Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Hilang

Sejumlah orang di kalangan masyarakat Indonesia menyimpan luka mendalam terkait sejumlah peristiwa yang pernah terjadi saat rezim Orde Baru berkuasa. Salah satunya adalah kawan saya di Malang yang sempat menceritakan kegundahan hati dan rasa penasaran dalam benaknya setelah mengetahui dari orang tuanya bahwa kakeknya tidak pernah kembali semenjak suatu malam di akhir tahun 1965. Kakek dari kawan saya tersebut tentu saja hanya salah satu dari sejumlah orang yang hilang (baca: dihilangkan) di tangan rezim Orde Baru.

(more…)

Kerja Sama Menghancurkan Sukarno

Kematian Sukarno pernah menjadi sebuah momen penting dalam narasi sejarah Indonesia, baik sejarah sosial maupun politik. Beberapa anggota keluarga saya termasuk di antara orang-orang yang berjejal di pinggir jalan yang dilewati oleh mobil pembawa jenazah Sukarno ke Blitar. Sukarno pernah menjadi sebuah diskursus yang diagungkan, dipertentangkan, dan coba dihancurkan. Upaya penghancuran tersebut melibatkan tidak hanya kelompok militer di Indonesia, namun juga sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Golkar

Pemerintahan Orde Baru dikenal mampu bertahan selama lebih dari tiga dekade karena berjayanya Golongan Rakyat sebagai partai politik yang mengusung Suharto dan sejumlah kroninya. Pertama kali didirikan sebagai sebuah kesekretariatan (Sekretariat Bersama Golongan Karya) pada tahun 1964 dan berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk pertama kalinya pada 1971, Golkar kemudian terbukti menjadi salah satu partai politik yang paling besar di Indonesia sampai hari ini.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Gestapu

Serumit narasi sejarah yang meliputi peristiwanya, istilah yang dibuat untuk merujuk peristiwa berdarah di September 1965 pun tidak bisa dibilang sederhana. Kita mungkin familiar dengan sejumlah istilah, seperti G30S/PKI, G30S, Gestok, dan juga Gestapu. Agaknya cukup penting untuk memahami sejumlah istilah tersebut, karena beberapa di antaranya diciptakan dengan kepentingan tertentu oleh pihak-pihak tertentu.

(more…)

Negara (Masih) Mengukuhkan Kecemasan Massal

Bagi beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, memasuki bulan September di setiap tahun terasa lebih menarik daripada perayaan kemerdekaan pada bulan sebelumnya. Jika pencapaian kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945 telah dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu, bahkan mungkin tidak bisa dipertentangkan lagi; hal yang berbeda terjadi dengan narasi tentang peristiwa malam 30 September 1965. Jika kita mau membuka mata lebih lebar dan menyadari riak-riak yang bergerak di tengah-tengah masyarakat, maka akan ditemukan begitu banyak paradoks.

(more…)

Kegarangan (Pemuda) Pancasila

Saya pertama kali mengetahui nama organisasi Pemuda Pancasila saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya saat melihat beberapa orang berpakaian seragam doreng oranye berjalan di depan rumah kakek saya. Awalnya saya berpikir mereka anggota dari unit kelompok angkatan bersenjata, mengingat corak seragam yang mereka pakai. Setelah bertanya pada ibu saya, ternyata mereka adalah anggota kelompok Pemuda Pancasila dengan semua rekam jejak yang cenderung menyeramkan.

(more…)

Reformasi yang Hanya di Permukaan

Hari ini dianggap sebagai momentum 20 tahun berjayanya pemerintahan Reformasi yang menggantikan rezim Orde Baru, yang ditandai dengan pernyataan pengunduran diri Suharto sebagai presiden kedua Indonesia. Pada saat itu, Reformasi menjadi sebuah mimpi besar yang ingin dicapai oleh para demonstran yang menyatakan mewakili rakyat Indonesia yang sudah muak dengan keserakahan para pemegang kekuasaan di era Orde Baru. Dan apakah selama dua dekade yang mengikuti turunnya Suharto dari kursi kepresidenan tersebut menandai tercapainya mimpi besar Reformasi?

(more…)

Tragedi 65-66 = McCarthyism a la Orde Baru

Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eksil

Pilihan apa yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang dituduh termasuk dalam golongan kiri oleh rezim Orde Baru? Bisa dibilang cukup banyak, dan semuanya bukanlah pilihan yang menyenangkan. Antara dipenjara, dieksekusi, disiksa, atau dibuang. Rezim Orde Baru punya dua tempat pembuangan bagi para tapol di dalam negeri, yakni Pulau Buru untuk tahanan laki-laki dan Kamp Plantungan untuk tahanan perempuan. Naasnya kehidupan mereka selama menjadi tapol telah banyak dijadikan bahan tulisan setelah kekuasaan Orde Baru runtuh. Namun ada kisah pembuangan lain yang kurang tersentuh, yakni kehidupan para eksil.

(more…)

Bolehkah Kita Dendam pada Negara?

Kaum nasionalis mungkin akan menjawab dengan lantang pertanyaan itu, “tidak!”, dan tulisan ini akan diberangus karena dianggap melanggar etika dan azas cinta tanah air dan bangsa. Bahkan pemerintahan feudal akan menyuruh saya mencium kaki raja atas pertanyaan sederhana itu. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita yang bersifat republik dan -katanya- berazas demokrasi ini? Salahkah jika kita punya dendam?

(more…)

Follow Us