Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Perempuan Sudah Sekolah, Lalu?

Tulisan ini sesungguhnya merupakan bagian dari keluhan pribadi atas beberapa hal yang menimpa saya berkaitan dengan identitas ‘gender’ saya sebagai perempuan. ‘Gender’ saya beri tanda kutip karena menjadi penekanan tersendiri dalam tulisan kali ini, merujuk pada konsepsi konstruksi sosial yang sebenarnya tidak berlaku seiringan dengan jenis kelamin saya. Beberapa hal yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin bukan hal yang besar bagi beberapa pembaca, namun cukup menganggu kesadaran saya sebagai seorang perempuan.

(more…)

Komodifikasi Kartini

Keagungan industri telah menjadikan hampir segala hal di dunia ini sebagai komoditas, suatu praktik yang diistilahkan dengan komodifikasi. Mulai dari benda, ide, sampai tubuh secara sadar maupun tidak sadar telah hilang substansi awal yang biasanya bersifat praktikal atau berhubungan dengan nilai pakai, karena bergeser menjadi kegunaannya dalam ekonomi atau nilai tukar. Sebenarnya saya tidak punya niat untuk menempatkan perempuan sebagai satu-satunya golongan yang terpengaruh (baca: terjerumus) dalam pusaran komodifikasi. Namun bahasan kali ini akan menyoroti hal-hal yang semakin hari semakin dianggap lumrah oleh kalangan perempuan, terutama dalam hal penampilan.

(more…)

Dimanakah ‘Terang’ Seperti Kata Kartini? (Bagian 3-tamat)

Namun seakan nasib baik kembali merundung kehidupannya, pada paruh akhir tahun 1900 Kartini menggambarkan secara menggebu-gebu kebahagiaannya setelah ayahnya mengizinkannya untuk kembali ke sekolah setelah mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang guru, kali ini menempuh pendidikan di Batavia. Izin tersebut seakan membuat rasa optimismenya kembali muncul ke permukaan, karena “emansipasi ada di udara, sedang dipersiapkan”.

(more…)

Dimanakah ‘Terang’ Seperti Kata Kartini? (Bagian 2)

Selanjutnya, Kartini menjelaskan kepada Stella keadaan masyarakat yang ada di lingkungan tempatnya tinggal pada surat yang ditulisnya pada 12 Januari 1900. Ia membahas tentang gaji yang diterima oleh para inlander atau pribumi pada saat itu, dan membandingkannya dengan kekayaan alam yang sebenarnya dimiliki oleh Indonesia. Selain itu ia juga membahas tentang ketidaksetaraan hak untuk belajar yang dimiliki kaum Belanda, inlander ningrat, dan inlander bawahan, yang menyebabkan bangsanya sulit untuk berkembang.

(more…)

Dimanakah ‘Terang’ Seperti Kata Kartini? (Bagian 1)

Mungkin walaupun banyak dari kita yang sekarang mengagung-agungkan sosok Kartini, tidak banyak penelitian atau paling tidak pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht yang diterjemahkan menjadi bahasa Inggris Through Darkness into Light dan kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam tulisan ini, saya tidak akan mencoba memperkenalkan lagi siapa Kartini, karena hal-hal yang berkaitan dengan profilnya sebagai seorang putri keraton di masa itu sudah banyak dijelaskan di tempat lain, dan bisa diakses dengan cukup mudah.

(more…)