Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Hilang

Sejumlah orang di kalangan masyarakat Indonesia menyimpan luka mendalam terkait sejumlah peristiwa yang pernah terjadi saat rezim Orde Baru berkuasa. Salah satunya adalah kawan saya di Malang yang sempat menceritakan kegundahan hati dan rasa penasaran dalam benaknya setelah mengetahui dari orang tuanya bahwa kakeknya tidak pernah kembali semenjak suatu malam di akhir tahun 1965. Kakek dari kawan saya tersebut tentu saja hanya salah satu dari sejumlah orang yang hilang (baca: dihilangkan) di tangan rezim Orde Baru.

(more…)

Reformasi yang Hanya di Permukaan



Hari ini dianggap sebagai momentum 20 tahun berjayanya pemerintahan Reformasi yang menggantikan rezim Orde Baru, yang ditandai dengan pernyataan pengunduran diri Suharto sebagai presiden kedua Indonesia. Pada saat itu, Reformasi menjadi sebuah mimpi besar yang ingin dicapai oleh para demonstran yang menyatakan mewakili rakyat Indonesia yang sudah muak dengan keserakahan para pemegang kekuasaan di era Orde Baru. Dan apakah selama dua dekade yang mengikuti turunnya Suharto dari kursi kepresidenan tersebut menandai tercapainya mimpi besar Reformasi?

(more…)

Dosa Intelektual Organik



Salah satu hal yang sering menjadi bahan kritik bagi para mahasiswa pada akhir-akhir ini adalah semakin matinya semangat pergerakan mereka sebagai muda mudi Indonesia. ‘Keberhasilan’ gerakan kelompok mahasiswa untuk menjatuhkan Suharto dari singgasana penguasa yang telah merongrong selama lebih dari tiga dekade sering dijadikan narasi untuk merefleksikan betapa besarnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan masyarakat. Sayangnya kritik tersebut sering kali hanya bersifat satu sisi, menyalahkan para mahasiswa saat ini sebagai pemuda pemudi malas yang cenderung apatis.

(more…)

Anak Beasiswa Tidak Boleh Kritik Pemerintah!



Akhir-akhir ini, pembicaraan tentang mahasiswa penerima beasiswa dari negara memang hampir tidak pernah luput dari ruang-ruang diskusi. Beberapa bulan lalu, media sosial hangat dengan kabar penerima beasiswa yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan, dan telah saya bahas di tulisan sebelumnya. Sampai yang sekarang saya dengar sendiri adalah sinisme terhadap penerima beasiswa yang ‘suka’ menulis atau menyampaikan kritik kepada pemerintah. Jika pada kasus pertama saya tidak merasa emosional karena memang tidak pernah jalan-jalan dengan uang beasiswa, namun untuk kabar yang sekarang ini, saya cukup tersentil.

(more…)

Mahasiswa Alias Selebgram



Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas fenomena ini ke dalam tulisan, namun sempat berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjadikannya suatu teks. Pertimbangan tersebut berhubungan dengan refleksi terhadap diri saya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang walaupun kritis tapi tidak mau menjadi polisi moral. Tapi kemudian saya menemukan sebuah jalan tengah kesimpulan yang meyakinkan saya sendiri bahwa tulisan ini bukan tentang moralitas, namun hubungannya dengan intelektualitas mahasiswa.

(more…)

Follow Us