Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Tragedi 65-66 = McCarthyism a la Orde Baru

Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

(more…)

Menelisik Sepi Kisah Eksil

Judul: Menagerie 6

Penulis: A. Kembara, A. Kohar Ibrahim, Agam Wispi, Alan Hogeland, Asahan Alham, Astama, Bachtiar Siagian, Chalid Hamid, Dewa Ngurah Jenawi, Haryo Sasongko, J. Sura, Kuslan Budiman, Kusnah, Magusig O. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana, Pramoedya Ananta Toer, Rondang Erlina Marpaung, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodiharjo, W. Sutarto, Z. Afif.

Tahun: 2004

Penerbit: Lontar

Jumlah Halaman: 246

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eks-Tapol

Istilah eks-tapol di Indonesia merujuk pada sekian ratus orang yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Orde Baru karena tuduhan samar. Saya bisa mengatakannya sebagai tuduhan samar karena memang sedikit sekali atau hampir tidak ada bukti orang-orang yang dijadikan tahanan politik itu terlibat dengan G30S. Setelah menjadi tahanan, status mereka berubah menjadi eks-tapol, dengan kehidupannya sendiri yang tidak bisa dibilang mudah.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Dibon

Istilah ‘dibon’ memang bukan merupakan satu kata utuh, melainkan terdiri dari awalan ‘di-‘ dan kata utamanya adalah ‘bon’. Bon dalam penggunaan sehari-harinya pun memiliki beberapa pengertian, terutama dalam bidang ekonomi. Pertama bon dimaknai sebagai kertas yang digunakan sebagai bukti pembayaran atas suatu komoditas yang telah diperdagangkan. Kedua, juga diartikan sebagai hutang atas komoditas yang dibeli. Biasanya penjual warung-warung kecil tidak keberatan jika tetangganya ‘ngebon’ dulu saat membeli barang dagangan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Ciduk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciduk merujuk pada benda untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa atau bahan lain yang bertangkai. Kita pun mengenal benda yang dipakai setiap hari ini dengan istilah yang beragam menurut bahasa daerah. Bahkan pada Bahasa Jawa saja, ada lebih dari satu istilah, seperti cibuk dan siwur. Tetapi sejatinya artikel ini tidak akan membahas etimologi kata ciduk secara linguistik. Yang akan dibahas adalah penggunaan kata ‘ciduk’ yang sempat menjadi salah satu istilah hits semasa rezim Orde Baru.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 2 – Tamat)

Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 1-bersambung)

Saat ini saya sedang menunggu terbitnya cetakan kedua Buku Harian Keluarga Kiri untuk meneruskan keinginan saya untuk berbagi cerita pengalaman yang dialami oleh keluarga kami yang dianggap kiri, terutama kakek yang pernah dibuang ke Pulau Buru, juga kehidupan yang dijalani oleh nenek, ibu dan saudari-saudarinya di Malang yang ditinggal oleh kepala keluarganya. Saya sempat menyampaikan di buku tersebut bahwa sebenarnya bukan hanya kakek yang pernah menjadi tapol Orde Baru, namun juga paman saya.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Bersih Diri

Rezim Orde Baru pernah membentuk suatu klasifikasi untuk membagi (baca: memecah belah) warga negara Indonesia menurut penilaian yang mereka bentuk sendiri, dinamai dengan ‘bersih diri’. Masyarakat yang tidak bersih diri adalah mereka yang kekiri-kirian sehingga tidak Pancasilais dan tidak nasionalis. Sedangkan di sisi lain, mau sekorup apapun selama tidak ada hubungannya dengan komunisme pun dianggap bersih.

(more…)

Follow Us