Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Anak Beasiswa Tidak Boleh Kritik Pemerintah!

Akhir-akhir ini, pembicaraan tentang mahasiswa penerima beasiswa dari negara memang hampir tidak pernah luput dari ruang-ruang diskusi. Beberapa bulan lalu, media sosial hangat dengan kabar penerima beasiswa yang hanya menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan, dan telah saya bahas di tulisan sebelumnya. Sampai yang sekarang saya dengar sendiri adalah sinisme terhadap penerima beasiswa yang ‘suka’ menulis atau menyampaikan kritik kepada pemerintah. Jika pada kasus pertama saya tidak merasa emosional karena memang tidak pernah jalan-jalan dengan uang beasiswa, namun untuk kabar yang sekarang ini, saya cukup tersentil.

(more…)

Stigmatisasi yang (Sepertinya) Akan Berulang

 

Saya tidak merasa cukup ahli secara pengetahuan dan kemampuan untuk ikut-ikutan berdebat dalam lingkup hukum sehubungan tentang Perppu nomor 2 tahun 2017 yang sedang panas-panasnya diperbincangkan. Di saat yang sama, dengan adanya tulisan ini, saya juga berharap para aktivis yang semestinya bisa lebih cerdas menghadapi suatu fenomena, mulai berpikir lagi untuk saling menyerang dan menjatuhkan dengan istilah-istilah seperti ‘sok kiri’ atau ‘sok kanan’. Saya hanya akan membahas isu ini dengan sederhana, menyentuh hal-hal yang lebih membumi yang mungkin juga terlewat dari pertimbangan mereka yang bekerja di istana kekuasaan.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 2 – Tamat)

Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 1-bersambung)

Saat ini saya sedang menunggu terbitnya cetakan kedua Buku Harian Keluarga Kiri untuk meneruskan keinginan saya untuk berbagi cerita pengalaman yang dialami oleh keluarga kami yang dianggap kiri, terutama kakek yang pernah dibuang ke Pulau Buru, juga kehidupan yang dijalani oleh nenek, ibu dan saudari-saudarinya di Malang yang ditinggal oleh kepala keluarganya. Saya sempat menyampaikan di buku tersebut bahwa sebenarnya bukan hanya kakek yang pernah menjadi tapol Orde Baru, namun juga paman saya.

(more…)

Follow Us