Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Dibon

Istilah ‘dibon’ memang bukan merupakan satu kata utuh, melainkan terdiri dari awalan ‘di-‘ dan kata utamanya adalah ‘bon’. Bon dalam penggunaan sehari-harinya pun memiliki beberapa pengertian, terutama dalam bidang ekonomi. Pertama bon dimaknai sebagai kertas yang digunakan sebagai bukti pembayaran atas suatu komoditas yang telah diperdagangkan. Kedua, juga diartikan sebagai hutang atas komoditas yang dibeli. Biasanya penjual warung-warung kecil tidak keberatan jika tetangganya ‘ngebon’ dulu saat membeli barang dagangan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Ciduk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciduk merujuk pada benda untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa atau bahan lain yang bertangkai. Kita pun mengenal benda yang dipakai setiap hari ini dengan istilah yang beragam menurut bahasa daerah. Bahkan pada Bahasa Jawa saja, ada lebih dari satu istilah, seperti cibuk dan siwur. Tetapi sejatinya artikel ini tidak akan membahas etimologi kata ciduk secara linguistik. Yang akan dibahas adalah penggunaan kata ‘ciduk’ yang sempat menjadi salah satu istilah hits semasa rezim Orde Baru.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 2 – Tamat)

Paman saya mendekam di penjara itu selama beberapa bulan sampai akhirnya pertolongan datang untuknya. Seorang kawan yang berprofesi sebagai tentara mau membantu menebus paman saya dengan satu syarat.

Namanya harus dicoret merah, yang berarti ia ‘dibunuh secara administratif’.

Persetujuan tercapai, nama paman saya, Matali, dicoret merah di atas kertas bertuliskan nama-nama tahanan politik penjara Lowokwaru. Matali sudah mati.

(more…)

Menjadi Cucu dan Keponakan Tapol Orba (Bagian 1-bersambung)

Saat ini saya sedang menunggu terbitnya cetakan kedua Buku Harian Keluarga Kiri untuk meneruskan keinginan saya untuk berbagi cerita pengalaman yang dialami oleh keluarga kami yang dianggap kiri, terutama kakek yang pernah dibuang ke Pulau Buru, juga kehidupan yang dijalani oleh nenek, ibu dan saudari-saudarinya di Malang yang ditinggal oleh kepala keluarganya. Saya sempat menyampaikan di buku tersebut bahwa sebenarnya bukan hanya kakek yang pernah menjadi tapol Orde Baru, namun juga paman saya.

(more…)

Follow Us