budaya? Pernahkah bapak sekedar bertanya kepada bapak Menteri Pendidikan atau mungkin kepala sekolah atau guru: apakah anak-anak Indonesia sekarang tahu siapa itu Sutan Alisjahbana? Apakah peserta didik di sekolah sekarang pernah membaca karya seorang Marah Rusli? Apakah di perpustakaan sekolah ada yang meminjam buku N. H. Dini? Pernah, pak?

Saya merasakan sendiri rasanya menjadi siswa jurusan bahasa semasa Sekolah Menengah Atas, dengan jumlah siswa hanya 11 orang termasuk saya. Dikatakan sekolah favorit, namun selama satu tahun kami ditempatkan di suatu kelas yang disekat setengah dijadikan dua ruangan. Ah tidak, saya tidak mengeluhkan hal itu, karena masih banyak teman-teman lain yang untuk pergi ke sekolah harus menggantungkan nyawanya di seutas jembatan akar setiap harinya. Namun saya menyayangkan perlakuan yang diberikan untuk ‘siswa-siswa buangan jurusan IPA dan IPS’ itu. Di saat yang sama, sekolah-sekolah lain mulai menghilangkan jurusan Bahasa dengan alasan kurang diminati.

Keadaan ini tidak jauh berbeda bagi mahasiswa yang memilih untuk kuliah di jurusan sastra. Kecerdasan sumber daya manusia di Indonesia -dari sudut pandang awam- dinilai dengan menjadikan jurusan kuliah sebagai indikator. Sudah hampir menjadi pendapat umum bahwa kuliah jurusan sains adalah lebih baik daripada jurusan sastra. Sadarkah kita dengan konstruksi pola pikir itu? Sadarkah bahwa dalam tindakan yang diberi embel-embel ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ kita ini masih suka pilih-pilih? Sadar tidak, pak?

Mungkin curhatan saya ini tidak terdengar terlalu signifikan atau bisa diklasifikasikan sebagai ‘bukan darurat’. Saya paham, terlalu paham. Karena sejak saya sekolah memang jarang sekali yang menganggap studi bahasa dan sastra sebagai sesuatu yang perlu, apalagi wajib. Sedangkan ibu saya berkata semasa sekolahnya ia wajib membaca karya-karya sastra klasik Indonesia. Jujur saja saya iri. Saya ingin menjadi siswa yang dibimbing oleh guru-guru yang -maaf sekali!- lebih mementingkan perkembangan akademis maupun non-akademis siswanya daripada kenaikan pangkat dan sertifikasi. Mungkin sekarang memang belum terlalu terasa bagaimana pengaruh absennya studi sastra dan budaya di sekolah-sekolah primer dan sekunder. Namun bapak harusnya sudah dengar atau lihat di media sosial tentang kabar seorang siswa sekolah dasar yang menyurati temannya dengan ucapan-ucapan ancaman dan kejahatan. Bapak sedih tidak membacanya? Kalau menurut bapak itu karena apa? Jika menurut hemat saya itu adalah karena mereka tidak terbiasa memegang dan membaca buku, tidak mengetahui bagaimana kata-kata bisa dirangkai dengan baik, tidak memahami bahwa emosi bisa disampaikan dengan perkataan yang lebih tidak menyakitkan.

Dan sekarang coba bayangkan, pak, kalau adik-adik mereka -termasuk mungkin cucu bapak sendiri- semakin jauh dari membaca, semakin tidak tahu bagaimana berdialog, bisa-bisa semua orang dicaci tanpa peduli siapa yang diajaknya berbicara. Bagaimana, pak, apakah sudah terdengar menakutkan?

Ya, itulah yang saya maksudkan dengan ketakutan saya dengan pemerintahan bapak, yakni jika terus-terusan tidak mau peduli dengan perkembangan studi bahasa dan sastra, dikesampingkan atau bahkan diletakkan di urutan paling terakhir dari prioritas rencana pembangunan negara, kita semua bisa kembali menjadi sama persis dengan binatang. Kita selama ini membangga-banggakan keunggulan manusia karena kemampuannya berpikir, berdialog, dan berkreativitas, namun dengan semakin mudahnya emosi tersulut dan kekerasan terjadi, bukankah kita tidak lain sudah kembali pada definisi binatang yang sesungguhnya?