Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Islam+Komunis: Apa yang Ada dalam Kepala Tan Malaka?*

Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897, namun tidak ada perayaan hari ulang tahunnya di setiap tanggal 2 Juni. Tentu saja ada kepentingan politik dan propaganda yang menyebabkan ia tersingkir dari daftar orang-orang penting yang hari lahirnya perlu dirayakan, walaupun pemikiran yang dituangkan dan perjuangan yang digerakkan mungkin lebih dari pahlawan-pahlawan yang diperkenalkan di sekolah selama ini.

(more…)

Evolusi Drama dan Pengaruhnya pada Penilaian Pertunjukan (Bagian 1-bersambung)

Siapa pun yang pernah terjun ke panggung teater, atau menjadi penikmat pertunjukan teater, pasti memiliki penilaian atas bagaimana suatu pertunjukan bisa dianggap bagus, baik dalam hal artistik seperti keaktoran maupun kepanggungan dan produksi. Salah satu hal yang paling sering kita kenal sebagai generasi sineas panggung teater sebagai pertanda bahwa suatu pertunjukan itu bagus dan patut dipuji adalah berkaitan dengan ‘natural’.

(more…)

(Tuduhan) Penistaan Agama adalah Tradisi Turunan

Saya memang bukan salah satu pendukung Ahok yang ikut bernyanyi lagu nasional di Balai Kota DKI Jakarta, dan juga bukan personil Aksi Bela yang sudah masuk jilid kesekian. Karena itulah saya merasa tidak pantas untuk membahas kasus Ahok dalam ranah hukum, melemparkan pasal-pasal atau memberikan tuduhan baru pada pihak-pihak lain. Saya hanya ingin menyadarkan pembaca bahwa (tuduhan) penistaan agama -menurut hemat saya- merupakan tradisi turunan yang sudah lama terjadi, sama tuanya dengan kemunculan agama-agama itu sendiri secara sistem.

(more…)

Bagaimana Hari Buruh Lahir?

Perlu dipahami bahwa sejarah Hari Buruh berkaitan erat dengan gerakan sosialisme, komunisme, dan anarkisme yang berkawan dengan persatuan buruh di Eropa dan Amerika. Sehingga harusnya nilai-nilai paham tersebut tidak dianggap musuh oleh kalangan buruh yang berdikari, berusaha mendapatkan nilai kemanusiaannya dengan berada di bawah tekanan pemilik modal dan mesin.

(more…)

Orde Baru dan Naturalisasi Tionghoa

Jika dianalisis dari kacamata sosial sejarah, masyarakat kita ini seakan tidak pernah berhenti dari penjajahan. Kita bisa membaca kisah seorang Minke yang dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer atau cerita percintaan Hanafi dan Corrie di pembuka Salah Asuhan tentang perbedaan kelas sosial yang memisahkan kaum ‘barat’ dengan kaum ‘pribumi’. Pada masa kolonial itu dikenal sebutan atau julukan berkonotasi negatif untuk merujuk inferioritas orang-orang asli kelahiran Indonesia, yakni ‘dasar inlander!’

(more…)

Tradisi ‘Ngopi’ Sebelum ‘Wi-fi’

Kita, mulai dari kalangan mahasiswa sampai pekerja kantoran, sekarang semakin tidak asing dengan ajakan “ayo ngopi” yang memiliki makna beragam, mulai benar-benar minum kopi bersama handai taulan, atau memilih menu minuman lain sambil bercengkerama dengan teman, namun intinya sama; kalau boleh menggolongkan ‘ngopi’ sebagai kata kerja, adalah suatu tindakan berkumpul bersama di kedai kopi bersama beberapa orang (baik sudah masuk dalam lingkungan pertemanan maupun belum) sambil menikmati hidangan yang sesuai selera masing-masing.

(more…)

Belajar Membaca dan Merasa Melalui Literasi

Judul Buku: Cahaya Mata Sang Pewaris: Kisah Nyata Anak-Cucu Tragedi ’65

Penulis: Putu Oka Sukanta (ed.), Astuti Ananta Toer, Awal, Dhianita Kusuma Pertiwi, Efdi, Fidellia Dayatoen, Gita Laras, Gusti, I Wayan Willyana, Ieda Fitriani, IGP Wiranegara, Karina Arifin, Konrad Penlaana, Pdt., Mado, Nasti Rukmawati, Ni Wayan Sinten Astiti, Nurhasanah, Phoa Bing Hauw, Putranda, Siauw Tiong Djin, Soe Tjen Marching, Sono, Syafrina Alam Sitompoel, Tuti Martoyo, Uchikowati, Wangi Indria

Penerbit: Ultimus Bandung

Tahun: 2016

Jumlah halaman: 411

(more…)

Follow Us