Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Perempuan Sudah Sekolah, Lalu?

Tulisan ini sesungguhnya merupakan bagian dari keluhan pribadi atas beberapa hal yang menimpa saya berkaitan dengan identitas ‘gender’ saya sebagai perempuan. ‘Gender’ saya beri tanda kutip karena menjadi penekanan tersendiri dalam tulisan kali ini, merujuk pada konsepsi konstruksi sosial yang sebenarnya tidak berlaku seiringan dengan jenis kelamin saya. Beberapa hal yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin bukan hal yang besar bagi beberapa pembaca, namun cukup menganggu kesadaran saya sebagai seorang perempuan.

(more…)

Dosa Intelektual Organik

Salah satu hal yang sering menjadi bahan kritik bagi para mahasiswa pada akhir-akhir ini adalah semakin matinya semangat pergerakan mereka sebagai muda mudi Indonesia. ‘Keberhasilan’ gerakan kelompok mahasiswa untuk menjatuhkan Suharto dari singgasana penguasa yang telah merongrong selama lebih dari tiga dekade sering dijadikan narasi untuk merefleksikan betapa besarnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan masyarakat. Sayangnya kritik tersebut sering kali hanya bersifat satu sisi, menyalahkan para mahasiswa saat ini sebagai pemuda pemudi malas yang cenderung apatis.

(more…)

Guru Kaya Siswa Miskin: Video ‘Bunuh Ahok’ dan Obsesi Sertifikasi

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadhan selalu dibuka dengan komersial produk-produk seperti sirup dan kue kaleng yang menjejali selingan acara televisi. Di samping itu juga tayangan sidang isbat untuk melihat hilal dan menentukan hari awal puasa. Tidak ada yang terlalu berbeda. Namun harus diakui bahwa suasana atmosfer masyarakat agak berbeda pada tahun ini, dengan mencuatnya kasus (tuduhan) pelecehan agama yang menjadi pokok bahan pembicaraan dan pemberitaan beberapa bulan terakhir.

(more…)

Institusi Pendidikan Diskriminatif Bukan Kasus Lama

Beberapa hari tumbang karena gangguan kesehatan, saya melewatkan satu hari ‘penting’ atau kalau menurut redaktur media pemberitaan populer disebut dengan ‘momen viral’, yakni Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei. Tapi saya rasa karena situs ini pun bukan media pemberitaan yang menjual keviralan, maka tidak ada salahnya menuliskan gerundelan saya tentang pendidikan di tanggal 5 Mei.

(more…)

Bertato dan Berpendidikan (Bagian 2)

Sepertinya ada sesuatu yang aneh dalam diri dan pola pikir saya sebagai salah satu orang yang masih bisa dianggap sebagai generasi muda saat ini (generasi Y jika merunut pada istilah yang digagas oleh William Strauss dan Neil Howe). Sejak kecil saya suka menggambar, tidak hanya di kertas, namun di tubuh saya sendiri. Diam-diam di tengah pelajaran tentang moral kenegaraan, saya membayangkan untuk memiliki tato suatu hari nanti. Pada saat itu tidak ada yang tahu tentang keinginan saya itu, dan memang saya pikir tidak ada siapa pun yang perlu tahu.

(more…)

Bertato dan Berpendidikan (Bagian 1)

Secara umum saat ini (terutama masyarakat yang hidup di lingkungan teknologi) memiliki kedua hal tersebut memang tidak sulit, memiliki tato atau berpendidikan. Namun yang masih sulit (bahkan di antara masyarakat yang hidup di lingkungan teknologi) adalah menjadi keduanya, memiliki tato dan berpendidikan. Adalah stigma sosial yang merundungi kedua keadaan tersebut yang saya anggap sebagai ‘kesulitan’ itu.

(more…)