Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Hilang

Sejumlah orang di kalangan masyarakat Indonesia menyimpan luka mendalam terkait sejumlah peristiwa yang pernah terjadi saat rezim Orde Baru berkuasa. Salah satunya adalah kawan saya di Malang yang sempat menceritakan kegundahan hati dan rasa penasaran dalam benaknya setelah mengetahui dari orang tuanya bahwa kakeknya tidak pernah kembali semenjak suatu malam di akhir tahun 1965. Kakek dari kawan saya tersebut tentu saja hanya salah satu dari sejumlah orang yang hilang (baca: dihilangkan) di tangan rezim Orde Baru.

(more…)

Prabowo, Kopassus dan Timor Timur: Sejarah Tersembunyi dari Perang Non Konvensional Modern Indonesia

Oleh: Ingo Wandelt
Alih Bahasa: Dhianita Kusuma Pertiwi dan Giovani Fabiano

Kekerasan milisi yang terjadi pada masa referendum kemerdekaan Timor Timur pada Agustus 1999 telah direncanakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahkan semenjak April 1999, saat sekelompok preman pertama kali muncul di media internasional. Upaya untuk mencari jejak organisasi tersebut dimulai semenjak tahun 1998, sebelum gagasan referendum dikeluarkan oleh Presiden Jusuf Habibie pada Januari 1999. Bentuk milisi yang baru dirancang pada awal 1990-an dan memiliki keterkaitan dengan nama Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Jenderal Komando Pasukan Khusus, Kopassus, yang merupakan menantu dari diktator dan penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto. Kapan tepatnya Prabowo memperkenalkan untuk pertama kali gagasannya tentang bentuk milisi baru ini di depan khalayak?

(more…)

Menjual Asa, Menebar Tagar

Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

(more…)

Utopia Kebebasan Ekspresi di Indonesia Mendatang



Mendekati hari yang digadang-gadangkan sebagai perayaan kemerdekaan negara Indonesia, publik dibuat tercengang dengan berita tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga di Pemilu raya tahun depan. Paling tidak hal tersebut terbaca dari komentar-komentar masyarakat di media sosial terkait pasangan Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno yang menunjukkan kebingungan untuk memilih di antara kedua pasangan calon pemimpin pusat tersebut.

(more…)

Posisi Karya Sastra di Tengah Perpolitikan Indonesia



Memang perlu diakui keputusan saya untuk menyampaikan tulisan ini masih berhubungan dengan permasalahan yang muncul terkait puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Saya tidak akan membahas apakah puisi tersebut bisa dikatakan menghina atau memojokkan salah satu pihak. Juga tidak akan mengatakan perlu atau tidak sebenarnya Sukmawati meminta maaf kepada publik. Tulisan ini juga berkaitan dengan hebohnya berita Indonesia akan bubar pada 2030 seperti pernyataan Prabowo yang ternyata dikutip dari novel Ghost Fleet.

(more…)

Follow Us