Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Dosa Iqbaal ‘Dilan’ dan Kelupaan Kita untuk Berkaca

Berita tentang pengumuman para aktor dan aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam film adaptasi Bumi Manusia yang disutradari Hanung Bramantyo memenuhi beranda media sosial saya. Rata-rata dibumbui dengan kritik, celaan, dan ungkapan kekecewaan terkait pemilihan Iqbaal sebagai pemeran tokoh Minke. Sayangnya, seperti biasanya, yang diserang adalah pribadi Iqbaal yang menurut saya tidak berdasar.

(more…)

Euforia dan Utopia Pram

Saya tidak akan mengatakan bahwa saya mengenal pribadi seorang Pram, pernah menjabat tangannya, atau bertatap muka dengannya. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa saya turut bersuka cita dengan ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini dengan membagi kalimat-kalimat mutiara yang pernah ditulis dalam bukunya melalui akun media sosial. Karena menurut pendapat saya pribadi, kesemuanya itu tidak lain hanya sebuah euforia yang menjadi ritual seremonial di masyarakat teknologi saat ini. Dan semuanya tidak akan menjadikan utopia Pram tiba-tiba menjadi kenyataan yang gamblang di depan mata.

(more…)

Masih Perlukah Membaca The Communist Manifesto?

Anggaplah Marx memiliki sebuah mimpi utopis yang rasa-rasanya semakin sulit terwujud di abad ke-21 di mana komoditas menjadi semakin lebih penting daripada harga diri dan hampir segala aspek kehidupan manusia menjadi barang dagangan, mulai anggota tubuh sampai agama. Fenomena ‘kebangkitan’ wacana-wacana Marxisme dan sosialisme di Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru mungkin bisa dianggap sebagai suatu langkah maju, walaupun tidak bisa dikatakan mampu mengubah kondisi masyarakat sekarang ini. Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan terkait apakah masih penting membaca tulisan-tulisan Marx termasuk The Communist Manifesto di era postmodern seperti sekarang ini.

(more…)

Hukum Umum Dialektik (Satu:Kesatuan dari Segi-Segi yang Berlawanan)

Hukum dialektika merupakan hukum-hukum yang menguasai gerak dan dunia kenyataan obyektif (materiil). Perlu diketahui bahwa gerak dan perkembangan dunia kenyataan obyektif itu bukan digerakkan oleh sesuatu kekuatan yang ada di luarnya, dan bentuk geraknya tidak terbatas pada gerakan mekanis saja, melainkan digerakkan oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri, misalnya segala macam gerak alam pikiran kita. Oleh karena itu, hukum-hukum dialektika adalah hal yang obyektif, artinya baik kita menyadari atau tidak, hukum-hukum tersebut ada dan tetap berlaku.

(more…)

Evolusi Drama dan Pengaruhnya pada Penilaian Pertunjukan (Bagian 1-bersambung)

Siapa pun yang pernah terjun ke panggung teater, atau menjadi penikmat pertunjukan teater, pasti memiliki penilaian atas bagaimana suatu pertunjukan bisa dianggap bagus, baik dalam hal artistik seperti keaktoran maupun kepanggungan dan produksi. Salah satu hal yang paling sering kita kenal sebagai generasi sineas panggung teater sebagai pertanda bahwa suatu pertunjukan itu bagus dan patut dipuji adalah berkaitan dengan ‘natural’.

(more…)

Kritik Sastra Marxisme

 

Karena memikirkan rencana tesis yang mau tidak mau akan saya hadapi juga, saya jadi teringat dengan dosen pembimbing skripsi saya yang berambut gondrong, mengajar dengan ‘sesajen’ segelas penuh kopi hitam dan -waktu itu- rokok Magnum, dan senyum juga kata-kata penuh sarkasme. Membahas tentang motif politik dari tindakan sensor terhadap karya sastra, selama masa-masa bimbingan dosen saya itu menjadi tidak lebih sarkasme.

(more…)

Institusi Pendidikan Diskriminatif Bukan Kasus Lama

Beberapa hari tumbang karena gangguan kesehatan, saya melewatkan satu hari ‘penting’ atau kalau menurut redaktur media pemberitaan populer disebut dengan ‘momen viral’, yakni Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei. Tapi saya rasa karena situs ini pun bukan media pemberitaan yang menjual keviralan, maka tidak ada salahnya menuliskan gerundelan saya tentang pendidikan di tanggal 5 Mei.

(more…)

Dimanakah ‘Terang’ Seperti Kata Kartini? (Bagian 3-tamat)

Namun seakan nasib baik kembali merundung kehidupannya, pada paruh akhir tahun 1900 Kartini menggambarkan secara menggebu-gebu kebahagiaannya setelah ayahnya mengizinkannya untuk kembali ke sekolah setelah mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang guru, kali ini menempuh pendidikan di Batavia. Izin tersebut seakan membuat rasa optimismenya kembali muncul ke permukaan, karena “emansipasi ada di udara, sedang dipersiapkan”.

(more…)

Dimanakah ‘Terang’ Seperti Kata Kartini? (Bagian 2)

Selanjutnya, Kartini menjelaskan kepada Stella keadaan masyarakat yang ada di lingkungan tempatnya tinggal pada surat yang ditulisnya pada 12 Januari 1900. Ia membahas tentang gaji yang diterima oleh para inlander atau pribumi pada saat itu, dan membandingkannya dengan kekayaan alam yang sebenarnya dimiliki oleh Indonesia. Selain itu ia juga membahas tentang ketidaksetaraan hak untuk belajar yang dimiliki kaum Belanda, inlander ningrat, dan inlander bawahan, yang menyebabkan bangsanya sulit untuk berkembang.

(more…)

Follow Us