Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Eksil

Pilihan apa yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang dituduh termasuk dalam golongan kiri oleh rezim Orde Baru? Bisa dibilang cukup banyak, dan semuanya bukanlah pilihan yang menyenangkan. Antara dipenjara, dieksekusi, disiksa, atau dibuang. Rezim Orde Baru punya dua tempat pembuangan bagi para tapol di dalam negeri, yakni Pulau Buru untuk tahanan laki-laki dan Kamp Plantungan untuk tahanan perempuan. Naasnya kehidupan mereka selama menjadi tapol telah banyak dijadikan bahan tulisan setelah kekuasaan Orde Baru runtuh. Namun ada kisah pembuangan lain yang kurang tersentuh, yakni kehidupan para eksil.

(more…)

Berbohong adalah Cara Bertahan Hidup di Indonesia

Tiba-tiba gagasan menulis hal ini muncul dalam kepala saya setelah menonton ulang film Senyap yang disutradarai Joshua Oppenheimer. Saya tidak akan menjadikan tulisan ini sebagai resensi film tersebut, namun menempatkannya sebagai sebuah refleksi atas kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Tidak hanya terkait tentang pembunuhan massal yang terjadi pasca Tragedi 65, namun melingkupi aspek sosial kemasyarakatan di Indonesia secara umum.

(more…)

Anak Beasiswa Tidak Boleh Kritik Pemerintah!

Akhir-akhir ini, pembicaraan tentang mahasiswa penerima beasiswa dari negara memang hampir tidak pernah luput dari ruang-ruang diskusi. Beberapa bulan lalu, media sosial hangat dengan kabar penerima beasiswa yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan, dan telah saya bahas di tulisan sebelumnya. Sampai yang sekarang saya dengar sendiri adalah sinisme terhadap penerima beasiswa yang ‘suka’ menulis atau menyampaikan kritik kepada pemerintah. Jika pada kasus pertama saya tidak merasa emosional karena memang tidak pernah jalan-jalan dengan uang beasiswa, namun untuk kabar yang sekarang ini, saya cukup tersentil.

(more…)

Hilangnya Dosa dan Doxa

Sebagai seorang individu yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Indonesia, harus diakui bahwa saya sering menghadapi kesulitan dalam mengekspresikan diri. Tidak hanya berkaitan dengan penampilan, namun juga ideologi dan kepercayaan spiritualitas. Saya sudah memutuskan untuk melepas atribut agama apapun yang pernah melekat sebelumnya karena ketidaknyamanan akal dan batin. Dan menggantinya dengan konsep spiritualisme yang sifatnya lebih memerdekakan dan mendamaikan saya dalam lingkup pribadi maupun sosial.

(more…)

Masih Perlukah Membaca The Communist Manifesto?

Anggaplah Marx memiliki sebuah mimpi utopis yang rasa-rasanya semakin sulit terwujud di abad ke-21 di mana komoditas menjadi semakin lebih penting daripada harga diri dan hampir segala aspek kehidupan manusia menjadi barang dagangan, mulai anggota tubuh sampai agama. Fenomena ‘kebangkitan’ wacana-wacana Marxisme dan sosialisme di Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru mungkin bisa dianggap sebagai suatu langkah maju, walaupun tidak bisa dikatakan mampu mengubah kondisi masyarakat sekarang ini. Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan terkait apakah masih penting membaca tulisan-tulisan Marx termasuk The Communist Manifesto di era postmodern seperti sekarang ini.

(more…)

Bolehkah Kita Dendam pada Negara?

Kaum nasionalis mungkin akan menjawab dengan lantang pertanyaan itu, “tidak!”, dan tulisan ini akan diberangus karena dianggap melanggar etika dan azas cinta tanah air dan bangsa. Bahkan pemerintahan feudal akan menyuruh saya mencium kaki raja atas pertanyaan sederhana itu. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita yang bersifat republik dan -katanya- berazas demokrasi ini? Salahkah jika kita punya dendam?

(more…)

Perploncoan Perempuan Lintas Generasi

Kita pasti sering mendengar kata perploncoan untuk merujuk pada fenomena yang terjadi di lingkungan pendidikan seperti sekolah atau universitas, yakni kegiatan ‘pelatihan’ (baca: penyiksaan) yang dilakukan oleh senior kepada angkatan pendidikan yang lebih muda atau sering disebut junior. Kisahnya pun beragam, dari yang menjadi cerita lucu sampai menjadi berita tragis yang memenuhi muka media pemberitaan.

(more…)

‘Keluarga’ Baru Pembuka Kebenaran

Setelah beberapa minggu terlewatkan dengan kesibukan yang tidak mau saya jelaskan secara rinci di sini, saya akhirnya bertemu dengan salah seorang pembaca novel ‘Buku Harian Keluarga Kiri’ yang sempat mengirim pesan ingin bertemu dan ngobrol dengan saya. Awalnya saya berpikir dia yang mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Malang itu hanya ingin membicarakan hal-hal ringan yang tidak akan membuat saya terus berpikir sampai detik ini. Namun rupanya dia berhasil menjadikan saya terus memikirkannya.

(more…)

Orde Baru dan Naturalisasi Tionghoa

Jika dianalisis dari kacamata sosial sejarah, masyarakat kita ini seakan tidak pernah berhenti dari penjajahan. Kita bisa membaca kisah seorang Minke yang dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer atau cerita percintaan Hanafi dan Corrie di pembuka Salah Asuhan tentang perbedaan kelas sosial yang memisahkan kaum ‘barat’ dengan kaum ‘pribumi’. Pada masa kolonial itu dikenal sebutan atau julukan berkonotasi negatif untuk merujuk inferioritas orang-orang asli kelahiran Indonesia, yakni ‘dasar inlander!’

(more…)

Follow Us