Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Gestapu

Serumit narasi sejarah yang meliputi peristiwanya, istilah yang dibuat untuk merujuk peristiwa berdarah di September 1965 pun tidak bisa dibilang sederhana. Kita mungkin familiar dengan sejumlah istilah, seperti G30S/PKI, G30S, Gestok, dan juga Gestapu. Agaknya cukup penting untuk memahami sejumlah istilah tersebut, karena beberapa di antaranya diciptakan dengan kepentingan tertentu oleh pihak-pihak tertentu.

(more…)

Sepak Terjang Kejaksaan Agung dalam Praktik Pelarangan Buku

Publik Indonesia seminggu terakhir dikejutkan kembali dengan pemberitaan yang menyatakan usulan dari Jaksa Agung Muhammad Prasetyo untuk merazia buku-buku yang diduga berpaham komunisme dan ideologi terlarang lainnya secara besar-besaran. Pemberitaan ini menyusul kabar perampasan sejumlah buku yang dilakukan aparat TNI di beberapa toko buku di Pare, Kediri. Sejumlah pihak menyatakan keberatannya atas tindakan perampasan dan usulan razia buku-buku tersebut, dengan pertimbangan pemerintah seharusnya tidak lagi melakukan pemerkosaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

(more…)

Negara (Masih) Mengukuhkan Kecemasan Massal

Bagi beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, memasuki bulan September di setiap tahun terasa lebih menarik daripada perayaan kemerdekaan pada bulan sebelumnya. Jika pencapaian kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945 telah dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu, bahkan mungkin tidak bisa dipertentangkan lagi; hal yang berbeda terjadi dengan narasi tentang peristiwa malam 30 September 1965. Jika kita mau membuka mata lebih lebar dan menyadari riak-riak yang bergerak di tengah-tengah masyarakat, maka akan ditemukan begitu banyak paradoks.

(more…)

Perempuan Sudah Sekolah, Lalu?

Tulisan ini sesungguhnya merupakan bagian dari keluhan pribadi atas beberapa hal yang menimpa saya berkaitan dengan identitas ‘gender’ saya sebagai perempuan. ‘Gender’ saya beri tanda kutip karena menjadi penekanan tersendiri dalam tulisan kali ini, merujuk pada konsepsi konstruksi sosial yang sebenarnya tidak berlaku seiringan dengan jenis kelamin saya. Beberapa hal yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin bukan hal yang besar bagi beberapa pembaca, namun cukup menganggu kesadaran saya sebagai seorang perempuan.

(more…)

Kegarangan (Pemuda) Pancasila

Saya pertama kali mengetahui nama organisasi Pemuda Pancasila saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya saat melihat beberapa orang berpakaian seragam doreng oranye berjalan di depan rumah kakek saya. Awalnya saya berpikir mereka anggota dari unit kelompok angkatan bersenjata, mengingat corak seragam yang mereka pakai. Setelah bertanya pada ibu saya, ternyata mereka adalah anggota kelompok Pemuda Pancasila dengan semua rekam jejak yang cenderung menyeramkan.

(more…)

Dosa Iqbaal ‘Dilan’ dan Kelupaan Kita untuk Berkaca

Berita tentang pengumuman para aktor dan aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam film adaptasi Bumi Manusia yang disutradari Hanung Bramantyo memenuhi beranda media sosial saya. Rata-rata dibumbui dengan kritik, celaan, dan ungkapan kekecewaan terkait pemilihan Iqbaal sebagai pemeran tokoh Minke. Sayangnya, seperti biasanya, yang diserang adalah pribadi Iqbaal yang menurut saya tidak berdasar.

(more…)

Reformasi yang Hanya di Permukaan

Hari ini dianggap sebagai momentum 20 tahun berjayanya pemerintahan Reformasi yang menggantikan rezim Orde Baru, yang ditandai dengan pernyataan pengunduran diri Suharto sebagai presiden kedua Indonesia. Pada saat itu, Reformasi menjadi sebuah mimpi besar yang ingin dicapai oleh para demonstran yang menyatakan mewakili rakyat Indonesia yang sudah muak dengan keserakahan para pemegang kekuasaan di era Orde Baru. Dan apakah selama dua dekade yang mengikuti turunnya Suharto dari kursi kepresidenan tersebut menandai tercapainya mimpi besar Reformasi?

(more…)

Tragedi 65-66 = McCarthyism a la Orde Baru

Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

(more…)

Posisi Karya Sastra di Tengah Perpolitikan Indonesia

Memang perlu diakui keputusan saya untuk menyampaikan tulisan ini masih berhubungan dengan permasalahan yang muncul terkait puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Saya tidak akan membahas apakah puisi tersebut bisa dikatakan menghina atau memojokkan salah satu pihak. Juga tidak akan mengatakan perlu atau tidak sebenarnya Sukmawati meminta maaf kepada publik. Tulisan ini juga berkaitan dengan hebohnya berita Indonesia akan bubar pada 2030 seperti pernyataan Prabowo yang ternyata dikutip dari novel Ghost Fleet.

(more…)

Follow Us