Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Merunut Perjalanan Sosialisme

Bagi mahasiswa ilmu sosial dan humaniora, istilah ‘sosialisme’ bukanlah suatu hal yang asing, bahkan menjadi bagian dari kehidupan akademis mereka. Beberapa bahkan mengamininya sebagai ideologi yang pantas diterapkan di masyarakat dan mengeluarkannya dari buku-buku teks. Di saat yang sama, Indonesia memiliki sejarah tersendiri dalam memaknai, menerima, dan menolak keberadaan sosialisme. Dalam tulisan ini saya tidak akan menggiring pembaca kepada satu ideologi tertentu, mentahbiskan dogma-dogma agar dipercayai mentah-mentah, namun saya hanya akan menuliskan narasi perjalanan sosialisme dari awal terbentuknya hingga saat ini.

(more…)

Munir yang Menelanjangi Militer

Kita sebagai warga Indonesia boleh saja berbangga diri menjadi bagian dari sebuah negara yang mendasarkan prinsip kebangsaannya pada Pancasila, falsafah yang mengedepankan pencapaian persatuan bangsa, kemakmuran dan keadilan sosial yang dicita-citakan melalui cara-cara yang beradab dan tidak melanggar hak azasi manusia. Namun di sisi lain, kita perlu melihat ke belakang sejenak untuk berkaca pada sejarah modern Indonesia yang ternyata cukup jauh dari konsep Pancasila itu sendiri, dipenuhi oleh tindakan ofensif dan opresif aparat militer pada masyarakat sipil.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eksil

Pilihan apa yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang dituduh termasuk dalam golongan kiri oleh rezim Orde Baru? Bisa dibilang cukup banyak, dan semuanya bukanlah pilihan yang menyenangkan. Antara dipenjara, dieksekusi, disiksa, atau dibuang. Rezim Orde Baru punya dua tempat pembuangan bagi para tapol di dalam negeri, yakni Pulau Buru untuk tahanan laki-laki dan Kamp Plantungan untuk tahanan perempuan. Naasnya kehidupan mereka selama menjadi tapol telah banyak dijadikan bahan tulisan setelah kekuasaan Orde Baru runtuh. Namun ada kisah pembuangan lain yang kurang tersentuh, yakni kehidupan para eksil.

(more…)

Masih Perlukah Membaca The Communist Manifesto?

Anggaplah Marx memiliki sebuah mimpi utopis yang rasa-rasanya semakin sulit terwujud di abad ke-21 di mana komoditas menjadi semakin lebih penting daripada harga diri dan hampir segala aspek kehidupan manusia menjadi barang dagangan, mulai anggota tubuh sampai agama. Fenomena ‘kebangkitan’ wacana-wacana Marxisme dan sosialisme di Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru mungkin bisa dianggap sebagai suatu langkah maju, walaupun tidak bisa dikatakan mampu mengubah kondisi masyarakat sekarang ini. Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan terkait apakah masih penting membaca tulisan-tulisan Marx termasuk The Communist Manifesto di era postmodern seperti sekarang ini.

(more…)

Membunuh Marx Berkali-Kali

Jika saya diberi sebuah kesempatan untuk bisa menjelajah ke masa lalu dan memilih satu kejadian untuk dialami, maka saya akan memilih upacara kematian Marx pada bulan Maret 1883 di pemakaman Highgate, London, agar menambah jumlah pelayat menjadi 12 orang. Mungkin akan sulit untuk dipercaya bagaimana Marx yang pemikirannya menyebar ke seluruh dunia tidak mendapatkan penghormatan terakhir yang meriah, apalagi jika dibandingkan dengan fenomena arakan karangan bunga yang khas di antara tokoh-tokoh berpengaruh di masa sekarang.

(more…)

Bolehkah Kita Dendam pada Negara?

Kaum nasionalis mungkin akan menjawab dengan lantang pertanyaan itu, “tidak!”, dan tulisan ini akan diberangus karena dianggap melanggar etika dan azas cinta tanah air dan bangsa. Bahkan pemerintahan feudal akan menyuruh saya mencium kaki raja atas pertanyaan sederhana itu. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita yang bersifat republik dan -katanya- berazas demokrasi ini? Salahkah jika kita punya dendam?

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 1-bersambung)

Saat ini saya sedang menunggu terbitnya cetakan kedua Buku Harian Keluarga Kiri untuk meneruskan keinginan saya untuk berbagi cerita pengalaman yang dialami oleh keluarga kami yang dianggap kiri, terutama kakek yang pernah dibuang ke Pulau Buru, juga kehidupan yang dijalani oleh nenek, ibu dan saudari-saudarinya di Malang yang ditinggal oleh kepala keluarganya. Saya sempat menyampaikan di buku tersebut bahwa sebenarnya bukan hanya kakek yang pernah menjadi tapol Orde Baru, namun juga paman saya.

(more…)

Hukum Umum Dialektik (Satu:Kesatuan dari Segi-Segi yang Berlawanan)

Hukum dialektika merupakan hukum-hukum yang menguasai gerak dan dunia kenyataan obyektif (materiil). Perlu diketahui bahwa gerak dan perkembangan dunia kenyataan obyektif itu bukan digerakkan oleh sesuatu kekuatan yang ada di luarnya, dan bentuk geraknya tidak terbatas pada gerakan mekanis saja, melainkan digerakkan oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri, misalnya segala macam gerak alam pikiran kita. Oleh karena itu, hukum-hukum dialektika adalah hal yang obyektif, artinya baik kita menyadari atau tidak, hukum-hukum tersebut ada dan tetap berlaku.

(more…)

Sukarno yang Dibuang Secara Ideologi

Sepanjang perjalanan saya sebagai seorang siswa, tidak pernah ingat ada seorang pengajar, atau sebuah buku teks sekolah resmi yang mau membahas tentang pemikir-pemikir komunis dan sosialis Indonesia. Padahal saya adalah anak kelahiran 90-an yang tidak sempat merasakan kurikulum bentukan pemerintah Orde Baru yang anti komunis, namun di saat yang sama saya tidak pernah merasakan ada perhatian atau keterbukaan pada isme tersebut. Menurut saya ini adalah praktik ‘pembuangan secara ideologi’ yang pengaruhnya jauh lebih besar daripada pemenjaraan tubuh seorang figur. (more…)

Follow Us