Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Gerwani

Selama rezim Orde Baru berjaya, propaganda anti-komunis merupakan salah satu program yang diutamakan. Propaganda ini dilakukan dengan memberikan tuduhan tak berdasar kepada beberapa organisasi yang dianggap berhubungan dengan paham komunis. Selain PKI, beberapa organisasi lain yang merupakan underbow partai tersebut, termasuk Gerwani.

(more…)

Mengenal Orde Baru: G30S

Lebih dari lima dekade dari peristiwa berdarah 30 September 1965, sampai hari ini masih saja banyak kontroversi yang berkembang. Mulai dari siapa yang melakukannya, siapa yang menjadi korban, dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada beberapa tahun setelah hari itu. Kejadian sejarah ini tentu tidak bisa dianggap sebagai hal yang sepele, karena momen ini bisa dianggap seperti sebuah palang besar yang terbuka.

(more…)

Tragedi 65-66 = McCarthyism a la Orde Baru

Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

(more…)

Mengenal Orde Baru: ET

Ada potongan yang menarik dalam wacana sejarah modern Indonesia, yakni dengan kemunculan gagasan para petinggi negara untuk menciptakan label tertentu bagi lapisan masyarakat tertentu. Lapisan masyarakat yang ‘terpilih’ itu adalah para eks-tapol yang dilepaskan dari tahanan pada periode tahun 1977-1979. Label tersebut singkat namun mudah diingat dan mudah untuk ditemukan, yakni ‘ET’.
(more…)

Menelisik Sepi Kisah Eksil

Judul: Menagerie 6

Penulis: A. Kembara, A. Kohar Ibrahim, Agam Wispi, Alan Hogeland, Asahan Alham, Astama, Bachtiar Siagian, Chalid Hamid, Dewa Ngurah Jenawi, Haryo Sasongko, J. Sura, Kuslan Budiman, Kusnah, Magusig O. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana, Pramoedya Ananta Toer, Rondang Erlina Marpaung, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodiharjo, W. Sutarto, Z. Afif.

Tahun: 2004

Penerbit: Lontar

Jumlah Halaman: 246

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eks-Tapol

Istilah eks-tapol di Indonesia merujuk pada sekian ratus orang yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Orde Baru karena tuduhan samar. Saya bisa mengatakannya sebagai tuduhan samar karena memang sedikit sekali atau hampir tidak ada bukti orang-orang yang dijadikan tahanan politik itu terlibat dengan G30S. Setelah menjadi tahanan, status mereka berubah menjadi eks-tapol, dengan kehidupannya sendiri yang tidak bisa dibilang mudah.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Dibon

Istilah ‘dibon’ memang bukan merupakan satu kata utuh, melainkan terdiri dari awalan ‘di-‘ dan kata utamanya adalah ‘bon’. Bon dalam penggunaan sehari-harinya pun memiliki beberapa pengertian, terutama dalam bidang ekonomi. Pertama bon dimaknai sebagai kertas yang digunakan sebagai bukti pembayaran atas suatu komoditas yang telah diperdagangkan. Kedua, juga diartikan sebagai hutang atas komoditas yang dibeli. Biasanya penjual warung-warung kecil tidak keberatan jika tetangganya ‘ngebon’ dulu saat membeli barang dagangan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Ciduk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciduk merujuk pada benda untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa atau bahan lain yang bertangkai. Kita pun mengenal benda yang dipakai setiap hari ini dengan istilah yang beragam menurut bahasa daerah. Bahkan pada Bahasa Jawa saja, ada lebih dari satu istilah, seperti cibuk dan siwur. Tetapi sejatinya artikel ini tidak akan membahas etimologi kata ciduk secara linguistik. Yang akan dibahas adalah penggunaan kata ‘ciduk’ yang sempat menjadi salah satu istilah hits semasa rezim Orde Baru.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 2 – Tamat)

Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati.

(more…)